
Hari ini Rani ikut ke kota bersama beberapa para pekerja pemetik teh lainnya. Rani berani ikut berangkat ke kota, karena temannya Tya juga pergi kesana. Mereka juga tak akan lama di kota hanya sekitar dua harian saja.
"Sudah siap nak?" tanya bu Tini.
"Sudah buk, aku berangkat ya pak bu. Kalian jaga kesehatan disini, aku cuma dua hari saja di kota," kata Rani.
"Iya nak, bapak berdoa agar disana ada orang yang mengenal mu dan kamu cepat bertemu keluarga mu," ucap pak Tono, merasakan kesedihan. Ia tak tahu bagaimana jika Rani benaran bertemu keluarganya dan mereka akan berpisah selamanya.
"Aku juga sangat berharap bisa berkumpul bersama keluarga ku pak. Tapi mau gimana aku tidak bisa mengingat apapun tentang mereka," lirih Rani merasa sedih dengan dirinya yang belum bisa mengingat apapun.
"Jangan pantang menyerah nak, tetap berdoa. Meminta pada gusti allah, ibu yakin kami pasti akan dipertemukan dan mengingat kembali." Ibu Tini memeluk Rani mengusap punggungnya.
Rani menguraikan pelukan mereka, wanita itu tersenyum pada ibu Tini. "Kalau begitu aku pamit ya pak buk..."
Rani menyalami kedua orangtua paru baya yang baik hati padanya dan ia juga mengucapkan salam. Rani menuju jalan besar dimana mobil yang akan membawa mereka kesana sudah menunggu.
Mereka akan naik mobil pick up yang beratap. Rani duduk berdekatan dengan Tya. Mobil pun berangkat saat semua orang sudah lengkap, yang akan pergi ke kota ada sekitar lima enam orang pekerja termasuk Rani sendiri.
"Ran, ini ketiga kalinya aku pergi ke kota," ujar Tya bercerita.
"Menurut mu susana kota itu gimana?" Tanya Rani menatap temannya dan meminta pendapatnya.
"Gimana ya, aku juga bingung mau memapaparkannya. Sebenarnya hidup di kota itu enak, bisa jalan-jalan ke mall, mau tiap hari pun asal ada uang. Tapi balik lagi disana kehidupannya sangat keras, jika kita lemah maka kita akan gampang ditindas atau diinjak-injak oleh orang yang jahat sama kita... Itu aja sih, satu lagi aku pengen sih hidup di kota. Tapi apalah daya uang ku hanya cukup untuk memenuhi kehidupan ku di desa saja," kata Tya dihiasi senyuman.
Rani menepuk bahu temannya, "Intinya di syukuri saja kenidupan ini, entah suatu saat nanti kamu bakalan bisa mewujudkam impian mu. Aku selalu doain yang terbaik buat kamu Tya..."
"Makasih Rani, kamu memang teman yang terbaik pernah aku dapatkan. Aku juga berdoa agar ingatan mu cepat kembali," kata Tya.
"Kok boss tahu sih kamh pintar masak ran?"
"Aku juga gatau Tya, mungkin aja tau dari pekerja lainnya..."
"Ouh iya aku baru ingat, kamu kan sering bawa makan siang ke kebun teh. Beberapa pekerja juga kamu ajak makan, termasuk aku juga..."
Mereka terus berjalan mencari sayuran yang di butuhkan. Sesekali kedua perempuan terebut juga menawar-nawar harganya. Tiba-tiba sekilas Rani memdengar suara terikan dari arah belakang.
"MOMMY!!!"
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasihđź’“