
"Morning honey," sapaan itu menyambut ketika aku membuka mata.
"Mas," panggil Khanza pada suaminya dengan wajah khas orang bangun tidur.
Antonio membantu Khanza agar terduduk dengan nyaman. Menaikan sedikit ranjang pasien agar bisa menyandar. Antonio mencelupkan handuk kecil bersih ke dalam air dan memerasnya, lalu mengarahkan pada wajah istrinya untuk menyekanya, tidak hanya di area wajah saja yang di seka bagian lengan dan kaki, hingga selesai.
Khanza memberikan senyuman dan mengecup pipi suaminya, "Makasih mas."
"Mas, ayo kita jenguk bayi kembar.. Aku udah ga sabar pengen lihat rupa mereka," kata Khanza tak sabaran, sangat antusias ingin melihat bayinya.
"Sabar sayang, kamu harus sarapan dulu agar memperlancar asi kamu, biar bisa diberikan pada si kembar. Di periksa juga, baru deh kita ke ruang perawatan bayi," tutur Antonio.
"Em, tapi-"
"Nurut ya honey, jangan membantah terus. Ini demi kebaikan kamu, memangnya kamu ngga pengen si kembar cepat keluar dari inkubator," ucap Antonio lembut sambil mengelus kepala istrinya.
Perkataan itu membuat hatinya berdesir, mengingat lembutnya tutur kata milik Antonio.
Tokk...tok
"Ya masuk," seru Antonio menyuruh masuk.
Salah satu bodyguard pun masuk membawa berbagai makanan sehat untuk di konsumsi Khanza pagi ini.
"Ini tuan, makanan yang anda minta."
"Hmm, ya."
Setelah memgantarnya bodyguard tersebut langsung pamit keluar.
"Mas, biasakan kalau ada orang yang udah baik membantu kita, ucapkan terimakasih gitu. Apa susahnya sih ngucapkan itu, jangan 'hmm ya' ngga baik mas," tegur Khanza mengomeli Antonio.
"Iya iya nanti mas biasakan," ujar Antonio.
"Awas.. Jangan iya iya aja kalau ngga di lakuin, sekali aku liat mas kaya' gitu liat aja," ancamnya.
'CUP'
Antonio mengecup bibir istrinya agar berhenti mengomel, "Udah diam ya, sekarang waktunya sarapan," lanjutnya.
Mau tidak mau Khanza diam dan menurutinya. Antonio menyuapi Khanza dengan telaten dan pelan-pelan agar tak terlalu terburu-buru. Tetapi tidak dengan Khanza yang ingin mengeluh tapi di tahan.
"Mas, aku mau buah pir dong..."
"Bentar, mas kupasin..."
Antonio mengupaskan buah pir untuk istrinya, lalu memotong kecil, memudahkan untuk di gigit istrinya. Ia pun menyerahkan buah pir itu pada istrinya...
"Mas, kapan Vinno ke kamar rawat periksa akunya. Pengen cepat mas," protes Khanza, mencari batang hidung Vinno yang belum masuk juga ke kamar rawatnya. Ia menunggui dengan gelisah dan pasti tak sabar.
Antonio hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang benar-benar seperti cacing, tak bisa diam sedikitipun. Sedari menanyakan kapan dan ingin cepat-cepat.
Tidak berapa lama kemudian, Vinno pun masuk dengan alat stetoskop di lehernya.
"Maaf terlambat, lagi banyak pasien," ujar Vinno.
Khanza mendelik kearah Vinno dengan kesalnya, "Lama bangat sih kak, orang di tungguin juga. Aku tuh pengen cepat-cepat lihat si kembar tau," dumelnya.
Vinno malah memberikan tatapan bertanya pada Antonio. Karna ini pertama kalinya dia melihat tingkah cerewet dari Khanza. Bukannya menjawab Antonio malah menghendikan bahunya.
"Sabar dek," sahut Vinno mendekati dan segera melakukan pemeriksaan sebelum Khanza mengomel kembali.
Walaupun sebenarnya Vinno adalah adik iparnya, tapi karna Vinno jauh di atasnya. Makanya Khanza memanggil Vinno dengan sebutan 'Kak'.
"Perkembangan kondisi mu mulai membaik, tetapi harus berada di rumah sakit selama 2 minggu lagi, untuk memantau dan memastikannya bahwa kondisi mu benar-benar kuat bisa pulang," jelas Vinno.
"Makasih kak," ucap Khanza dibalas Vinno dengan mengangkat tangan membentuk huruf 'O'
.
Antonio mendorong kursi roda Khanza menuju ruang perawatan bayi. Tadi setelah kepergian Vinno salah satu suster mengantar kursi roda.
Kini mereka telah berada di ruang perawatan bayi, di dalam sana sudah ada suster yang tengah menunggu mereka. Saat sudah berada di dalam mereka mendekati suster tersebut.
"Mari mba, saya bantu untuk pemberian asi eksklusif," ujar suster.
Khanza membalasnya mengangguk, karena dia tengah terpesona memandangi wajah putra-putranya yang tampan-tampan. Wajah keduanya sangat mirip dengan Antonio, bahkan dirinya hanya kebagian bibirnya saja yang mirip dengannya.
Dengan penuh ke hati-hatian suster mengeluarkan bayi yang pertama dari dalam inkubator dan menyerahkan ke pangkuan Khanza. Karena Khanza lupa melepas kancing bajunya, Antonio bergerak untuk membantunya mengeluarkannya mengarahkan pada si kecil begitu dengan yang satunya juga. Sebelum melakukan itu ruangan sudah di kunci jadi tidak akan ada sembarang orang yang bisa masuk.
Karena hisapan kedua bayinya membuatnya merasa kegelian, padahal hisapan si kembar sangat pelan tapi tetapi saja itu sangat terasa. Beginikah rasanya menjadi ibu dengan dua anak sekaligus dan harus menyusui secara bersamaan jika keduanya laparnya barengan.
"Apa mba merasa sedikit aneh menyusuinya?" tanya suster tersenyum geli.
"Sedikit sus," jawab Khanza.
"Itu wajar mba, karna ini pertama kali buat mba menjadi seorang ibu. Nanti juga mba akan terbiasa menyusuinya," ucap suster.
Dua puluh menit kemudian, waktu menyusuinya sudah selesai. Suster pun kembali membantu mengangkat bayi kembar dengan bergantian ke dalam inkubator.
"Sus, kapan kira-kira bayi saya bisa di bawa pulang?" tanya Khanza.
"Kira-kira dua minggu lagi, itupun masih kemungkinan mba. Karna kita harus memantau perkembangan si bayi, jika perkembangan pertumbuhannya sangat cepat, bisa di bawa pulang cepat. Jika belum bisa, maka kita harus menunggunya untuk benar-benar sudah bisa di bawa pulang," jelas suster dengan penuturan mudah di pahami.
"Ini masih tersisa beberapa menit lagi waktu jenguknya mba, jadi saya tinggal keluar dulu," ucap suster langsung keluar dari ruang perawatan bayi.
.
"Mas, kenapa mereka hanya mirip dengan ku di bibir saja. Seluruh wajah mereka mewarisi mu," protes Khanza.
"Ya bagus lah sayang mirip mas, berarti mereka tampan kan," sahut Antonio sekenanya.
"Iya sih bagus, tapi jangan sampai sifat mereka mirip kamu, aku ngga mau pokoknya anak kita punya sifat dingin+datar kaya' mas."
"Mas kan dingin sama datar sama orang lain aja, sama kamu ngga honey."
"Eum, mas kasih tahu nama anak kita. Aku penasaran."
"Iya honey.. Anak pertama kita mas beri nama Arcello Kiandra Horison yang artinya anak laki-laki hebat yang menjadi penghuni surga dan yang kedua Arsenio Giandra Horison yang artinya anak laki-laki gagah."
"Nama yang bagus dan arti yang baik mas. Makasih mas, aku suka dengan nama keduanya."
"Nanti kalau kamu hamil lagi, mas serahkan kamu saja yang memberi nama. Karna mas sudah memberikan nama untuk kedua anak pertama kita."
"Mas ihh, baru aja lahiran. Masa langsung ngomongin anak kedua, ngga sabaran banget sih suamiku."
"Mas mau pokoknya banyak-banyak anak," spontan ucapan Antonio membuat Khanza mencubit perut suaminya dan mereka pun tertawa bersama. Hingga waktu jenguk pun sudah habis dan sudah saatnya mereka keluar dan kembali ke kamar rawat.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓