My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 36



Di sekolah...


Khanza berjalan menyusuri lorong sekolah seperti biasa. Hari ini dia sedikit terlambat, karna tadi pagi sekali ia muntah-muntah lagi. Untunglah kemaren saat periksa di beri vitamin, jadi ia bisa meminum untuk mengurangi rasa mual itu.


Disekolah sudah terlihat begitu ramai dengan siswa/i yang berkeliaran. Entah, ini hanya perasaanya saja atau tidak. Semua siswa/i menatapnya sepanjang dirinya berjalan, seperti tatapan kasian dan menjijikkan.


Tetapi Khanza tetap tenang berjalan tanpa menundukkan kepalanya. Hampir sampai di tangga untuk menuju kelasnya. Khanza melihat sekumpulan siswa beramai-ramai melihat mading.


'Bruuk' Khanza hampir terjengkang oleh salah satu perempuan yang tidak sengaja menabrak bahunya, demi berlomba-lomba untuk melihat berita terbaru yang dipajang di mading.


"Apa kesana aja ya! Kok aku penasaran banget sama yang mereka lihat," gumannya pelan. Tidak bisa didengar oleh siapapun.


Rasa penasaran Khanza yang tinggi dan apalagi mereka masih menatapnya dari atas sampai bawah. Membuatnya tidak nyaman, seperti ada yang aneh dari mereka semua. Karna itu ia juga berjalan membelah kerumunam di manding. Masuk ke tengah-tengah mereka.


Setelah melihat itu. Khanza menutup mulutnya, melihat gambar dirinya dan hasil tes pemeriksaan yang membenarkan bahwa dirinya tengah mengandung. Siapa yang tega menyebarkan ini semua, perasaan ia tidak mempunyai musuh.


Dengan kasar Khanza menarik lima lembar kertas yang ditempel dan merobek-robeknya. Semua yang melihati menyorakin, membuatnya menutup kedua telinganya.


"Stop! Kalian apa-apaan sih. Sono, bubar semua," seru Leo berteriak kepada semuanya.


Menaiki beberapa tangga ingin menuju kelas, Leo berhenti sejenak karna melihat kerumunan di mading. Bukan itu sebenarnya dilihatnya, tapi yang menjadi objeknya adalah sahabatnya Khanza tengah berada dikerumunan itu. Dan di sorakin oleh semuanya, membuat Leo menuruni tangga kembali. Untuk menghentikan mereka.


Saat semuanya bubar, Khanza langsung berlari menuju taman sekolah. Leo menoleh kesamping dan tidak menemukan siapa pun.


"Lah, kemana lagi Khanza. Malah ngilang aja," ujar Leo, tidak ambil pusing. Ia kembali menaiki anak tangga satu persatu, untuk menuju kelasnya. Siapa tahu Khanza sudah berada dikelas. Tanpa mau menunggunya tadi.


.


.


Sekarang dirinya merasa sendiri. Biasanya bila dia menangis selalau ada Rhea. Bahkan sahabatnya itu tidak akan pernah membiarkan dirinya menangis sedikitpun. Rhea selalu bilang 'Sahabatku tidak boleh menangis setetespun, yang boleh hanya aku. Karna kalau Khanza yang nangis nanti Rhea ga bisa manja-manjain lagi' perkataan itu sangat menghibur bagi Khanza.


"Re, a-apa ka-mu seka...rang hiks, melu-pa-kanku," gumannya sesegukan masih menangis.


Mungkin sekarang sahabatnya tengah merasa bahagia. Karna impian untuk di perhatikan lagi oleh mommy nya akhirnya terwujud. Sekarang tinggal dirinya, menutupi kehamilan agar tidak diketahui siapapun. Ia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang atau merusak kebahagiaan yang tengah dirasakan sahabatnya.


"Untuk panggilan siswi bernama Khanza Almaira. Harap segera ke ruang kepala sekolah."


Toa sekolah bersuara memanggil namanya. Panggilan yang tidak ingin didengarnya sama sekali. Tapi mau atau tidak Khanza harus tetap kesana menyelesaikan yang memang menjadi masalahnya.


Hati Khanza berdegup kencang saat sudah berada tepat didepan pintu ruang kepala sekolah. Kemungkinan akan dikeluarkan dari sekolah itu pasti. Karna sangat memalukan bagi sekolah, jika masih mempertahankan siswi yang hamil.


***


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓