My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 99



Hari ini tepat kandungan Khanza memasuki usia tujuh bulan. Kini Khanza tengah berada di dapur menyeduh kopi untuk Antonio, kali ini wanita hamil besar itu sudah meminta ijin pada suaminya. Jadi dia tak akan di beri hukuman lagi.


"Sudah selesai neng nyeduh kopinya," ujar Bi Inahya.


"Iya bi, ini baru saja selesai," sahut Khanza.


"Sini neng biar bibi bantu bawakan ke meja makan," Bi Inahya menawarkan bantuan untuk membawanya.


Khanza menggeleng. "Tidak usah bi, aku masih bisa membawanya kok bi. Jadi bibi tenang saja ya, jangan khawatir," ucapnya mengetahui raut wajah Bi Inahya.


Terpaksa Bi Inahya mengalah, dia tak bisa memaksakannya. Tetapi wanita paruh baya itu mengawasi Khanza yang berjalan menaruh kopi tersebut di atas meja.


"Emm, sebaiknya aku lihat mas Nio dulu. Sudah bangun atau belum," ujarnya, lalu saat ingin melangkah menuju lift, tiba-tiba Antonio keluar dari dalam lift.


"Baru saja aku ingin melihat mu ke kamar mas.. Ehh, kamu udah turun ke bawah duluan," tukas Khanza, mendekati Antonio dan memperbaiki kemeja suami yang masih ada belum terkancing.


Antonio mengecup bibir Khanza, setelah itu dia menyerahkan dasi yang sengaja belum di pasang ke lehernya. Entah, kenapa hari dia menginginkan istrinya yang melakukannya.


Khanza dengan segera melakukannya, dia memasangkan dasi ke leher kerah baju suaminya. Selesai itu mereka bersama-sama menuju meja makan untuk sarapan pagi.Tetapi sebelum itu mereka menunggu Rhea terlebih dulu.


"Dimana Rhea? Kenapa belum turun juga," ujar Antonio.


"Sebentar mas, biar aku lihat ke atas dulu," ketika Khanza ingin berdiri, Antonio buru-buru mencegahnya.


"Sayang duduklah! Biarkan kita tunggu saja disini."


"Tapi mas, nanti kamu malah terlambat ke kantornya. Apa sebaiknya kamu sarapan dulu saja."


"Tidak pa-pa sayang, mas juga ga ada meeting penting hari ini. Lagian juga kantor itukan milik mas, jadi mau kapanpun datangnya tidak masalahkan!"


Perkataan Antonio mengundang delikan dari Khanza...


"Mas, walaupun mas adalah bossnya di kantor. Tetap saja mas harus menjadi contoh bagi karyawan lainnya. Aku gasuka kalau mas kayak gitu, mentang-mentang boss lalu seenaknya datang ke kantor semaunya."


Antonio mengambil tangan istrinya dan menciumnya. Menatap istrinya dan mengedipkan kedua matanya sambil tersenyum.


"Ciee, daddy sama bunda mesra banget. Rhea jadi pengen punya pacar dehh," ucap Rhea yang baru saja datang.


"Boleh saja, tetapi pria itu harus datang ke mansion dulu untuk bertemu dad. Dad akan mengetes pria itu, layak atau tidak menjadi pacar dari putri Horison," ujar Antonio.


"Baiklah dad, nanti akan Re bawa kesini," balas Rhea, segera duduk di samping Khanza.


"Bun, apakah bunda tahu cara dad mengetes pria yang nanti menjadi pacar Rhea gimana?" bisik Rhea pada Khanza.


"Bunda tidak tahu sayang." ucap Khanza pelan.


"Ouh ya dad, bolehkah siang ini Re ke Mall. Re ingin menamani mama Raya membeli sesuatu," Rhea meminta ijin pada Antonio.


Khanza yang mendengar bahwa Rhea ingin pergi ke Mall. Membuat bumil kembar itu menjadi ingin ikut juga. Dia baru mengingatnya jika besok adalah ulang tahu suaminya.


"Hmm, gimana ya.. Oke, bakal dad ijinin tetapi harus di temanin pengawal," ujar Antonio.


"Mas, boleh aku ikut Rhea ke Mall... Rasanya aku juga ingin ke Mall, pengen beli sesuatu."


"Sayang, bukannya mas tidak memberi ijin. Tetapi kamu sedang hamil besar, mas takut terjadi apa-apa sama kamu," kata Antonio. Perasaan menjadi tidak enak saat Khanza mengatakan ingin ikut pergi ke Mall bersama Rhea.


"Mas aku janji akan baik-baik, lagian kami tidak berdua saja perginya. Ada pengawal mas yang mengawasi kami, boleh ya mas. Aku sangat ini kesana," melas Khanza berusaha membujuk Antonio.


Antonio merasa tak tega melihat wajah melas Khanza yang begitu ingin pergi ke Mall. Saat ingin membuka suara, tiba-tiba terdengar bunyi handphone yang berada di saku celananya. Lalu Antonio mengambil handphone dan melihat nama si penelpon 'Tante Hanira'


'Tumben sekali tante Hani menelponku, kira-kira ada apa ya.' batin Antonio mencoba menebak-nebak.


"Ouh ini dari Satya, sayang. Sebentar mas mau telpon balik," Antonio berdiri dan sedikit menjauh dari meja makan. Lalu segera menelpon balik.


"Halo tan,"


"Hikss.. Anton bisakah tante minta tolong padamu?"


"Tante kenapa menangis, apa tante ada masalah saat ini,"


"Hikss... Tolong tante nak, hiks."


"Baik saya akan membantu tante, tapi tenanglah dulu dan katakan apa yang harus saya bantu."


"Tolong datang ke apartemen Aditya dan bujuk dia untuk pulang ke rumah. Sudah dua bulan dia tidak pulang ke rumah, tante mohon nak bujuk dia agar mau pulang."


"Baiklah tante, saya akan datang ke apartemen Adit dan coba bujuk dia. Kalau perlu nanti saya seret dia agar pulang."


"Terimakasih nak, cuman kamu yang bisa tante mintain tolong."


Setelah telpon di matikan Antonio segera kembali ke meja makan. Khanza menyatukan kedua tangannya, dengan wajah di puppy eyes.


"Oke fine, mas ijinkan. Tapi mas minta jangan sampai kalian terpisah disana nantinya. Pegang terus handphone kamu dan kabarin mas jika kalian berangkat nantinya. Mas akan perintahkan Eduard dan Alvaro yang mengantar dan mengawasi kalian nanti," tegas Antonio. Terpaska dia mengijinkannya, karna merasa tidak tega dengan istrinya yang sangat ingin pergi ke Mall. Tetapi perasaan selalu khawatir terhadap istrinya, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tidak, tidak dia harus tetap positive thinking.


"Terima kasih mas," Khanza berdiri dari duduknya mendekat ke arah suaminya dan mencium pipinya. "Mas tenang aja, aku bakal jaga diri baik-baik kok. Jadi hilangkan rasa parno mas itu." ucapnya.


Antonio mengangguk dan tersenyum menatap wajah istrinya...


Selesai sarapan Khanza mengantar Antonio ke depan...


"Ehem! Hari ini mas ngerasa kamu tampak cantik dengan memakai kalung di leher mu," puji Antonio yang baru saja melihat kalung di leher istrinya. Sebelum dirinya tak pernah melihat istrinya memakai kalung tersebut.


"Ouh, jadi aku cantik pas pakai kalung ini aja. Kalau misalnya tidak pakai berarti aku ga cantik gitu," ucap Khanza pura-pura marah.


"Bukan gitu sayang, mas baru pertama kali liat kamu pakai kalung itu. Dan apa arti dari singkatan KA itu?" tanya Antonio menunjuk kalung di leher istrinya.


"Waktu itu aku di temukan kalung ini sudah berada di leher ku dengan note berisikan namaku. Nah, mungkin arti singkatan kalung ini namaku Khanza Almaira," ujar Khanza. Mengatakan yang diberitahu oleh ibu panti padanya.


Sekarang Antonio paham, tak ingin membuat istrinya bersedih. Ia pun tak lagi bertanya.


"Sayang, mas berangkat sekarang ya. Ingat pesan mas-"


"Pegang handphone terus dan hubungi mas ketika nanti berangkat," Khanza mengatakan ulang kalimat yang suaminya ucapkan tadi.


"Bagus, harus selalu di ingat," ucap Antonio.


Khanza menyalimi tangan suaminya. Antonio mencium kening istrinya, lalu segera masuk ke dalam mobil. Menjalankan mobilnya bukan menuju ke arah kantor melainkan ke arah apartemen Aditya.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓