
Tiba di depan pintu kamar, Antonio malah berdiri diam untuk membukanya atau tidak. Tangannya menyentuh engsel pintu, Antonio sedikit mengintip dari pintu yang telah dibukanya.
Di sana memang ada Khanza, tapi Antonio mengernyitkan dahi saat melihat cara wanitanya berbaring, sangat aneh menurutnya. Dia melangkah pelan, berusaha tak menimbulkan suara apa pun.
"Khanza!" seru Antonio, tidak ada sahutan dari orang yang di panggil.
"Hey, Khanza kamu kenapa?" Antonio mendekat dan melihat jelas wajah wanita yang sedikit terlihat pucat.
"Apa dia sakit," Antonio mencoba mengulurkan tangannya menyentuh wajah cantik yang memucat. Saat tangannya sudah berada di pipi Khanza, dia langsung menariknya.
"Panas sekali,"
Tanpa sengaja mata Antonio melihat ke arah bawah dimana kaki Khanza membengkak, akibat jatuhan dessert panas tadi.
"Astaga! Kaki mu bengkak sekali," Antonio berdiri ingin mengambil air dingin untuk mengompres, tetapi belum sempat kaki melangkah. Tangan seseorang memegang tangannya.
"Di...ngin," guman Khanza, membuka matanya, tatapan sayu. Sebenarnya dia mendenger suara Antonio, tetapi lidahnya kelu untut mengeluarkan suara. Saat tahu Antonio ingin melangkah keluar, tangannya bergerak cepat meraihnya dan mencegahnya keluar.
"Saya hanya ingin mengambil air, untuk mengompres kamu,"
Khansa menggeleng pelan, "M-mas jan...ngan per-gi"
Antonio berjongkok mencium kening Khanza, "Hanya sebentar sayang,"
"Ng-ngga us...ah, m-mas disini aja," Khanza tetap menahan Antonio agar tidak keluar meninggalkannya.
Antonio tampak tak tega melihat keadaan Khanza. Sebelum naik ke ranjang, Antonio melepaskan bajunya. Barulah ia naik ke ranjang, menarik wanita itu kedekapannya. Membenamkan kepala wanita itu, di dada bidangnya. Mengelus punggungnya.
"Tidurlah, saya akan menjagamu,"
Khanza mengangguk dalam pelukan, "M-mas ma...af."
"Sutt! Kamu ga salah, mungkin saya terlalu keras terhadapmu," ujar Antonio semakin mengeratkan pelukannya.
.
Rhea yang baru pulang ke sekolah, masuk ke dalam mansion melihat sosok laki-laki duduk di sofa ruang tamu, dia seperti mengenal pria tersebut. Setelah dekat barulah Rhea mengetahui orang tersebut.
"Uncle Kevin," teriak Rhea berseru senang.
"Keponakan cantik uncle! Sini sayang," ujar Kevin, menyuruh Rhea agar mendekat padanya.
"Om mau tanya, apa kamu tahu daddy mempunyai calon istri,"
Sebelum menjawab Rhea tersenyum dab memberikan anggukan. "Ya tahulah uncle, orang istri daddy sahabat aku."
"Apa! Sahabat kamu? Berarti umur kalian sama,"
"Iya uncle benar."
"Tapi kenapa kamu malah senang sayang, harusnya kamu marah dong, kan mommy mu mau di duakan."
"Apaan sih uncle, ngapain juga aku marah. Bahkan aku merasa senang, karna sebentar lagi bakal punya adik bayi,"
Kevinno merasa aneh dengan sikap abangnya dan keponakannya. Mereka bahkan sangat merasa bahagian, apa keduanya menyembunyikan sesuatu dari kami. Tapi apa? Biarlah nanti mamanya saja yang menanyakan semua itu.
"Uncle," seru Rhea melambai-lambaikan tangannya.
"Eh, iya. Mending kamu ganti baju, bentar lagi kita kedatangan tamu,"
"Tamu? Siapa om?"
"Nanti saja, kamu bakal tahu siapa tamu itu. Jadi lebih baik kamu sana ke kamar saja,"
"Yaudah, aku ke atas dulu ya uncle,"
Rhea segera naik ke lantai atas menggunakan lift. Tapi sebelum ke kamarnya, dia meneruskan langkah untuk melihat bumil. Telah berada didepan pintu, dia membukanya dengan pelan. Masuk ke dalam dan tersenyum melihat kedua orang yang disayangi tengah tertidur saling berpelukan.
"Kenapa daddy tidak memakai baju! Apa mereka baru saja melakukan sesuatu," pikirnya. Ia lalu keluar meninggalkan kamar, menuju ke kamarnya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓