
Antonio memasuki kantor Horison dengan aura yang mendominasi, tegas dan beribawa jangan lupa sifat dingin, datar yang melekat pada seorang pimpinan Horison. Semua karyawan kantor menunduk melihat kedatangannya.
Sampai di ruangannya disana sudah ada mama dan perempuan entah siapa yang duduk di sampingnya.
"Nadia keluarlah, saya akan bicara sama mama saya," titah Antonio menyuruhnya keluar.
"Baik pak," Nadia segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Nadia. Antonio duduk di single sofa menatap kedua perempuan yang tengah duduk.
"Apa maksud mama menjadikan wanita itu sebagai sekretaris saya, padahal mama sudah tahu sendiri saya sudah memiliki Nadia sebagai sekretaris yang sangat berkompeten," tegas Antonio.
"No, mama tidak akan menyingkirkan Nadia, mama hanya ingin Clara sebagai sekretaris kedua mu," dalih nyonya Erina.
"Sekretaris kedua! Yang benar saja ma, cukup Nadia sebagai sekretaris saya dan Satya sebagai asissten kepercayaan. Cukup itu, tidak ada tambahan," ujar Antonio bicara dengan suara naik satu oktaf.
"Antonio, biarkan Clara menjadi sekretaris mu. Hanya sekretaris kedua apa susahnya," kekeh nyonya Erina masih tetap menginginkan Clara menjadi sekretaris.
"Tidak bisa ma, lagian di kantor saya karyawan sudah penuh semua tidak ada pekerjaan yang kosong. Jika ingin mencari kerja, carilah di tempat lain. Ini sudah keputusan saya sebagai pimpinan disini," putusnya telak tak terbantahkan.
Nyonya Erina melirik wanita di sampingnya yang hanya diam sedari tadi. Mana mungkin dia membiarkan Clara mencari perkerjaan diluaran sana sedang sahabatnya menitipkan Clara padanya agar Clara bisa bekerja dikantor Horison.
Clara tersenyum, "Tidak apa-apa tante, biar Clara cari kerja di tempat lain saja," ujarnya hanya akalannya saja, karna dia sudah mengetahu sifat nyoya Erina yang tidak akan membiarkan mencari kerja diluaran sana.
"An, tolonglah pikirkan sekali lagi. Atau tidak terima saja Clara jadi staff HRD dibagian apa terserah kamu," pinta nyonya Erina.
Antonio memijit kepalanya sangat pusing memikirkan ini. Mama benar-benar belum mengerti dan masih saja memaksanya untuk menerima perempuan itu. Apa sebenarnya hubungan mama dengan perempuan itu sehingga mama begitu kekeh menginginkannya untuk bekerja di perusahaannya.
"An," panggil nyonya Erina.
"Fine, dia akan saya tempatkan sebagai General Affair Supervisor," putus Antonio.
Nyonya Erina menatap Clara meminta jawaban mau atau tidak bekerja sebagai itu.
"Jika kamu tidak mau, tidak apa-apa Clara. Nanti tante akan bilang pada Antonio kembali,"
Clara membalas dengan senyuman palsunya. "Tidak tante pekerja itu lebih baik, dari pada tidak bekerja sama sekali," ujarnya.
Clara mengangguk, "Iya aku akan berkerja dengan baik Antonio, terima kasih telah menerima aku berkerja di kantor mu."
"Yasudah kalau begitu mama pamit dulu," ucap nyonya Erina.
"Saya ingin bicara dengan mama, hanya berdua," ucap Antonio.
Nyonya Erina menatap Clara. "Tidak pa-pa tante, biar Clara tunggu di diluar saja," katanya, langsung keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Bicara apa?" tanya nyonya Erina.
"Minggu depan aku akan menikahi Khanza," ucap Antonio.
"Mama tidak setuju, kamu menikah dengan gadis itu," hardik nyonya Erina.
"Saya tidak minta persetujuan dari mama, saya hanya memberitahu. Datang atau tidaknya mama, saya akan tetap menikahi Khanza," ucap Antonio.
"Apa kamu tidak menghormati mama sebagai orangtua mu, hingga kamu berani melawan mama," murka nyonya Erina.
Antonio menghembuskan nafas kasarnya, "Saya menghormati mama sebagai orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan saya. Tapi saya juga tidak bisa lepas tanggung jawab dari Khanza, wanita yang sedang mengandung anak saya. Maka dari itu saya akan tetap menikahinya," putusnya.
"Terserah kamu, intinya mama tidak akan datang ke pernikahanmu," nyonya Erina keluar dari ruangan menutup pintu dengan kasar.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓