
Selama pelajaran berlangsung Rhea tidak bersemangat untuk belajar. Wajah gadis itu terlihat murung sedari awal, saat mengetahui sahabatnya dikeluarkan dari sekolah, karena ketahuan hamil.
Tring!
Bel pulan berbunyi, semua teman-teman kelasnya sudah berhamburan keluar. Tinggal dia bersama Leo didalam kelas. Rhea memasukan buku mata pelajaran kedalam tas dengan asal-asalan.
Setelah selesai memasukan dan memeriksa tidak ada yang ketinggalan. Rhea mengambil handphone di dalam kantong tas paling depan. Handphone sudah berada ditangannya, mengutak-atik mencari nomor sahabatnya.
Nomor yang dituju sedang tidak aktif
Itulah suara yang keluar dari handphone, ketika menelpon sahabatnya.
"Khanza, kamu kemana sih... Aku kangen hiks," Rhea menangis karena nomor Khanza yang tidak aktif-aktif sedari tadi.
Leo berdiri dan berpindah duduk disebelah Rhea. Dimana tempat duduk Khanza.
"Re," seru Leo lembut.
"Hiks, hiks..."
Mendengar itu hati Leo ikut sakit. Mencoba merangkul bahu Rhea dan merebahkan, membenamkan didadanya. Mengelus lembut kepala gadis yang dicintainya dengan sayang.
"Menangislah," ujar Leo. Rhea pun menangis sampai membasahi seragam Leo.
"Aku tahu kamu masih ga percaya soal itukan. Sama aku juga ga percaya, walaupun aku baru kenal sebentar sama Khanza. Tapi aku tahu dia gadis baik-baik,"
"Hiks, aku juga ga percaya. Aku tahu Khanza gimana, kita udah sahabatan dari kelas satu SMA,"
"Mending kita cari Khanza, gimana?"
Leo mengajak Rhea mencari keberadaan Khanza. Gadis itupun mengangguk dan menghentikan tangisan. Dia mengelap air mata yang tersisa diwajahnya.
Mereka berdua keluar dari dalam kelas bersamaan, menuju motor Leo yang berada di parkiran. Biasa keduanya sering berantem, akhirnya bergandengan. Karena Rhea sedang tidak ingin, yang ada dalam pikirannya sekarang hanya sahabatnya.
Liburan yang terlalu lama, membuatnya tidak mengetahui kabar sahabatnya. Apa yang dialaminya? Sungguh sahabat macam apa dirinya, sahabat sedang ada masalah dia malah berlibur.
.
.
Antonio mendudukan dirinya disofa dengan Khanza yang berada dalam pangkuannya. Wanitanya seperti tidak ingin lepas darinya, sejengkalpun. Bahkan tangan mungil wanitanya masih mengalung mesra dilehernya.
"M-mas kok Rhea belum pulang juga ya, padahal udah mau petang,"
Mata Antonio melihat kearah jam tangannya. Benar saja, jam sudah menunjukkan pukul 17:30. Dan putrinya Rhea belum pulang juga.
"Mas aku khawatir sama Rhea, takut terjadi apa-apa sama dia," cemas Khanza sambil memainkan kancing baju kemeja Antonio.
"Kamu tenang! Saya coba telpon Rhea dulu," Antonio menelpon putrinya dan malah tidak aktif. Mencoba beberapa kali, tetap sama tidak bisa dihubungi.
"Gimana?" tanya Khanza sambil membuka satu persatu kancing baju Antonio.
"Terus gimana mas," lirih Khanza. Sekarang kekhawtirannya bertambah berkali lipat mengetahui nomor Rhea tidak bisa dihubungi.
Antonio mencoba menenangkan wanitanya tengah cemas memikirkan putrinya. Dia tidak menyangka wanita dalam pangkuannya sebegitu khawatirnya dengan putrinya. Antonio mengelus surai rambut panjang Khanza dan membenamkan wanitanya dalam dada bidangnya.
Asik mengelus rambut wanitanya, sampai tidak menyadari jika wanitanya malah jahil. Saking gemasnya Khanza menggigit area dada bidang Antonio yang berbulu.
"Awhh," ringis Antonio merasakan sengatan akibat gigi tajam seseorang.
Khanza semakin ganas mengigitnya. Sampai dada Antonio merah dibuatnya, tidak perduli akan ringisan pria tua tersebut.
"Sayang udah," pinta Antonio agar wanitanya berhenti menggigit.
"Gamau," manjanya mendongak menatap Antonio dengan membulatkan matanya.
Antonio merasa hari ini Khanza berbeda, sangat agresif terhadapnya. Mungkin hormon kehamilannya. Antonio sebenarnya tidak ada masalah dengan hormon wanitanya. Cuman yang dia ditakutkan cuman satu, takut tidak bisa menahan sesuatu dalam dirinya.
Apalagi dia pria matang, yang jarang melakukannya. Bukannya tidak ada yang mau, bahkan para wanita mengantri siap untuk disentuh. Tetapi Antonio bukanlah pria yang haus akan kepuasan. Prinsipnya, dia mau melakukannya dengan hubungan halal.
Kejadian tempo hari, dimana dia melakukan dengan Khanza. Itu semua tanpa kesadaran, karena pengaruh alkohol. Tapi ia akan bertanggung jawab dengan perbuatan. Dia juga sudah resmi bercerai dengan Laura, pengadilan sudah memutuskan. Sebenarnya Antonio juga sudah dari bulan-bulan yang lalu mengajukan gugatan cerai.
Sekarang status Antonio adalah duda. Hanya menunggu beberapa hari lagi statusnya akan kembali sebagai suami dari wanita yang tengah berada dalam pangkuannya tidak berhenti-henti mendusel-dusel diketiaknya yang tadi menggigit dadanya sekarang berpindah tempat menciumi ketiaknya.
Antonio hanya menghela nafas dengan kelakukan bumil. Sedari tadi tidak bisa diam sedetikpun.
"Sayang, kamu ngapai ciumi ketiak saya," ujar Antonio.
"Em, suka baunya harum. Apalagi kalau mas lepas bajunya, pasti baunya tambah kecium," tanpa ada malunya Khanza berkata dengan entengnya, seolah-olah tidak ada beban.
"Emangnya kamu mau saya lepas baju," spontan Antonio malah menanggapi kemauannya Khanza.
"Mau," bales Khanza cepat.
Permintaan Khanza pun dituruti Antonio. Ia memindahkan wanita sebentar disebelah kanan agar bisa membuka kemejanya.
Antonio sekarang tengah bertelanjang dada dan wanitanya sudah berada dalam pangkuannya. Kembali wanitanya mendusel dibawah ketiak, karna dia sudah mengangkat tangan kirinya agar lebih leluasa menciuminya ketiaknya yang dipenuhi bulu. Tangan kanan sebagai penahan tubuh wanitanya agar tidak terjatuh.
'Agresif sekali bumil ini' batinnya bibir tersenyum tipis dengan tingkah wanitanya hari ini.
Keduanya tengah asik bermesraan, bahkan tidak mendengar suara mesin motor diluar.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓