My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 31



Leo membuka tutup botol minyak kayu putih dan mengarahkan tepat di hidung Khanza. Karena di UKS sama sekali tidak ada yang jaga dan dokter yang biasanya datang hari ini tidak bisa kesekolah karena sedang melakukan operasi.


Tangan Leo sudah pegal karna sedari tadi memegang minyak kayu putih terus mendiamkan tepat dihidung Khanza.


"Ha-haus," ucap Khanza lirih karna kepalanya masih terasa pusing.


"Alhamdulillah, akhirnya sadar juga," Leo mengucap syukur alhamdulillah, tidak sia-sia tangannya pegal memegang minyak kayu putih.


Leo membuka tutup botol aqua, untunglah tadi dia ingat untuk menitip ke temannya. Minta dibelikan aqua. Setelah terbuka, Leo menyerahkan aqua tersebut. Lalu Khanza dengan segera meneguk air, karna memang dia sangat kehausan.


"Gimana udah mendingan?" tanya Leo, yang ditanya hanya memberikan anggukan pelan.


"Leo, aku boleh minta tolong gak?" tanya Khanza balik.


"Boleh, minta tolong apa," ucap Leo menatap Khanza.


"Tolong ambilkan nasi goreng yang udah aku buat dong di laci meja. Ambil aja dua duanya, soalnya tadi aku bawa dua nasi gorengnya dalam wadah tupperware," jelas Khanza dengan tatapan puppy eyes.


"Iya iya aku ambilkan, kamu baring aja dulu."


Setelah mengatakan itu Leo berdiri dari duduknya. Menuju ke kelas mengambil seperti yang diminta oleh temannya. Karna sekarang Leo sudah menganggap Khanza temannya sendiri, tapi tidak untuk Rhea. Perasaan ke gadis itu lebih dari sekedar teman, bahkan dia menganggumi sekaligus mencintai gadis itu. Entah kapan perasaan ini muncul, tapi yang ia tahu saat pertama kali mereka berkenalan.


"Nih, kotak bekalnya," ujar Leo menyerahkan tupperware ke tangan Khanza.


"Makasih Leo, sini duduk dulu," Khanza menyuruh Leo untuk duduk dulu.


Leo menuruti kemauan Khanza, dia merasakan keanehan pada temannya ini. Seperti aura ibu hamil.


'Astagfirullah, mana mungkin Khanza hamil. Nikah aja belum,' batinnya beristighfar.


"Kamu makan yang ini ya, harus habis. Karena Rhea ga masuk hari ini, jadi nasi goreng ini buat kamu," kata Khanza membuat senyuman diwajah Leo terbit. Karena sangat kebetulan sekali perut sedari tadi sudah meronta-ronta minta diisi.


Mereka berdua pun makan bersama dalam keheningan. Setelah selesai memakan habis nasi goreng, lalu kembali ke kelas mengikuti mata pelajaran selanjutnya.


Sampai bel jam pulang sekolah berbunyi, Khanza langsung menuju ke toko kue. Karena takutnya kalau pulang dulu waktunya tidak sempat. Sudah seminggu Khanza bekerja disana dan dia sangat merasa nyaman. Karna karyawan disana hanya ada empat orang sama dirinya, mereka juga baik-baik semua. Apalagi Kirana sebagai pemilik toko kue itu, tidak pernah membeda-bedakan karyawannya.


.


.


Ditempat lain.


Laura sudah berada di villa dimana Antonio tinggal. Sekarang dia sudah masuk ke dalam villa itu dan disana terlihat Antonio sedang sarapan dimeja makan.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Antonio dingin.


"Kamu masih marah sama aku dad," ujar Laura yang sudah duduk di sebelah Antonio.


"Bahkan kamu masih menanyakan itu," decih Antonio.


"Penjelasan apa lagi yang harus saya dengarkan. Semua sudah jelas, Rhea bukanlah anakku. Benar-benar diluar dugaan, selama ini aku ditipu," sarkas Antonio yang sejak tadi menahan emosi.


"Tapi kamu menyayanginyakan, selama ini Rhea tumbuh bersama kamu dan kamu yang selalu berada disisinya," ujar Laura membuat Antonio sempat terdiam.


"Saya sangat menyayangi Rhea dan akan selalu seperti itu. Tapi saya tidak bisa lagi untuk mempertahankan pernikahan kita," tutur Antonio.


"Kenapa kamu tidak bisa dad, apa ada perempuan lain atau karna gadis kampungan teman Rhea. Yang terkadang putriku panggil mama."


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Khanza. Ini masalah keluarga kita jangan libatkan orang lain disini. Keputusan saya sudah tidak bisa diganggu gugat, saya akan tetap menceraikan mu. Kita akan segera berpisah," tegas Antonio.


"Dad apa kamu tidak memikirkan perasaan Rhea jika kita berpisah," kata Laura mencoba untuk membuat Antonio membatalkan perceraian mereka.


Antonio mendesis tidak suka dengan perkataan Laura."Apa kamu juga pernah memikirkan perasaan Rhea. Kamu yang tidak pernah ada disaat dia butuh dan apalagi sekarang hidup dalam kebohongan besar,"


"Tapi sekarang aku ingin berubah dad, aku mau memperbaiki rumah tangga kita dengan mulai berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja," ujar Laura.


"Berubah! Terlambat... Kamu sudah sangat terlambat untuk itu Laura," tukas Antonio.


"Tapi-..."


"Silahkan pergi, pintu keluar ada disana" Antonio menunjukkan pintu keluar. "Untuk Rhea saya tidak memaksanya ingin tinggal dimana, saya membiarkannya memilih karna menurut saya dia sudah dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri. Tapi dia tetaplah putri kesayanganku, saya akan ke rumah sakit nanti," tuturnya.


Laura hanya memberikan anggukan, hatinya benar-benar sakit. Rumah tangganya sudah hancur. Dia pun pergi tanpa mengucapkan salam dan langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk putrinya terakhir kalinya.


.


.


Sampai dirumah sakit Laura segera menuju keruangan Rhea. Disana tidak ada Bagas yang menunggui. Laura masuk ke dalam dan memegang tangan putrinya.


"Maaf sayang, sepertinya mommy harus pergi ke negara lain untuk menenangkan pikiran. Kamu jaga diri baik-baik ya, mommy selalu menyayangimu."


"Mommy akan segera kembali, kalau saatnya sudah tepat."


Setelah itu Laura pergi menuju ke bandara dan melakukan penerbangan menuju negara A. Laura meninggalkan surat di meja nakas samping brangkar Rhea.


***


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓