My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 90



Tiga Bulan Kemudian


Masalah yang mereka hadapi kemaren, kini sudah berlalu. Dan kandungan Khanza sudah menginjak lima bulan, perut Khanza semakin besar, ditambah dengan berat badan yang naik.


"Good morning bunda," sapa Antonio pada Khanza yang masih menyesuaikan dengan cahaya lampu.


"Eung..." Khanza tersenyum.


Sapaan itu menyambut bumil, ketika sudah membuka matanya. Posisi Khanza sangat dekat dengan Antonio, sungguh seluruh tubuhnya rasanya sangat pegal semua.


Tetapi dirinya dibantu oleh Antonio untuk duduk, dan bersandar di ranjang. Mereka berdua berhadapan, hanya terpisah sedikit oleh perut Khanza yang buncit.


"Jam berapa mas?" tanya Khanza.


"Baru jam 6, sayang," jawab Antonio.


"Yang benar aja mas, aku harus bangunin Rhea buat sekolah." Khanza ingin turun dari ranjang tapi di cegah oleh Mas Nio dan malah terduduk dipangkuan suaminya.


"Mas."


"Kamu lihat di luar sedang hujan sayang."


Mata Khanza langsung tertuju ke arah jendela, dan benar saja yang di katakan suaminya. Bahwa diluar sedang hujan, seperti hujannya akan awet. Pantas saja sedari tadi dinginnya semakin mengigit kulit-kulit yang tak tertutup sempurna. Bagaiman tidak terasa dingin, dia saja menggunakan piyama tidur berbahan tipis.


"Kan Rhea berangkat pakai mobil mas, jadi ga akan terkena hujan. Rhea ga boleh bolos sekolah mas, sebulan lagi dia bakal ujian," ujar Khanza bangkit dari pangkuan suami, memilih keluar kamar.


Saat kaki hampir sampai di pintu kamar Rhea, pintunya malah terbuka dari dalam. Dan keluarlah mama mertuanya, membawa nampan yang berisi makanan yang telah habis.


"Loh mah, kok mama bawa itu. Memang Rhea kenapa mah?"


"Rhea demam nza, terkena flu. Jadi minta ijin ga masuk dulu hari ini, tapi sekarang lagi istirahat."


"Yaallah Rhea! Mah aku masuk dulu mau liat keadaannya."


Setelah di beri anggukan oleh nyonya Erina, Khanza segera membuka handel pintu yang baru saja di tutup tadinya. Melangkah menuju ranjang, dan duduk di tepian ranjang Rhea. Tangannya memeriksa leher, dahi, pipi kanan kiri, untuk memastikan panas tubuhnya.


"Eungh!" Rhea yang merasakan sentuhan tangan seseorang.


"Bunda," sapa dengan suara lemah.


"Iya sayang ini bunda, maafin bunda yang ngga tau kalau kamu lagi sakit," ucap Khanza.


"Ga pa-pa bunda, lagian Re cuman flu aja...Uhuk uhuk."


"Sekarang kamu istirahat ya, maafin bunda udah ganggu kamu," Khanza mencium kening Rhea dan memperbaiki selimutnya.


.


Khanza memasuki kamar kembali, mencari Antonio untuk memberitahu kalau Rhea sedang sakit. Tetapi ternyata suaminya tak berada di kamar.


"Pasti mas Nio lagi olahraga," gumannya.


Bergegas keluar dan masuk ke dalam lift untuk turun kebawah. Mencari suaminya di ruangan olahraga, tapi ia menghentikan langkah kaki saat suara seseorang memanggil namanya.


"Neng Khanza," seru Bi Inahya memanggil sang majikan. Oh ya, sebenarnya Bi Inahya sempat merubah panggilan 'Neng Khanza' menjadi 'Non Khanza'. Tapi Khanza membantah dan tak ingin dipanggil non oleh Bi Inahya, bahkan dia menginginkan Bi Inahya tidak usah merubah panggilan, bukan berarti sekarang dia menjadi istrinya seorang pria kaya lalu dirinya merasa tinggi. Tidak Khanza bukanlah orang seperti itu, bahkan dia merasa sangat nyaman jika Bi Inahya memanggilnya seperti sebelumnya saja. Tanpa merubah-rubahnya lagi.


"Ada apa bi," sahut Khanza sambil berjalan mendekat pada Bi Inahya.


"Neng ini minum susunya dulu, tadi tuan Antonio pesan supaya neng menghabiskan susu ini terlebih dulu. Baru menyusul tuan keruangan olahraga."


"Kok bibi tahu sih, aku mau kesana."


"Taulah neng, kan tuan yang ngasih tahu. Tapi kok tuan tau ya, kalau neng pasti nyariin," kata Bi Inahya merasa heran.


"Haha, mungkin mas Nio punya indera ke enam bi," ujar Khanza sambil tertawa.


"Neng ngadi-ngadi aja... Mending neng minum susunya biar cepat ketemu tuan," ucap Bi Inahya.


"Siap bibi tayang," balas Khanza dan meminum susu hingga tandas. Lalu pamit menuju ruang olahraga, menyusul suaminya.


Sesampainya di ruang olahraga, Khanza masuk dan terdiam melihat Antonio yang tengah berolahraga mengangkat beban. Otot-otot Antonio terlihat sangat jelas saat mengangkat beban itu. Apalagi Antonio hanya memakai baju singlet saat berolahraga, yang benar-benar memoperlihatkan otot lengannya. Itu saja sudah membuat wajah Khanza terpesona melihatnya.


"Masyaallah sungguh indahnya ciptaanmu," gumannya.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓