My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 19



Hari yang sudah larut malam, Khanza menyuruh putra-putra mereka untuk berhenti bermain dan saatnya untuk tidur. Rey yang tahu jika sebentar lagi akan memiliki adik. Jadi anak itu mulai membiasakan diri tidur bersama abangnya, bergantian setiap hari, kadang tidur dikamar Arcell, Arsen dan Ghani.


Padahal Khanza dan Antonio sama sekali tidak keberatan jika Rey tidur bersama mereka. Tetapi mungkin putranya menginginkan tidur bersama abang-abangnya.


...


"Mas, elus perut aku ya," pinta Khanza.


"Iya honey, sini mas elus perutnya...


Dedek bayi jangan buat mom susah tidurnya, dedek yang tenang di dalam perut mom, sebentar lagi juga dedek bakal melihat dunia ini," tutur Antonio lembut, sambil tangan terus mengelus perut bumil. Bahkan Khanza yang mendengar penuturan sang suami, malah tersenyum-senyum.


Hingga beberapa jam kemudian Antonio sudah tertidur lebih dulu, bahkan tangan sudah tidak lagi mengelus perut bumil. Sedangkan Khanza matanya masih bertahan, ia sangat gelisah. Sudah tiga kali ia ke kamar mandi untuk buang air kecil, ia beberapa hari belakangi ini sulit untuk tertidur.


"Mas, bangun!" seru Khanza mengoyangkan lengan suaminya.


"Heumm ada honey?" tanya Antonio dengan suara seraknya, matanya juga belum terbuka sepenuhnya.


"Mas perut aku sakit banget, sepertinya aku mau melahirkan," kata Khanza yang tengah memegangi perutnya.


Mendengar perkataan Khanza, mata Antonio langsung terbuka lebar. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan ingin mengangkat istrinya keluar menuju mobil. Tetapi ia melupakan jika mobil belum di keluarkan dari garasi.


Sesampai di ruang tamu, Antonio menurunkan Khanza di atas sofa.


"Kenapa mas?"


"Mas lupa honey, mobil belum di keluarkan dari garasi."


Segera Antonio menelpon bodyguardnya yaitu Edward. Hanya dua kali deringan, telponnya langsung diangkat.


"Ed, siapkan mobil sekarang istri saya mau melahirkan. Cepat jangan lambat!!!" tanpa menunggu sahutan dari Edward, Antonio langsung memutuskan sambungan telponnya. Sekarang Antonio beralih menghubungi Alvaro.


Sebelum menggendong Khanza, Antonio kembali lagi ke kamar mereka mengambil koper yang memang telah dipersiapkan Khanza. Di dalam koper tersebut berisi keperluan bayi mereka.


***


Selama perjalanan Khanza terus saja memegangi perutnya, mencoba kuat menahan rasa sakitnya. Tetap tak bisa, rasanya sangat sakit sekali.


"nghh sakit mas"


"Honey jangan mengejan, sebentar lagi kita sampai.. Ed bisa dipercepat lagi bawa mobilnya," ujar Antonio, bahkan Antonio membiarkan Khanza meremas tangannya. Antonio juga mengecupi kening Khanza berulang kali dan merapalkan doa agar Khanza baik-baik saja.


"Ketuban ku pecah mas," kata Khanza merasakan sesuatu merembes.


"Kuat ya honey, sebentar lagi kita sampai," Antonio berusaha untuk tenang dan tidak panik mengetahui bahwa ketuban istrinya sudah pecah.


lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Khanza langsung di bawa ke ruang bersalin tentunya Antonio ikut masuk menemani istrinya yang akan berjuang melahirkan princess Horison dan Mahendra.


Tak lupa Antonio sudah menyuruh bodyguardnya Edward agar mengabari seluruh keluarga, bahwa Khanza akan melahirkan malam ini juga.


Selama proses melahirkan Khanza mencekam tangan Antonio dengan keras. Bahkan ia juga menarik rambut Antonio. Antonio hanya pasrah, karena dirinya sudah terbiasa dengan semua ini.


Oeekk oeekk


Bayi perempuan keluar dari perut Khanza, terdengar suara tangisan bayi merah yang cantik. Antonio yang melihatnya hampir menangis, sekarang ia memiliki seorang putri, darah dagingnya sendiri. Ia juga tetap sangat menyayangi Rhea dan menganggap Rhea adalah putri kandungnya, karena Rhea sudah bersamanya sejak lahir.


"Biar di bersihkan dulu ya tuan," kata Dokter, ketika Antonio ingin sekali menggendongnya.


Antonio hanya mengangguk dan dirinya disuruh menunggu diluar. Karena Khanza nantinya akan dipindahkan diruang yang baru.


****