My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 78



Antonio yang mencemaskan keaadaan putrinya. Sampai melupakan ada jalan alternatif cepat yang bisa digunakan yaitu lift dan lebih memilih menaiki anak tangga dengan melangkah cepat.


‘Hosh hosh’ Antonio mengatur napas sehabis menaiki tangga dengan berlari.


“Aapa Alesha belum keluar kamar juga?” Tanya Antonio yang sudah agak lebih mendingan.


“Belum tuan,” jawab Eduard.


Antonio maju ke depan pintu kamar putrinya. Mencoba mengentuknya.


“Sayang buka, ini daddy...”


Queen yang mendengar suara sang daddy diluar kamarnya segera membuka pintunya. Queen langsung memeluk daddynya menenggelamkan kepala di dada bidang sang daddy.


Antonio merengkuh tubuh putrinya, membalas pelukan sama eratnya. Lalu mengangkat tubuh putrinya, melingkarkan kaki putrinya kepinggang. Melangkah masuk ke dalam kamar putrinya, menatap ke sekitar kamar tidak ada barang apapun yang pecah. Antonio merasa tenang, karena putrinya sudah bisa mengendalikan emosi dan tidak mengamuk seperti kemarin.


“Yunia bawa nampan makannya dan letakan di atas nakas,” titah Antonio.


Yunia segera masuk dan meletakan nampan berisi makanan nonanya diatas nakas seperti perintah tuannya. Setelah itu Yunia keluar dari kamar nonanya meninggalkan ayah dan anak berduaan saja.


“Princess makan dulu sayang,” ucap Antonio lembut mengusap rambut panjang putrinya.


Queen yang berada dalam gendongan Antonio mengangguk. Antonio mendudukan putrinya diranjang.


Dengan telaten Antonio menyuapi putrinya sampai makan dipiringnya pun habis tidak tersisa.


“Pinter anak daddy, makannya habis...” Antonio memberikan minum dan diterima Queen langsung ditandasnya.


“Sekarang princess istirahat ya.. daddy mau balik ke kantor lagi.” Queen menarik baju Antonio.


“Queen mau daddy disini, ga boleh balik ke kantor,” ucap Queen manja dan tidak memperbolehkan Antonio kemana-mana.


“Princess engga kasian sama abang Arcell? Abang Arcell masih butuh bimbingan daddy untuk mengurus perusahaan,” jelas Antonio memberi pengertian pada putrinya.


Memang tadi mereka pulang bersama, tetapi Antonio mendapatkan telpon dari Satya yang mengatakan ada meeting mendadak. Mau tak mau Arcell harus menggantikan Antonio memimpin meeting tersebut. Karena Antonio harus pulang ke mansion menemui princessnya yang mencarinya.


Queen memberikan anggukan, gadis itu berpikir bahwa ia tak boleh egois. Karena bukan hanya dirinya saja yang harus diperhatikan setiap saat.


“Yakin tidak papa daddy tinggal ke kantor,” ujar Antonio menatap lekat wajah putrinya memastikannya.


Queen tersenyum, “Iya dad, tapi janji harus pulang sebelum makan malam. Aku engga mau kalau duduk di meja makan sendiri, beritahu juga abang-abang dad! Aku mau malam ini kita makan malam bersama...” tuturnya.


“Baik malam ini kita akan makan malam bersama,” balas Antonio.


“Sekarang princess daddy istrahat yang cukup. Nanti abang Arsen akan pulang untuk meriksa keaadaan princess,” beritahu Antonio.


Queen membaringkan dirinya. Antonio menyelimuti putrinya sebatas dada. Lalu memberikan kecupan dikening, setelah itu keluar dari kamar meninggalkan putrinya sendirian.


Bekas makan Queen dibiarkan saja berada di atas nakas. Nanti Yunia akan mengambilnya..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ditempat yang terpencil seorang wanita tengah membantu kedua orang yang telah menyelamatkan. Rani membantu buk Tini dan pak Tono di kebun teh.


Keadaan Rani yang mulai membaik. Pak Tono dan Buk Tini yang mendapatkan perkerjaan di sebuah desa. Akhirnya memutuskan untuk pindah kesana.


“Iya buk, tapi aku mau mampir ke warung beli sayur buat dimasak. Nanti ibuk sama bapak duluan saja pulang,” ujar Rani.


Mereka berjalan bersama menuju arah jalan pulang. Tapi dipertengah jalan Rani berpisah dari kedua paruh baya yang dianggap sudah seperti orangtua sendiri baginya. Karena dia pun tidak mengingat siapapun sampai sekarang.


Rani melewati tempat dimana banyak bocah-bocah yang tertawa riang dengan permainan mereka. Rani tampak tertegun melihat bocah-bocah tersebut, Rani seperti ingin mengingat sesuatu, tetapi tidak bisa karena dalam ingatan hanya ada bayangan-bayangan hitam putih tidak jelas. Rani malah memegangi kepalanya yang terasa sakit ketika memaksakan kembali untuk mengingat.


“Kepalaku sakit sekali,” gumannya memejamkan matanya dan membukanya kembali.


Sebuah motor berhenti di dekat Rani. Pemilik motor tersebut turun dari kendaraannya menghampiri Rani.


“Rani kamu kenapa?” Tanya seorang perempuan teman sejawat Rani, yang memberhentikan motornya tadi.


“Kepalaku sakit tya,” ucap Rani.


“Aku bantu antar kamu pulang ya,” tawar perempuan bernama Tya.


“Tapi aku mau ke warung, beli sayur,” balas Rani.


“Begini saja, aku temani kamu ke warung dulu. Baru aku antar kamu pulang, kan searah juga sama rumahku,” ujar Tya.


Rani mengangguk menerima tawaran Tya. Tya menuntun Rani pada motor matic miliknya. Tya segera menghidupkan motornya menuju ke warung menemani Rani membeli sayur. Rani telah selesai belanja sayur, Tya melanjutkan lagi menjalankan motornya menuju arah jalan pulang.


“Makasih Tya sudah mau mengantarku,” ucap Rani.


“Iya Rani, sesama teman harus saling membantu,” balas Tya.


Rani hanya tersenyum pada temannya itu.


“Tya gak mau mampir dulu.” Tawarnya.


“Engga dulu deh Ran, aku masih ada perkerjaan lain,” ujar Tya menolaknya. Memang Tya tidak hanya bekerja sebagai pemetik teh, tetapi ada pekerjaan lain yang digelutinya.


“Kapan-kapan kamu harus mampir ya,” ucap Rani pada Tya yang baru menjadi temannya saat baru pindah ke desa ini.


“Yasudah Ran, aku pulang ya!” Tya mengegas motornya menuju arah jalan pulang kerumahnya. Rani melambaikan tangan pada Tya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓