My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 22



Keesokan harinya, masih di rumah sakit. Tepatnya di kamar rawat Khanza, wanita itu sudah berganti baju dan membereskan pakaiannya. Selesai itu, ia mengambil baby girl untuk di bawa ke tempat tidur dan menyusuinya. Ia juga telah di periksa oleh dokter dan diberikan sarapan.


Matanya menatap kearah sofa, tempat yang dijadikan suaminya tidur selama dua hari ini. Hatinya merasa tak tega melihatnya, demi menemaninya, suaminya sudah dua hari tidak masuk kantor dan tak mau meninggalkannya sendirian dirumah sakit.


Sebelum menghampiri Antonio yang masih tertidur pulas. Khanza menidurkan baby girl kembali ke box bayi. Disinilah Khanza duduk bersimpuh dengan tangan terangkat mengusap dahi Antonio dan memberikan kecupan di keningnya.


Antonio tampak merasa nyaman diperlakukan manis seperti itu. Bahkan yang tadinya tangan Khanza ingin menyudahi mengusap dahi, langsung ditahan olehnya.


"Mas-"


"Usap lagi honey," sela Antonio.


Tangan Khanza pun kembali mengusap dahi Antonio.


"Mas, punggung kamu pasti pegal ya? Tidur di sofa selama dua hari ini," ucap Khanza bertanya, sambil tangan satunya digengam suaminya.


"Pegal itu pasti honey, tapi buat kamu mas rela tidur di sofa ini. Lagian ini bukan pertama kalinya mas tidur di sofa," ucap Antonio, membuka matanya dan membawa telapak tangan istrinya dibibirnya. Diciumnya telapak tangan itu.


Lalu Antonio bangun dan meminta Khanza duduk di sampingnya. Tangannya merangkul istrinya agar merapat padanya, membawa kepala istrinya bersandar di dada bidangnya. Ia mencium rambut istrinya.


"Rambut aku bau tau mas, aku kan ngga keramas dua harian," ujar Khanza. Bukannya ia tak mau keramas, tetapi entah mengapa di sangat malas untuk keramas di rumah sakit.


"Bagi mas rambut kamu tetap harum honey, walaupun ngga di keramas selama dua hari," kata Antonio.


"Bohong, kamu cuma gombal kan mas. Biar aku tetap percaya diri," cetus Khanza.


"Kamu kan tau honey, mas ga pernah gombal," tukas Antonio, dirinya memang tak pernah menggombal, apa yang dikatakannya selalu kejujuran. Memang rambut istrinya masih harum di indra penciuman hidungnya.


"Iya mas nio sayang!" kata Khanza.


'Cup' Antonio memberikan kecupan di bibir istrinya...


"Morning kiss honey," ujar Antonio agar Khanza mengomel.


"Sekarang mas mandi, biar aku siapin baju kamu,"


"Mas baru ingat hari inikan kita pulang ke mansion, tapi sebelum itu kamu harus diperiksa dulu sama dokter, diperbolehkan atau tidak pulang hari ini," tukas Antonio panjang lebar dan masih duduk nyaman dengan istrinya berada dalam pelukannya.


"Kamu lambat mas, aku tadi sudah diperiksa sama dokter,"


"Kapan honey? kok mas ngga tau,"


"Ya jelas mas ngga tahu, mas kan tadi masih tidur,"


"Kenapa ngga bangunin mas honey, kan mas juga ingin tahu hasil pemeriksaannya,"


"Aku ngga tega bangunin kamu mas, tadi dokter Dinda bilang ngga ada yang perlu dikhawatirkan lagi dari keadaan aku. Karna aku udah baik-baik aja," jelasnya, mendongak menatap mata suaminya.


"Bagus lah honey, mas lega dengernya," Antonio menjadi sangat lega mendengarnya.


"Mas lebih baik sekarang mandi," ulang Khanza kembali. Antonio beranjak dari sofa, melangkah menuju kamar mandi.


"Yaampun aku melupakan sarapan untuk mas nio," ucapnya menepuk dahinya.


"Apa aku chat mama saja, minta siapkan sarapan buat mas nio," katanya bicara sendiri.


Mama Mertua Cantik❤


^^^Waalaikumsalam, bisa sayang...^^^


Ma, bisa siapkan sarapan buat mas nio. Nanti titipkan ke paman Edward. Mas nio belum sarapan ma, jadi aku bingung...


^^^Oke sayang, nanti mama siapkan. Lalu titipkan ke Ed... Kamu sudah sarapan belum? kalau belum nanti sekalian mama banyakin makanannya, biar kalian bisa sarapan bersama...^^^


*Buat mas nio aja maa, aku udah sarapan makanan rumah sakit tadi maa.. makasih ya maa🥰


^^^Samasama sayang🥰^^^


Setelah itu Khanza menyudahi berkirim pesan dengan mama mertuanya. Ia pun hanya duduk menunggu suaminya selesai mandi.


20 menit kemudian Antonio telah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk mengalung di leher dan rambut yang masih basah.


"Mas kebiasaan, kalau habis keramas itu rambut diusap dulu sama handuk. Bukan malah dibiarin kaya" gitu, kan jadi basah bajunya," tegur Khanza bersungut-sungut. Antonio hanya diam saja, karna jika dia menjawab istrinya akan tambah mengomel dan susah untuk menghentikannya.


"Sini aku keringin rambut kamu mas," seru Khanza menyuruh Antonio agar mendekat padanya. Walaupun kesal tetapi ia tetap perhatian pada suaminya.


Khanza menggosok rambut suaminya dengan menggunakan handuk. Karena mereka sedang di rumah sakit, jadinya tidak ada hair dryer untuk alat mengeringkan rambut.


Tok...tok..


"Masuk!" seru Antonio.


"Maaf tuan nyonya menganggu, apa semua barang sudah siap? Biar saya bawa turun ke bawah," ucap Edward. Ya Edward lah yang menjemput mereka.


"Sudah paman, itu barangnya. Paman titipan dari mama, apa paman membawanya?" tanya Khanza.


Edward terlihat berpikir, titipan apa yang dimaksud oleh nyonya nya? "Astaga nyonya, maafkan saya! Titipannya ada di mobil, lupa saya bawa. Biar saya naik lagi mengantarnya nyonya," katanya yang baru mengingatnya.


"Tidak usah paman, kami juga mau kebawah. Biar nanti di mobil saja," ucap Khanza. Ia juga kasihan dengan paman Edward yang sudah membawakan barang-barang mereka ke bawah, lalu harus naik kembali hanya untuk membawa sarapan untuk mas nio ke atas. Lebih baik mas nio sarapan di mobil saja.


"Maaf sekali lagi nyonya, saya benar-benar melupakannya," ucap Edward bersungguh-sungguh meminta maaf, karena melupakannya.


"Tidak papa paman, aku tidak marah. Lagian paman tidak ada salah kok," kata Khanza.


"Terima kasih nyonya, kalau begitu saya duluan ke bawah," pamit Edward, dia benar-benar kagum dengan nyonya muda Horison yang tidak pernah marah walaupun ada yang melakukan kesalahan. Dan selalu murah hati dan pemaaf, kadang memberitahu dengan tutur kata yang sopan dan sangat ramah pada siapapun itu orangnya.


"Memang apa yang mama titipankan honey?" tanya Antonio yang sedari hanya diam mendengarkan percakapan Khanza dan bodyguardnya.


"Nanti saja aku kasih taunya mas, sekarang kita turun kebawah. Ayoo mas!" ajak Khanza. Ketika ingin menggendong baby girl, Antonio lebih dulu menggedongnya. Melihatnya Khanza pasrah, ia sangat hapal tabiat Mas Nio yang tidak akan mengijinkan menggendong selama keluar dari rumah sakit. Ia tahu Mas Nio tak ingin dirinya kelelahan menggendong bayi terlalu jauh berjalan.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓