
Selesai berbicara Antonio masu kembali ke dalam ruang rawat meninggalkan Leo yang masih terdiam mencerna setiap perkataan Antonio.
"Saya tidak akan melarang kamu mendekati Rhea, tapi yang harus kamu ingat. Seorang ayah tidak akan membiarkan anaknya tersakiti, jadi jika kamu melukai hati putri saya, siap-siap saja kamu dapat ganjaran dari saya." tegas Antononio.
Leo tidak menjawabnya, hanya memberikan anggukan.
"Setelah saya menikah nanti, saya ingin kita ke ring. Awas, jangan sampai ada yang tahu," tantang Antonio.
Leo terdiam, membuat Antonio berpikir jika pemuda dihadapannya takut melawannya.
"Yah, kalau kamu tidak berani. Berarti kamu tidak cocok menjadi calon menantu saya," ucap Antonio.
"Saya terima tantangan om," sergah Leo.
"Bagus," Antonio menepuk-nepuk bahu Leo.
"Aku harus berani, demi mendapat restu om Antonio. Walaupun aku sendiri belum tahu Rhea mencintaiku atau tidak. Tetapi setidaknya aku mendapatkan restu om Antonio agar tidak dilarang lagi mendekati Rhea," ucap Leo. Menyusul masuk ke dalam ruangan.
.
Didalam ruang rawat, Rhea tampak memanyunkan bibirnya. Karna disuruh pulang oleh Antonio, untuk makan siang.
"Aku ga mau pulang dad, aku masih mau disini nemani mama Khanza. Lagian juga aku masih belum lapar," kilah Rhea, agar tetap tinggal diruangan ini. Ia masih belum puas melepas kangen-kangen bersama Khanza.
"No, sayang! Kamu harus pulang, istirahat. Nanti sore juga Khanza akan pulang," kata Antonio.
"Benerkah mama Khanza akan pulang?" tanya Rhea menatap Khanza yang langsung memberikan anggukan.
"Iya sore ini aku juga pulang re, lagian aku mana betah di rumah sakit," ujar Khanza.
"Kalau gitu aku pulang duluan aja," pamit Rhea, mencium pipi Khanza dilanjutkan mencium tangan Antonio.
"Aku juga pulang nza, nganter Rhea," ucap Leo.
"Kamu bolos ya Leo, masih pakai seragam gitu," tukas Khanza.
"Iya nza, tadi aku jemput Rhea ngajakin ke sekolah bareng. Eh, tau-taunya Rhea malah ga sekolah, mau jenguk kamu katanya. Yaudah, aku ikut," jelas Leo.
"Oh gitu, makasih udah jengukin aku. Seharusnya pulang sekolah juga masih bisa jenguknya, jangan bolos-bolos lagi ga baik. Sayang sekolah udah bayar mahal, malah ketinggalan mata pelajaran," nasehat Khanza.
"Iya iya bu boss, ini terakhirnya aku bolosnya," ujar Leo.
"Kalian hati-hati, Leo bawa motornya jangan ngebut, jagain Rhea," kata Khanza, membuat Antonio memandang Leo tajam.
"Motor! Jangan bilang kamu selalu bawa putri saya naik motor, iya?" tanya Antonio menatap tajam Leo.
"I-iya om," jawab Leo.
Antonio mengeluarkan handphone dan menelpon Eduard, "Hallo, Ed. Suruh Alvaro ke ruang rawat sekarang, dan kamu siapkan mobil," setelah mengatakan itu, telpon langsung diputuskan.
"Permisi tuan, ada apa tuan memanggil saya kemari?" tanya Alvaro.
Padahal Antonio baru saja mengakhiri telponnya, Alvaro sudah berada didalam ruangan bahkan didepannya sekarang.
"Dad, Re pulangnya sama Leo," ucap Rhea. Leo mengangguk.
"Tidak, kamu tidak boleh naik motor. Dan kamu," Antonio menunjuk Leo. "Jika ingin menjemput atau membawa putri saya keluar, harus menggunakan mobil, kalau tidak. Saya tidak akan mengijinkannya," tegasnya.
"Tapi dad, tadikan aku kesini bersama Leo. Jadi pulang juga harus sama Leo," kekeh Rhea.
"Kamu pulang diantar Alvaro, tidak ada bantahan," putus Antonio tidak terbantahkan.
"Tidak apa-apa Re, kamu pulang aja sama pria datar itu," ucap Leo menyebut Alvaro pria datar. Karna wajah Alvaro memang tidak ada senyuman sama sekali.
"Mari nona, saya akan mengantarkan anda," Alvaro berkata sopan dengan wajah tetap datar.
Rhea berjalan duluan dengan menghentak-hentakan kakinya, padahal dia lebih menyukai naik motor sekarang daripada naik mobil. Memang naik motor, kulitnya akan terkena sengatan panas matahari. Tetapi naik motor juga dia merasakan angin menerpa wajahnya dan bisa merentangkan tangannya. Tidak seperti naik mobil, kaca selalu tertutup, memang bisa di buka tetapi lebih terasa nyaman jika naik motor.
"Silahkan masuk nona," Alvaro membukakan pintu mobil.
Rhea tidak duduk diam, selama perjalanan dia membuka kaca dan melihat keluar. Tanpa memperdulikan Alvaro yang sudah memberitahu untuk menutup kaca, karena debu jalanan.
Sedangkan dikamar rawat Leo malah terdiam tidak beranjak keluar, hanya bengong menatap pintu. Dimana Rhea sudah menghilang dibaliknya.
"Kamu ngapain masih disini," sentak Antonio membuat Leo kaget dan sadar dari kebengongannya.
"Eh, iya om. Ini mau pergi kok, nza pamit ya," kata Leo.
"Iya hati-hati. Perkataan om Antonio jangan dimasukin hati ya," pesan Khanza.
"Santai aja nza," setelah itu Leo langsung keluar dari dalam ruangan Khanza.
Saat pintu tertutup, Khanza menatap Antonio tajam. Dia kesal omongan Antonio memang tidak bisa di rem.
"Mas, kalau ngomong jangan gitu lagi ah. Apa salahnya Rhea naik motor, kalau mas takut Rhea kenapa-napa. Jelaskan baik-baik jangan langsung larang kaya gitu," ucap Khanza berbalik membelakangi Antonio.
"Sayang," seru Antonio berkata lembut, tetapi tidak dihiraukan Khanza. Malah tangannya ditepis saat memegang lengan saja.
"Aku ga mood bicara," balas Khanza.
Membuat Antonio menjauh dulu, tidak ingin semakin memperkeruh keadaan yang nanti malah dirinya diusir, apalagi dia tahu suasana hati bumil. Kadang baik dan sewaktu-waktu bisa berubah yah you know lah.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓