
"Vinno, Naila..." Sapa Antonio.
Antonio keluar bertepatan sekali dengan Khanza yang baru saja mengoleskan salep pada kakinya. Belum selesai mengoleskan salep di kakinya suara Antonio sudah mengitrupsi dengan sebuah pertanyaan yang membuat dirinya seketika menegang. Kalian pasti sangat hafal dengan sifat Mas Nio yang tidak menyukai istrinya tercintanya terluka sedikitpun di bagian manapun.
"Honey apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Antonio. Membuat tubuh Khanza menegang dan untunglah kakinya sempat di tutup pakai selimut.
"Ng-ngga ada apa apa kok mas," jawabnya gugup.
"Jangan bohong, sini biar mas liat," Antonio menarik tangan Khanza lembut ke depan, membuka kepalan tangan istrinya.
Antonio menatap Khanza, "Ini apa?"
"Itu ii-tu-"
"Itu salep buat kaki Khanza yang melepuh kak, terkena siraman kuah sop panas," sela Vinno yang menjawabnya.
"Salep, kaki melepuh," Antonio menatap Khanza meminta penjelasan, tetapi sebelum itu ia meminta Vinno dan Naila keluar. Sekalian membawa princess kebawah, nanti mereka akan menyusul.
"Vinno, nai.. Kalian bawa anak-anak kebawah duluan. Aku mau bicara dengan Khanza berdua," ucap Antonio, keduanya mengangguk.
"Ayo anak-anak ikut mama papa, kita ke bawah," ajak Naila. Semua beranjak dari ranjang, Naila juga membawa princess ke dalam gendongannya.
Arcell yang paling terakhir keluar, memberhentikan langkah kakinya. Anak tampan itu berbalik menghampiri mommy dan daddynya.
"Dadd, jangan buat mommy menangis. Abang ngga suka," bisiknya mengingatkan sang daddy.
"Tenang son, daddy tak akan melakukan itu. Dadd hanya akan memberi sedikit hukuman untuk mommy mu, karna mommy mu sudah nakal tidak jujur pada dad dan tak menuruti semua yang dadd beritahu," ujar Antonio berbisik balik di telinga putranya.
"Apa yang kalian bicarakan, mengapa berbisik," ujar Khanza kesal menatap keduanya.
"Tidak ada apa apa mom, abang turun duluan ya mom," katanya, lalu memberikan ciuman di pipi mommynya.
Sekarang di dalam kamar hanya tinggal mereka berdua. Sedari tadi Khanza asik memainkan bajunya, ia sebenarnya merasakan takut akan dimarahi suaminya.
"Mengapa diam hem, masih tidak mau menjelaskannya? Tentang kaki mu yang terkena siraman kuah sop panas," hardik Antonio bertanya dengan wajah marah di buat-buat.
"Maafkan aku mas," akhirnya Khanza bersuara pelan hanya mengatakan maaf.
"Maaf saja tidak cukup honey, sekarang jelaskan mengapa kamu tidak menuruti perkataan mas. Berapakali mas harus bilang, bahwa kamu belum boleh ke dapur untuk sekarang ini, karna kamu baru saja keluar dari rumah sakit-"
"Maafin aku mas, a-aku cuma pengen masakin kamu makanan yang kamu suka, itu saja," ucap Khanza memotong kalimat Antonio dan ia juga memeluk lengan suami itu, serta memberikan elusan agar emosin suaminya terkendali.
"Jangan memotong pembicaraan orang yang belum selesai bicara," tegur Antonio.
Hiks.. Hikss..
Suara tangisan Khanza membuat Antonio terdiam dan malah balik merasa bersalah. Antonio pun menarik istrinya ke dalam pelukannya serta mencium kepalanya dengan sayang.
"Sudah sudah, berhenti menangis honey," pinta Antonio.
"Hiks ma-afin a-aku ya ma..mas hiks," kata Khanza sesegukan.
"Iya mas maafin... Maafin mas juga sudah membuatmu sampai menangis seperti ini. Mas ngga bermaksud seperti itu, mas hanya ingin kamu mengerti setiap mas memberitahu mu, itu semua demi kebaikan kamu honey. Mas ngga mau sampai terjadi apa apa dengan mu." Khanza hanya mengangguk mendengar semua perkataan Antonio.
"Mana kaki mu yang terkena kuah sop panas? Mas ingin melihatnya!" Khanza langsung memundurkan badannya dan membuka selimut yang tadinya menutupi kakinya.
Antonio yang melihat kaki istrinya, ikut merasakan sakitnya. Ia sangat tak tega...
"Sudah di obatin?"
"Sudah tadi mas," jawabnya.
"Permisi tuan, maaf menganggu. Nyonya Erina meminta tuan dan nyonya untuk makan malam bersama," beritahu salah satu pelayan, yang diminta Erina untuk mendatangi kamar Antonio dan Khanza.
"Ya, sebentar lagi saya akan turun," sahut Antonio dingin.
Setelah mendengar sahutan dari tuannya, barulah pelayan itu pergi meninggalkan kamar tersebut.
"Ayo mas kita turun kebawah," ajak Khanza, baru saja ia ingin menurunkan kakinya. Suara Antonio membuat tak jadi menurunkan kakinya.
"Siapa yang mengijinkan mu untuk turun dari ranjang ini. Tetap disini, biar mas yang turun kebawah, kita makan bersama di kamar saja," pungkas Antonio. Setelah mengatakan itu, Antonio beranjak dari ranjang dan melangkah keluar untuk turun kebawah. Antonio tak mau menunggu sahutab dari istrinya dan memilih untuk cepat keluar dari dalam kamar.
Sekarang Khanza hanya bisa pasrah dan menuruti suami posesifnya...
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓