
Antonio melihat Khanza yang kini sedang membereskan barang-barangnya. Dia pun mendekati, duduk bersila dekat Khanza yang masih sibuk melipat pakaiannya.
"Em, m-mas! Aku lebih baik ngekost aja," ucap Khanza menunduk.
"Kenapa hem? Lihat saya! Apa kamu terganggu dengan kata-kata mama saya?" tanya Antonio lembut, memegang kedua bahu wanitanya.
Khanza mendongak, mereka saling menatap. Khanza mengangguk. "A-aku ng...ngga hiks-" air matanya meluncur membasahi pipi mulusnya.
"Sutt! Saya minta kamu jangan dengerin omongan mama tadi," Antonio membawa Khanza ke dalam pelukannya.
"Saya juga tidak akan membiarkan kamu ngekost, lebih kamu tinggal di apartement saja," cetus Antonio, seketika Khanza menggeleng dalam pelukan.
"Kalau aku tinggal di apartement sama aja mas yang dikatakan nyonya Erina berarti benar. Kalau aku cuma mau hidup dalam kemewahan aja. Aku gamau mas," tolaknya, karena dia tidak ingin tambah membenarkan perkataan nyonya Erina tentangnya.
Antonio pun memahaminya, dia tidak ingin wanitanya di pandang seperti oleh mamanya sendiri. Tetapi ia juga bingung, karna tidak mungkin membiarakan wanitanya ngekost.
"Begini saja saya akan kontrakan kamu dekat dengan kantor saya. Bagaimana?" harap Antonio agar Khanza menyetujuinya.
"Memangnya dekat kantor mas ada kontrakan?" bertanya balik.
"Sepertinya ada, nanti saya akan suruh Satya mencarinya. Malam ini kita nginep di hotel dulu saja," tukas Antonio.
"Tidak ada penolakan ataupun bantahan," sambungnya.
Khanza pasrah, karna tidak ada pilihan lain selain menurutinya. Lagian mau bermalam di mana sudah tengah malam begini? Pulang ke mansion juga dia tidak ingin. Jadi pilihan satu-satunya ya menginap di hotel.
Barang-barangnya telah selesai semua di masukan ke dalam tasnya. Antonio pun membawakan tasnya, tidak memungkinkan jika Khanza yang membawanya. Mereka segera keluar dalam kontrakan, menuruni tangga dengan berhati-hati.
Antonio memasukan barang di bagasi mobil. Sedangkan Khanza sudah duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi. Melihat Khanza yang belum memakai sabuk pengaman, Antonio mencondongkan badannya kepada Khanza untuk memasangkan sabuk pengaman tersebut.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil. Sampai di hotel pun Khanza tetap diam saja. Entah, mood sedang buruk sekali hari ini.
Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Khanza duduk di tepian ranjang. Diam melamun, bahkan tidak menyadari Antonio menyodorkan segelas air putih.
"Minum dulu," ucap Antonio bersuara, barulah bumil menyadarinya dan meminum air putih tersebut.
"Makasih," ucapnya bersuara sedikit parau.
Antonio mangut-mangut, "Sekarang istirahat ya," ujarnya.
"M-mas?"
"Kamu tenang saja saya akan tidur di sofa," Khanza mengangguk.
"Good night bumil," Antonio mencium kening bumil dengan lembut. Beranjak menuju sofa, melepaskan alas kakinya dan membaringkan tubuhnya di sofa dengan melipat kedua tangan ke belakang. Tidur tanpa menggunakan selimut, mungkin punggungnya akan sakit akibat tidur di sofa yang bahkan tidak bisa menampung badannya.
.
.
Setelah Antonio keluar begitu saja meninggalkan ruang tamu. Kini suasana disana menegangkan, apalagi kilatan amarah terlihat jelas pada diri nyonya Erina. Sedangkan sang suami Andreas hanya bisa menangkan emosi istrinya.
"Aku ga percaya ini Andreas, putra kita mengejar gadis itu," ujar nyonya Erina.
Clara pun mendekati dan duduk di samping nyonya Erina. "Sabar tante! Sepertinya gadis itu punya pengaruh besar terhadap Antonio," ucapnya.
"Tante ga bisa sabar Clara, gadis itu telah memperngaruhi anak tante," keluh nyonya Erina.
"Tante juga semakin yakin kalo gadis itu cuma mau harta kekayaan saja, mungkin gadis itu ingin hidup dalam kemewahan," sambung nyonya Erina.
Rhea yang duduk berada tidak jauh dari mereka, mendengarkan semua perkataan omanya. Tangannya mengepal, menahan emosi, karna sahabatnya terus di tuduh oleh omanya sendiri.
"Cukup oma!" seru Rhea berdiri dari duduknya, mengalihkan atensi semua orang dan menatap padanya semua.
"Sudah cukup oma fitnah mama Khanza. Begitu rendahkah sahabatku dimata oma sampai mengatakan bahwa dia hanya menginginkan harta kekayaan Horison saja. Jangankan harta ini oma, setiap Rhea ingin memberikannya uang untuk membantunya membayar kontrakan saja dia tidak mau menerimanya. Karna takut tidak akan bisa menggantinya, Rhea juga menawarinya untuk tinggal disini bersama. Dia kembali menolaknya, alasannya tidak ingin menumpang hidup. Sampai disini oma puas? Perlu oma tahu Rhea sudah sahabatan lama dengan Khanza, bahkan Khanza lah yang selalu menghibur Rhea di kala daddy dan mommy tidak berada di samping Rhea. Khanza satu-satu orang yang buat Rhea nyaman dengan kasih sayangnya yang tulus. Rhea juga sudah menganggap Khanza seperti mama sendiri, makanya Rhea senang saat daddy mengatakan ingin menikahi Khanza," Rhea sampai menangis tergugu setelah selesai menceritakannya. Lalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan mereka yang masih berada diruang tamu.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓