My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 20



Khanza sudah sangat letih sekali, jauhnya sudah perjalanannya tetapi satu pun belum mendapatkan perkerjaan. Malah ia selalu diusir, tapi itu tidak membuatnya pantang menyerah sebelum mendapatkannya.


Ditengah-tengah perjalanan menuju pulang dan akan melanjutkan besok pagi mencari perkerjaan.


Diseberang jalan Khanza melihat ada toko kue yang membutuhkan karyawan yang bisa membuat kue.


Khanza tersenyum, karena itu adalah ahlinya. Walaupun tidak seahli para pembuatnya, intinya dia bisa dalam mengolah kue. Dia pun menyebrangi jalan raya yang ramai para mobil lalu lalang, karena ini sudah sangat sore waktunya orang-orang pulang kerja dan ada yang pulang sekolah. Hanya sekolahnya saja yang mengadakan libur, entahlah memikirkan itu kepalanya menjadi pusing sendiri.


Sampai didepan toko kue tersebut, Khanza masuk kedalam dan menghampairi meja kasir yang berada diujung.


“Maaf mba menganggu waktunya, saya liat tulisan didepan sedang membutuhkan karyawan yang bisa membuat kue. Apa benar itu mba?" tanya Khanza.


“Iya benar sekali, toko kami sedang membutuhkan karyawan yang bisa membuat kue. Karna karyawan yang lama baru saja resign, pemilik toko kue disini juga kewalahan kalau harus membuat sendirian," jelas penjaga kasir tersebut.


“Kebetulan sekali mba, saya bisa membuat kue. Walaupun tidak jago-jago banget mba, tapi saya bisa membuat kue yang enak," ucap Khanza membuat penjaga kasir tersebut mengangguk saja.


“Kalau begitu besok pagi kamu bisa datang kesini dan di test untuk membuat kue," beritahu penjaga kasir tersebut menyuruh Khanza balik lagi kesini besok paginya.


“Saya pulang dulu mba, termakasih," saat Khanza sudah ingin melangkah keluar tiba-tiba penjaga kasir menghentikannya. Karena melupakan sesuatu yang belum ditanyakannya.


“Tunggu!" Khanza pun berhenti dan membalikkan badannya.


“Ada apa mba?"


“Oh, ya saya lupa menanyakan ini. Nama kamu siapa?"


Khanza mengulurkan tangannya.”Nama saya Khanza Almaira mba…” ucapnya tersenyum manis.


Penjaga kasir tersebut membalas uluran tangan Khanza“Lestia, oh ya kita ngomong tidak usah formal lagi," ucap Lestia nama penjaga kasir yang sudah diketahui Khanza.


“Oke mba, tapi ga pa-pa kan aku panggilnya mba," ujar Khanza.


“Iya ga apa-apa kok hehe," balas Lestia. Mereka berdua yang mulai akrab dalam mengobrol.


“Yaudah kalau gitu, aku balik pulang dulu mba," pamit Khanza diberi anggukan oleh Lestia.


Sudah berada diluar toko kue, bibir Khanza masih terhiasi oleh senyuman manis. Karena dia sangat senang akhirnya setelah jalan kaki yang cukup menguras tenaganya membuahkan hasil juga.


.


.


Keasikan olahraga, Antonio merasa ada yang sedang memandangi. Membuatnya akhirnya menoleh kearah pintu yang didesain dengan pintu dan dinding kaca. Semua ruang olahraga ini separuh didesain dengan kaca, menjadikan orang diluar melihat secara langsung ke dalam.


Didepan pintu ruang olahraga Khanza memandangi Antonio sambil melamunkannya. Dia sama sekali tidak sadar bahawa orang yang didalam sana sedang melangkah mendekatinya. Antonio sudah berada dihadapannya, masih tidak membuat Khanza tersadar dari lamuannya. Akhirnya membuat Antonio membuka suaranya dan berbicara.


“EHEM!" dehem Antonio sangat keras membuat lamunan Khanza seketika buyar.


“Ehh, eungg…” Khanza tersentak kaget.


“Kamu kenapa melamun sambil mandangi saya olahraga.”


Khanza menggeleng kaku.”Engga, siapa juga yang mandangi om. Lagian aku mau ngasih tahu, om baru sembuh langsung olahraga aja," ucapnya melarikan topik.


“Saya sudah fit kembali kok, rasanya badan saya tidak enak jika tidak berolahraga.” ujar Antonio.


Khanza mengangguk. Lalu pamit untuk kekamar membersihkan badannya dan baru habis itu ke dapur membantu Bi Inahya memasak untuk makan malam.


“Ehh, tunggu dulu!" Khanza memberhentikan langkahnya.


“Ada apa om?” tanyanya.


“Makasih ya sudah ngerawat saya," ucap Antonio tulus dan Khanza membalas dengan senyuman manis.


“Boleh saya request menu makam malam kali ini," pinta Antonio yang diberi anggukan oleh Khanza.


“Saya minta dibuatkan sup daging bening sama sambel," ucap Antonio ragu-ragu takut Khanza tidak bisa mengolahnya. Karena ia sangat menginginkan menu makan malam itu.


“Oke om, nanti aku buatkan," sahut Khanza lalu pamit menuju kamarnya.


Setelah Khanza menghilang dari pandangannya, Antonio tersenyum-senyum dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Dia tidak ingin lagi melanjutkan untuk olahraga kembali, karna menurutnya sudah cukup olahraga sore ini.


***


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓