My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 11



Sembilan bulan kemudian,


Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, kini kandungan Khanza memasuki usia sembilan bulan. Wanita itu juga sudah berada di rumah sakit sedari pagi. Antonia sang suami setia menemani sang istri ke rumah sakit. Sedangkan kedua putra mereka tidak di perbolehkan untuk ikut, jadilah twins hanya berada di rumah.


“Honey kamu mau kemana,” seru Antonio menatap sang istri yang turun dari tempat tidur.


“Aku mau pipis mas,” jawabnya.


“Sini mas antar ke toiletnya,” ujar Antonio mendekati sang istri, bermaksud menemani masuk ke toilet. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya saat di dalama toilet hanya sendirian tanpa dirinya.


“Aku masih bisa sendiri mas,” tolak Khanza.


“Honey jangan membantah, turuti saja mas. Ini demi kebaikan bersama,” tegas Antonio, istrinya memang selalu saja membantah perkataannya.


Khanza cemberut, dibuat kesal dengan Antonio. Padahal ia hanya ingin ke toilet saja dan itupun toiletnya masih berada di dalam ruangan mereka.


Akhirnya buang air kecil tuntas, saat sudah keluar dari toilet Khanza merasakan kontraksi kembali. Antonio membawa Khanza ke tempat tidur dan menyuruh istrinya agar berbaring. Ia pun segera memencet tombol yang berada di atas kepala tempat tidur.


Beberapa menit kemudia dokter datang dan memeriksa Khanza.


“Sus, siapkan semuanya. Nona Khanza sudah pembukaan terakhir,” perintah dokter kepada suster yang menemaninya.


“Tuan silahkan berada di samping nona,” ujar dokter, meminta Antonio agar berada di samping Khanza.


Proses melahirkan pun berjalan lancar, Khanza melahirkan seorang putra kembali. Antonio merasa bahagia menatap putranya. Wajah putranya persis seperti dirinya, hanya bibirnya saja yang mewarisi Khanza.


***


Khanza sudah dipindahkan lagi ke ruangan yang baru, itu semua Antonio yang meminta agar istrinya dipindahkan ke ruangan yang baru.


“Mas, nama buat putra kita sudah ada?” Tanya Khanza.


“Sudah honey, mas sudah mempersiapkan dari bulan-bulan yang lalu,” kata Antonio.


“Cepat mas kasih tau aku,” ujar Khanza tak sabaran ingin mengetahui nama sang putra.


“Farghani Almair Horison.”


“Wahh, namanya bagus sekali mas,”


Antonio tersenyum menatap sang istri. “Terma kasih sayang sudah memberikan mas anak kembali. Tetapi mas masih menginginkan banyak anak dari kamu. Dan pengen kamu hamil lagi,”


“Kamu kalau hamil tambah sexy dan makin ho-“


Belum selesai kalimat Antonio, Khanza sudah mencubit pinggangnya.


“Aduhh sakit honey.”


“Rasain, makanya jangan mesum.”


Tokk...tokk


Pintu kamar inap diketuk dari luar. Antonio baru ingat jika tadi pintunya ia kunci, dia berjalan untuk membukakan pintu. Seketika semua keluarga langsung masuk untuk melihat cucu ketiga mereka. Hanya Aditya yang masih berdiri dan menatap Antonio tajam.


“Kenapa pintunya di kunci? Kau tidak berbuat yang macam-macam kan An. Ingat Khanza baru saja melahirkan masa sudah mau kau gempur,” tukas Aditya.


“Aku tahu kali dit, mana mungkinlah aku menggempurnya saat baru saja melahirkan,” dengus Antonio, perkataan Aditya sangat menyebalkan di telinganya. Memang dia semesum itu, menginginkannya.


“Baguslah, kurangi sifat mesum mu itu,” kekeh Aditya. Sebenarnya ia hanya bercanda saja.


“Seperti kau tidak mesum saja,” balesnya berguman.


Antonio pun menutup pintu ruang inapnya dan mengikuti Aditya yang juga bergabung. Jelas sekali terlihat para wanita bergantian ingin menggendong putranya. Putranya sudah seperti bola saja, di oper kesana kesini oleh para wanita.


Lalu Antonio lebih memilih duduk bersama Andreas papanya yang hanya melihat kelakuan para wanita.


“Papa tidak ikut bergabung untuk menggendong cucu laki-laki ketiga papah?” Tanya Antonio menatap papanya.


“Tidak Xavier, nanti saja. Biarkan para wanita dulu yang menggendongnya,” ujar papa Andreas.


“Bolehkan papa meminta cucu perempuan dari mu dan Khanza,” perkataan papa Andreas seketika membuat Antonio terdiam. Dalam otaknya kenapa papanya meminta padanya bukan pada adiknya Vinno.


“Kita usahakan pah. Mengapa papa meminta cucu perempuan dariku? Kenapa tidak pada Vinno, aku dengar istrinya Vinno tengah mengandung,” tutur Antonio mempertanyakannya.


“Iya papa sudah mengetahuinya. Papa juga ingin anaknya Vinno perempuan, dan kamu juga nantinya ketika Khanza hamil lagi anaknya perempuan,” jelas Andreas. Ada sesuatu yang belum bisa ia ceritakan sekarang kepada keluarganya.


Antonio hanya mangut-mangut. Di lubuk hati terdalamnya juga berharap memiliki anak perempuan kembali. Tetapi kembali lagi pada yang di atas yang mengasih, mau anak laki-laki atau perempuan. Ia akan tetapi menerima dan menyayangi anak-anaknya. Karena menurunya mereka adalah anugerah.


****