My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 101



"Princess kenapa hem? masih marah sama abang gara-gara gak beli tas yang tadi kamu mau."


Queen mengangguk, lalu memandang keluar jendela tidak menatap mata abangnya. Walaupun tadi dirinya sempat merasa senang karena bertemu ayah sahabatnya, tapi saat berduan saja dengan abangnya dirinya kembali kesal ketika mengingat karena abang ia sampai tidak jadi membeli tas yang disukainya.


Arcell menghembuskan nafas, membiarkan princess marah. Arcell yakin nanti princess akan berhenti marah setelah mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


Mobil mulai melaju sedang, perjalanan membutuhkan 15 menit. Tidak terasa kedua sampai, satpam yang berjaga segera membukakan gerbang.


Arcell membuka pintu dan semuanya ruangan terlihat gelap. Queen yang penakut memegang erat ujung baju abangnya sambil merengek.


"Hiks abang aku takut, nyalakan blitz handphone abang." Rengeknya meminta Arcell menyalakan blitz di handphone, karena handphone miliknya lowbet.


Arcell pura-pura mematikan handphonenya agar adik percaya bahwa handphone juga lowbet.


"Yah, handphone abang juga lowbet sayang."


"Kamu tunggu sini bentar, abang cari senter." Arcell melepaskan pegangan tangan Queen di ujung bajunya. Segera pergi bepura-pura mencari senter, padahal ia berdiri diantara keluarganya.


Semua orang bersiap dengan mengelingi Queen, mereka membentuk lingkaran bulat dan Queen berada di tengah-tengah. Beberapa orang memegang konfeti yang siap ditembakan nantinya.


"Abang dimana, aku takut hiks." Queen mencoba berjalan sambil tangan lurus kedepan meraba-raba takut.


"ABANG!"


"SURPRISE!!!!"


"HAPPY BIRTHDAY PRINCESS!!!"


Suara teriakan Queen ketakutkan bersamaan dengan teriakan orang-orang yang mengejutkannya.


"Selamat ulang tahun aunty cantik." Raffa mendahului mereka semua memeluk Queen.


Queen masih terlihat kaget saat ini mengatur nafas untuk menormalkan debaran jatungnya. Melihat senyuman semua orang membuatnya juga ikut tersenyum.


"Makasih keponakan ganteng," balas Queen mengusap kepala Raffa.


Semua orang bergantian memeluk Queen dan mengucapkan selamat ulang tqhun padanya.


"Kita mau kemana kak?" tanya Queen pada Rhea kakak perempuannya.


"Ikuti saja sayang." Rhea memeluk bahu adik cantiknya dan membawa ke halaman belakang dimana disana sudah di persiapkan pesta.


Queen menutup mulutnya, gadis itu terharu melihat dekorasi yang indah. Semapat ia mengira bahwa semua orang tidak ada yang mengingat ulang tahunnya tapi ternyata ia salah. Bahkan mereka semua mempersiapkam diam-diam untuk mengejutkannya.


"Sekarang princess berdiri disini, kita akan bernyanyi. Setelah make a wish lalu baru tiup lilinnya," ujar Rey.


Semua orang bernyanyi, selesai bernyanyi. Queen memejamkan matanya berdoa membuat harapan.


'Yaallah jika bisa aku meminta, aku ingin mommy dan daddy berada disampingku dan meniup lilin bersama seperti ulang tahun ku yang sebelumnya.'


Air mata Queen menetes dan melihat semuanya penuh senyuman. Queen meniup lilin, semua keluarga menyaksikan dan bertepuk tangan.


"Selamat ulang tahun cucu oma tersayang, jangan menangis ya sayang. Ini spesial buat princess jadi harus bahagia." Oma Kirana menghapus air mata cucunya dan mencium pipi kanan dan kirinya.


"Selamat ulang tahun cucu cantiknya opa." Opa Aditya sampai mengangkat Queen ke dalam gendongannya.


"Opa turunin aku, nanti pinggang opa bisa encok loh," canda Queen membuat semuanya tertawa.


"Opa sering berolahraga sayang, jadi tidak akan encok," kata Opa Aditya menciumi wajah cucunya.


Arsen maju dan memeluk adiknya, "Princess cantik selama ulang tahun, maaf abang sering gaada waktu buat kamu. Tapi hari ini abang akan meluangkan waktu untuk princess."


Queen merangkum pipi abang Arsen, "Janji abang tidak boleh kelelahan dala, bekerja. Aku gak mau sampe abang sakit." pesannya.


Ghani yang pendiam dan selalu terlihat cuek maju memegang bahu sang adik. "Selamat ulang tahun princess cantik abang, maaf abang tidak pandai berkata-kata. Abang memang terlihat cuek, tapi sebenarnya abang selalu memperhatikan mu. Abang cuma mau kamu selalu ceria setiap harinya, itu saja sudah membuat kami juga bahagia. Karena-"


Ghani yang kesal dibuat Rey menoyor kepala adiknya, "Sopan sama abang, gak boleh asal motong omongan orang yang belum selesai."


Rey hanya biasanya saja dan malah memeluk adiknya sayang, "Selamat ulang tahun cantik, abang emang jail sama kamu. Tapi ketahuilah abang menyayangi mu melebihi apapun itu."


Rey mengakhiri dengan mencium pipi kanan dan kiri princessnya.


"Sekarang giliran abang bian." Rey menyingkir digantikan Bian.


Bian mengusap lembut kepala Queen. "Permintaan abang cuma ingin kamu selalu bahagia setiap harinnya."


Papa Vinno maju dan memberika kecupan di kening keponakannya hanya itu dilakukannya, lalu digantikan dengan mama Naila yang berhadapan dengannya.


"Mama memang bukan yang melahirkan mu, tetapi sedari kecil mama sudah menyayangi mu dan menganggap mu seperti putri kandung ku sendiri." Ungkap Naila.


Sekarang terakhir Rhea dan Leon maju secara bersamaan. "Kamu adalah anugrah terindah buat kami semua, kami menyayangi melebihi dari apapun." "Kebahagian kamu adalah nomor satu untuk kami semua."


"Sekarang saat kita merayakan ulang tahun princess!!"


Rey lah yang bersuara kesenangan. Semua orang merayakan dengan penuh kebahagiaan. Sampai Queen tertawa bahagia.


...****************...


"Queen!"


Rani terbangun dari mimpinya sambil mengucapkan nama anaknya. Ibu Tini dan bapak Tono yang mendengar teriakan Rani di kamar sebelah beranjak dari temoat tidur mereka masuk ke kamar Rani.


"Nak kamu kenapa?" tanya bu Tini padanya.


Pak Tono keluar dan mengambilkan air minum untuk Rani.


"Ini nak minum dulu." Pak Tono menyerahkan air minum tersebut pada Rani dan segera ditegak habis olehnya.


"Aku engga papa bu cuman mimpi buruk aja." Rani terpaksa berbohonb agar kedua orangtua tidak mengkhawtirkannya.


"Sekarang kamu tidur kembali, jangan lupa baca doa." Bu Tini mengingatkannya.


Kedua paruh baya itupun segera kembali ke kamar mereka meninggalkan Rani sendiri. Setelah kepergian kedua Rani mencoba bangun dan bersandar.


"Siapa Queen? Apakah dia ada hubungan denganku, mungkin dia kerabat dekat ku sampai-sampai hampir setiap malam aku memimpikan. Tapi bagaimana aku bisa mengenalinya wajah saja tidak jelas dalam mimpiki. Apa ini petunjuk supaya aku bisa bertemu keluargaku."


"Kenapa hati jadi tidak tenang setiap kali bermimpi Queen. Seperti ada sesuatu yang terjadi dengannya. Tapi apa, susah sekali rasanya mengingatnya."


Rani melangkah keluar kamar dengan pelan, ia berwudhu dan melaksanakam sholat tahajud.


"Yaallah berilah hamba kesembuhan, kembalikanlan ingatan ku agar aku bisa mengingat apakah diriku ini masih memiliki keluarga dan semoga gadis yang selalu ku mimpikan beberapa hari selalu dalam lindungan mu."


Selesai sholat Rani melipat kembali mukena dan sajadahnya. Lalu kembali berbaring tetapi matanya sangat susah untuk terlelap.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasihđź’“