
Laura masih berdiri diam didepan pintu ruang icu. Semantara Antonio mengikuti dokter untuk melakukan pengecekan darah yang akan didonorkan.
"Ya tuhan bagaimana ini. Haruskah rahasia yang selama ini ku tutup rapat, terbongkar sekarang," guman Laura sambil berjalan mondar mandir.
"Apa yang harus kulakukan, tidak tidak. Aku harus menyiapkan diri menerima kemarahan Antonio," gumannya berbicara dengan air mata mengalir terus membasahi pipinya.
Laura menengok kedalam ruangan, disana terlihat jelas putrinya terbaring lemah dengan dipenuhi alat-alat. Sungguh hati seorang ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya tidak berdaya didalam sana.
Ingin rasanya dia saja yang berada didalam sana, menggantikan putrinya. Tapi sayangnya itu tidak bisa.
"LAURA!!!" seru Antonio sedikit keras dan terdengar nada dingin yang kentara.
Laura yang mendengar namanya dipanggil dengan suara itu. Tubuhnya seketika menegang, ketakutkan yang tidak dirasakanya. Sekarang menyerangnya kembali dan makin parah.
'Tenang Laura, kamu harus bisa bersikap tenang." batinnya.
"Kenapa dad?" tanya Laura ketika sudah berbalik badan.
Antonio maju, berjalan mendekat pada istrinya. Laura refleks mundur kebelakang dengan Antonio yang terus saja berjalan maju.
"Stopp!" sergah Laura mengangkat tangan tepat berada di dada, membuat Antonio berhenti melangkah maju.
"Siapa ayah Rhea?" tanya Antonio to the point, Laura hanya diam, membuat Antonio mengeram.
"Siapa? Jawab!" tekan Antonio.
"D-dia di-..."
"Anak saya," jawab orang yang berada dibelakang Antonio siapalagi kalau bukan Bagaskara.
Seketika itu juga Antonio menoleh kebelakang mendapati orang yang menjawab pertanyaan diajukan kepada Laura.
"Rhea adalah putri kandungku. Dan ya, akulah yang mendonorkan darah untuknya," ucap Bagas.
"Kamu! Dasar brengsek" umpat Antonio memukul wajah Bagas dengan sangat keras.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Tolong jangan berkelahi disini tuan, pasien lain akan terganggu," kata satpam tersebut dengan bersikap baik. Dia tahu siapa kedua orang yang sedang berhadapan dengannya.
"Sudah cukup tuan!" tegas satpam memberanikan diri mencegah Antonio yang ingin meninju wajah Bagas kembali.
Antonio beralih kearah Laura hanya sebentar, lalu membuang mukanya kearah lain. Setelah itu pergi untuk menenangkan dirinya, meninggalkan kedua orang tersebut. Satpam yang tadi melerai mereka juga sudah pergi.
"Laura!"
"Cukup Bagas! Kenapa kamu lakukan ini sama aku hah? Kenapa!" kata Laura memukul dada Bagas.
Bagas memegang bahu Laura dan mendorongnya hingga terduduk dikursi. Dia juga ikut duduk disebelahnya.
"Dengar baik-baik Laura! Sudah cukup waktu tujuh belas tahun aku tidak pernah dekat dengan putriku... Sudah cukup, aku hanya bisa memandangnya lewat foto, video. Sekarang aku ingin dekat dengan putriku, tapi tenang saja aku tidak akan memaksanya untuk tinggal bersamaku. Aku akan mencoba mendekati putriku perlahan-lahan, agar dia bisa menerimaku sebagai papanya."
Bagas mengatakan itu dengan mata yang memerah. Padahal dia bukanlah orang yang gampang mengeluarkan air mata. Tapi sekarang dia menangis, hanya untuk putrinya. Dia begitu sangat mendambakan seorang anak, karena istrinya tidak bisa memberikan keturunan. Bagas tidak bisa menceraikan istrinya, karena cintanya begitu dalam.
Walaupun kekhilafan ini sudah dia ceritakan pada istrinya. Sempat takut akan diceraikan, tapi jawaban istrinya sangat membuat terkejut. Awalnya istrinya menangis setelah dia menceritakan semua kesalahannya, tapi setelah itu istrinya menyuruhnya untuk menikahi Laura. Istrinya juga bilang, ingin bertemu Rhea putrinya dan menganggap Rhea seperti anak kandungnya sendiri.
"Dengar Bagas, aku tidak tahu apakah Rhea akan menerima semua ini atau tidak. Kamu tahu, Rhea sangat menyayangi Antonio. Satu lagi, tolong jaga Rhea. Aku ingin menenangkan diri dan menjelaskan kepada Antonio. Aku ingin berubah Bagas! Aku tidak bisa begini, sekarang aku sudah sangat sadar dan ingin berubah dan memulai memperbaiki rumah tanggaku," jelas Laura mengatakan itu semua.
"Aku dukung kamu Laura, maafin semua kesalahanku. Jika kamu tidak keberatan bekerjalah lagi dikantorku, aku akan menempatkan kamu sebagai general manager," kata Bagas.
"Makasih tawarannya Bagas. Tapi maaf sekali, aku tidak bisa lagi bekerja dengan mu. Mulai sekarang aku ingin menjadi ibu rumah tangga," balas Laura tersenyum.
"Tidak pa-pa Laura," ucap Bagas.
"Kalau begitu aku pergi dulu, titip Rhea jaga baik-baik." ujar Laura berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan Bagas seorang disana.
***
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓