
Dimansion Rhea menuruni tangga untuk mencari Antonio dibawah. Karena tadi ia sempat mencari dikamar ternyata tidak ada orangnya.
"Pagi bi," sapa Rhea, melihat Bi Inahya menyiapkan menu sarapan pagi.
"Pagi juga non cantik," bales Bi Inahya.
"Bi, ada lihat daddy ga?" tanya Rhea sama sekali tidak melihat keberadaan Antonio.
"Tuan, gak tahu non. Udah cek kekamar non, takutnya tuan masih tidur," ucap Bi Inahya.
"Udah tadi bi, tapi kamarnya kosong. Makanya aku turun ke bawah siapa tahu daddy disini... Eh! ternyata sama aja daddy gaada," Rhen pun duduk di kursi meja makan.
"Kenapa ga non telpon aja tuan,"
Rhea melihat kearah Bi Inahya yang berada disebelahnya."Bibi benar, kenapa sedari tadi tidak kepikiran menelpon saja. Makasih ya bi," ucapnya sumringah.
Panggilan nada dering kedua barulah diangkat.
".........."
"Daddy dimana?"
".........."
"Iya dad, Rhea ga mau nitip apa-apa.
".........."
Tutt...tutt! Bunyi telpon yang menandakan bahwa sudah dimatikan.
"Huuhh!" Rhea menghela nafas, dirinya merasa kesepian di mansion sebesar ini. Andai saja dia punya adik pasti seru dan mansion ini pasti rame. Karena adanya anak kecil yang banyak.
Rhea menjadi mengkhayal memiliki adik bayi yang lucu-lucu dan mengemaskan.
"Pengen banget punya dedek bayi," gumannya.
.
.
Masih dirumah sakit, Antonio mengelus perut Khanza yang sedari tadi merasakan kenyamanan dengan elusannya.
Antonio menjadi bimbang meninggalkan Khanza. Ia takut jika Khanza muntah-muntah kembali dan tidak ada yang membantunya.
"Om," panggil Khanza lemah.
"Kenapa sayang, ada yang kamu butuhkan," ucap Antonio yang malah membuat Khanza merona, akibat panggilan sayang.
"Wajah kamu kenapa merah sayang," goda Antonio, sebenarnya tahu penyebab wajah Khanza memerah seperti itu. Ya, karena panggilannya.
"Om, apaan sih!" seru Khanza cemberut mendengar godaan pria tua dingin disampingnya. Tidak menyangka pria dingin ini bisa menggodanya juga, padahal ia selalu takut jika menatap mata tajam milik pria itu.
"Udah, udah ya sayang. Tadi kamu mau ngomong apa," kata Antonio mengakhirinya karena melihat wajah Khanza yang cemberut terhadapnya.
"Om mending pulang aja, pasti Rhea nyariin nanti," ujar Khanza.
"Saya tidak bisa meninggalkan kamu, apalagi dalam keadaan seperti ini. Tidak ada yang menjagamu," tolak Antonio.
"Banyak perawat disini om, jadi gausah khawatir. Nanti aku akan panggil mereka kalau butuh apa-apa,"
"Tetap saja saya tidak bisa meninggalkan kamu sendiri," kekeh Antonio, ia tahu disini pasti banyak saja yang membantu. Tapi yang ditakutkannya adalah Khanza kabur, karena tidak ingin dinikahinnya.
"Pleaseee... Aku mohon om pulang ya, om juga butuh istirahat. Kalau yang om takutkan, aku bakal kabur itu ga mungkin, dengan keadaan ku yang masih lemah ini," Khanza bangun dan bersandar dengan ranjang yang dinaikan agar sandarannya lebih nyaman. Ia juga kembali menatap Antonio, yang sepertinya masih enggan dan betah berada disini.
Setelah berpikir lama, akhirnya Antonio mengangguk. Lalu berdiri, sebelum pergi ia memeluk Khanza sangat erat dan mendaratkan kecupan di leher jejang gadisnya.
Kecupan singkat itu menimbulkan gelenyar aneh didalam tubuh Khanza. Ia malah menginginkan lagi, tetapi menahan sesuatu itu.
"Saya pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik. Kalau ada apa-apa telpon saya, nanti saya akan kembali secepatnya," pamit Antonio, ia mengecup singkat bibir Khanza lalu berjalan dengan cepat kearah pintu.
Bunyi pintu yang tertutup terdengar ditelinga Khanza dan membuat gadis itu tersadar dari keterdiaman.
"Dasar om om tua, mesum lagi." omelnya saat Antonio tidak ada lagi didalam ruangannya.
Sudah dua kali bibirnya dijamah Antonio dalam satu hari ini. Tapi anehnya dia diam saja, seperti orang yang menikmatinya ciuman tersebut. Tidak melakukan perlawanan, protes sama sekali ataupun marah. Hanya keterdiaman, tubuhnya juga merespon saat ciuman yang mereka lakukan.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓