
Di dalam mobil hanya ada keheningan yang terjadi. Antonio sendiri sibuk fokus dengan tab ditangannya, sedangkan Khanza lebih memilih menatap jendela untuk menghindari bertatap muka dengan pria disampingnya. Entah pria tua disampingnya menyadari kalau dia sedang marah atau tidak.
Antonio merasa mood wanita disampingnya masih kurang baik, memilih diam.
"Dasar nyebelin, ngeselin, bodo amat," gerutu Khanza dengan rasa mendongkol, tatapan masih keluar jendela. Bahkan membukanya.
"Kamu kenapa?" ujar Antonio, menyimpan tab.
"Gak papa," jawab Khanza tidak menoleh sedikitpun kearah pria disampingnya.
"Liat sini dulu sayang," Antonio berkata lembut. Memegang rahang pipi Khanza agar wajah wanitanya menatap kearahnya.
"Apaan sih om," ceplos Khanza memanggil 'Om' pada Antonio.
Bila Khanza sudah menyebut 'Om' berarti memang suasana hatinya lagi kurang baik.
"Sikap kamu aneh, sayang. Kamu masih marah soal saya ngelarang Rhea naik motor tadi. Kalau itu saya minta maaf, saya akan jelasin sekarang juga sama kamu biar ga marah lagi,"
"Aku gak papa kok, cuma suasana hati aku lagi ga bagus. Rasanya pengen marah-marah... Hiks," kata Khanza diakhir dengan isakkan.
Mendengar isakkan wanita disamping, Antonio menutup gorden pembatas mobil, baru mengangkat bumil, mendudukan dipangkuannya.
"Sutt! Sayang udah ya jangan nangis lagi, maafin saya," kata Antonio lembut, menciumi kening wanitanya dengan sayang.
"Hiks, m-mas ga sa...lah hiks," ucap Khanza sesegukan.
"Udah ga ada yang salah disini, berenti nangisnya. Kalau mamanya nangis, nanti anak kita ikutan sedih juga di dalam sini," bujuk Antonio sambil mengelua perut Khanza.
Setelah Antonio mengucapkan itu, Khanza langsung menghentikan tangisannya. Antonio menghapus sisa air mata di pipi wanitanya dan membersihkan ingus dengan mengelap pakai tisu. Ia melakukan tanpa adanya rasa jijik sedikitpun, mungkin dirinya sangat mencintai wanita dipangkuannya ini.
Selama perjalanan pulang, Khanza tidak berpindah dari pangkuan Antonio.Terdengar dengkuran yang menandakan seseorang tertidur, Antonio sedikit menunduk dan melihat wajah Khanza yang tertidur dengan nyamannya di dada bidangnya.
"Lelap sekali tidurnya," Antonio bicara pelan.
Mobil berhenti didepan mansion tetapi Khanza belum bangun dari tidur lelapnya. Antonio tidak tega membangunkan wanitanya. Bahkan pintu mobil telah dibukakan oleh Alvaro.
"Apa tuan perlu bantuan?"
"Tidak, saya bisa sendiri," Antonio turun dengan susah payah, tapi tetap berusaha. Wanitanya belum terbangun juga, malah semakin mencari kenyamanan di dada bidangnya. Tangan wanita juga mengalung dilehernya.
Saat masuk ke dalam mansion terlihat gelap sekali. Antonio berjalan beberapa langkah, hingga lampu kembali menyala.
"SURPRISE!!!"
Teriakan Rhea, Bi Inahya, Maman dan beberapa pelayan lainnya berbaris rapi. Menyambut kedatangan Antonio dan Khanza.
"Eugh!" guman Khanza bergerak-gerak dalam gendongan Antonio.
Rhea dan yang lainnya terdiam, ketika menyadari orang yang diberi kejutan ternyata tengah tertidur pulas dalam gendongan.
"Tidur lagi ya," ucap Antonio, setelah beralih ke semua orang.
"Maaf dad," kata Rhea menunduk.
Antonio malah melenggang pergi memasuki lift tanpa menjawab permintaan maaf Rhea. Bukan Antonio marah, tapi dia sedang menggendong Khanza yang tertidur tidak nyaman. Maka dari itu dia secepatnya menuju ke atas, memindahkan Khanza ketempat tidur, agar lebih nyaman.
Membuka pintu dengan tangan sebelah, walaupun sangat susah Antonio berusaha. Setelah pintu terbuka dia masuk dan membaringkan Khanza di ranjang, tidak lupa mengecup kening wanitanya. Sebelum turun ke bawah, Antonio masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓