
Sore harinya, wanita yang baru saja melahirkan itu sudah berada di dapur dan berkutat dengan bahan masakan. Sedari tadi mama mertuanya melarangnya untuk berada di dapur, tetapi wanita tetap memaksa agar diperbolehkan ikut membantu memasak.
"Lebih baik kamu istirahat saja nza, biar mama sama bibi saja yang masak buat makan malam," cerewet Erina tidak bisa berhenti bicara melarang menantunya.
"Yang dikatakan nyonya benar non, mending nona istirahat saja dikamar. Apalagi kan nona baru saja pulang dari rumah sakit," timpal Bi Inahya yang ikutan membujuk.
Bukannya pergi, Khanza malah merangkul mama mertuanya dan Bi Inahya, "Mama sama bibi jangan khawatir, aku sudah sangat sehat. Jadi please jangan larang aku buat bantu kalian masak!" katanya memelas.
Erina menghela nafas kasar dan menyerah melarang Khanza, karna menantunya sangatlah keras kepala.
"Baiklah! Kamu boleh memasak, tapi hanya satu masakan, jika sudah selesai langsung kembali istirahat. Tidak ada bantahan nza," tegas Erina tak terbantahkan, ini semua demi kebaikan bersama.
Mendengar apa yang dikatakan mama mertuanya, Khanza langsung bersemangat. Ia tidak akan banyak protes lagi dan mengangguk bersemangat melanjutkan masak kembali.
Tak terasa sop daging sapi yang ia masak telah mateng. Ia mengambil mangkuk berukuran besar, disaat sop yang dituangkan ke dalam mangkuk hampir habis, terdengarlah teriakan membahana yang mengagetkannya sampai air sop yang tinggak sedikip tumpah di kakinya.
"Awsshh..." ringisnya merasakan panas akibat tumpah air sop yang memang masih panas.
"Yaallah Khanza, ayo mama bantu ke kamar mandi," Erina pun memapah Khanza di bantu Bi Inahya dan membawanya ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi Erina langsung menyiram kaki Khansa yang terkena tumpah sop tadi.
"Tuhkan apa mama bilang mending kamu istirahat saja tadi. Pasti jika Xavier tahu kaki mu melepuh begini, dia akan marah," ujar Erina bersungut-sungut.
"Maaf ma, tadi aku kaget mendengar terikan Rey," kata Khanza.
"Yasudah tidak papa, lebih kamu istirahat ya nza. Biar mama telpon Vinno agar mampir kesini dan memeriksa kaki mu," tukas Erina, membuat Khanza mengangguk menurutinya dan langsung melangkah keluar.
"Mom-mommy hiks... Abang Ghani marah marah sama Rey," adunya sesegukan menangis. Sebelum bertanya Khanza menggendong putranya, lalu membawa menuju ke lantai atas. Nanti saja dia akan menasehati Farghani putranya itu.
Sesampai di kamar, suara Antonio menyambutnya dan bertanya kenapa dengan Rey? Yang menangis sampai sesegukan seperti ini.
"Loh honey, Rey kenapa?"
"Daddy hiks, abang Ghani marahin Rey hiks."
"Memangnya kenapa sampai abang Ghani marahin Rey?" tanya Antonio lembut dan mengambil Rey dari gendongan istrinya.
"Tapi janji dadd jangan marahin Rey ya hiks."
"Tadi Rey gangguin abang belajar dadd, habisnya Rey bosan main sendirian. Abang abang semua sibuk belajar, nda ada yang mau nemani Rey bermain," katanya jujurnya, yang malah membuat Khanza yang berbaring di ranjang sambil menyusui Queen terkekeh mendengar pengakuan jujur putranya. Sedangkan Antonio hanya bisa menggeleng saja mendengarnya.
"Berarti yang salah abang atau Rey?" pancing Antonio bertanya.
"Rey ehh nda, tetap abang yang salah karna udah marah marah sama Rey," jawabnya lucu. Membuat tetawa akan tingkah putranya ini.
"Kita mandi dulu ya nak, nanti kita temuin abang Ghani," ujar Antonio.
"Mau sama mommy," ucap Rey ingin turun dari gendongan Antonio. Segera menghampiri mommy nya yang berbaring dan memeluknya dari belakang.
"Mau di mandiin mommy," manjanya.
"Rey mandi sama daddy ya nak, nanti besok baru mom yang mandiin. Adeknya Rey masih laper sayang, jadi tidak bisa mom tinggalkan," ucap Khanza memberitahu putranya dengan nada lembut, memberinya pengertian.
"Oke mom, mom Rey boleh cium adek nda?" tanyanya lucu.
"Boleh dong sayang," jawab Khanza, putranya itu langsung turun mengitari ranjang untuk berpindah ke sebelah kanan.
Rey memberikan ciuman bertubi-tubi pada Queen, hingga membuat bayi lucu itu merasa tak nyaman dan menangis. Khanza sigap menepuk pantat bayinya, menimang-nimangnya.
"Baby diam mom, lucunya adek Rey," katanya gemas.
"Rey! Ayo nak, katanya mau mandi sama daddy," suara Antonio memanggil putranya. Rey pun menyudahi mencium adiknya dan melompat ke gendongan daddy. Kedua masuk ke dalam kamar mandi.
Queen yang sudah selesai menyusu hanya diam saja, kadang Khanza yang ikutan gemas mencium bayi lucunya. Khanza yang teringat, jika ia belum menyiapkan baju untuk suami dan putranya, segera beranjak dari ranjang, berjalan tertatih menuju walk in closet memilihkan pakaian untuk suami dan putranya dan meletakannya di atas ranjang. Dirinya kembali berbaring sambil tangannya menimang bayi lucunya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓