
Entah, Khanza nya lupa untuk melihat dulu ke sebuah kaca samping pintu. Dia membuka kuncian pintu, setelah itu baru pintunya.
Kreek.... (anggap aja suara pintu terbuka)
"Aaaa..." pekik Khanza.
'Buk'
'Buk'
'Buk'
Khanza terus-menerus memukul orang itu dengan sapu. Tanpa tahu siapa orang telah dipukulinnya.
"Kamu siapa?" tanya Khanza, kembali ingin memukul kembali.
Tetapi...
"Stopp! Stopp sayang ini aku suami kamu," ujar Antonio. Membuat Khanza menghentikan pukulannya, sapu yang di tangannya terjatuh kebawah begitu saja.
"Mas Nio!"
"Khanza, ada siapa? Kenapa suara ribut sekal-"
"Kirana," "Antonio," serempak keduanya berbarengan.
"Masuk dulu Antonio," ucap Kirana menyuruh.
Sedangkan Khanza terlihat bingung menatap keduanya bergantian. Lalu mengikuti mereka berdua berjalan berbarengan menuju sofa.
Suasana menjadi begitu canggung, Khanza hanya berdiam saja dengan dahi mengeryit bingung. Merasa bosan dengan hanya diam saja, akhirnya Khanza membuka suaranya..
"Mas, kamu ngapain kesini?" mata Khanza menyipit menatap suaminya.
"Jemput kamu pulang," jawab Antonio singkat.
"Mas tau aku disini darimana," ujar Khanza.
"Sayang..."
"Mas, sayang... Apa kalian-"
"Kami sudah menikah, dan istri saya ini lagi mengandung," potong Antonio menyela ucapan Kirana.
"Apa sudah menikah," terkejut, Kirana menatap Khanza meminta jawaban.
Khanza mengangguk....
Kembali terjadi keheningan diantara mereka bertiga, dalam kepala mereka masing-masing memikirkan sesuatu.
"Apa kalian saling mengenal?" ditengah keheningan Khanza kembali membuka suaranya dan mengejutkan keduanya. Sedari tadi mulutnya sudah gatal untuk menanyakan itu.
"Ya, sayang kami saling mengenal. Karna dulunya kita bersahabat," cetus Antonio.
"Ouh, Bu Kiran ternyata sahabat mas..."
"Eum, apa kalian akan menginap disini atau pulang," Kirana mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin nanti pembahasan ini mengarah ke arah lainnya. Yang akan mengingatkan tentang masalalu kembali.
"Sebaiknya kami pulang saja," ujar Antonio membuat Khanza menggeleng tak ingin.
"Kenapa ngga mau pulang?" tanya Antonio heran dengan istrinya.
"Aa..aku masih pengen disini, bolehkan bu?" Khanza menatap Kirana memohon agar dibolehkan menginap disini. Dia merasa sangat nyaman berada ditempat ini.
Kirana tak tega melihat Khanza yang seperti sangat ingin menginap di tempatnya. Dia pun mengangguk membolehkannya...
"Makasih Bu Kiran," tanpa sadar Khanza memeluk Kirana dengan eratnya.
"Yasudah lebih baik kita tidur kembali, dan untuk kamu An. Jika ingin menginap tidak pa-pa, karna kalian juga sudah sah," Kirana berdiri, pergi ke kamarnya duluan.
Kini ruangan tamu hanya tinggal mereka berdua. Khanza melirik suaminya, malah memegang memar yang berada di dahinya. Melihat itu dia meringis sendiri dan merasa bersalah telah memukuli suaminya, tapi ini juga bukan sepenuhnya salahnya, siapa suruh suaminya mengetuk pintu tidak bersuara.
Kan jadinya ia mengiranya maling....
"Mas, nginap disinikan?"
"Memangnya mas bisa pulang tanpa kamu, kan tujuan mas kesini buat jemput kamu."
"Tapikan aku ga mau pulang mas, aku pengen disini."
"Iya mas ngerti sayang, makanya mas mau disini nemanin kamu. Apalagi-"
"Apa mas, jangan aneh-aneh deh. Ini rumah bu Kiran, jadi gaada begituan," potong Khanza menyela kalimat suaminya, yang memang bisa ditebak maksudnya.
"Loh bukan mas ya yang ngomong, tapi kamu. Apa jangan-jangan kamu mau ya sayang, makanya kode'in mas," Antonio mengerlingkan matanya.
"Ishh... Udah ya mas, aku ga bakalan mempan sama godaan kamu," sungut Khanza.
Meraih tangan suaminya agar segera berdiri dan mengikutinya menuju kamar. Khanza membuka knop pintu dan mereka masuk bersamaan.
"Hmm, bagus juga kamarnya," guman Antonio.
"Kamu ngomong apa mas?" tanya Khanza yang tidak terlalu jelas mendengarnya.
"Kamarnya bagus sayang," ujar Antonio dan duduk di tepian ranjang.
"Betul mas, kamar ini juga nyaman. Makanya aku mau menginap disini," sahut Khanza.
"Mas tunggu disini dulu ya, aku mau ambil air dingin buat kompres memarnya," Khanza berjalan, keluar dari dalam kamar menuju dapur.
Matanya melihat piring bekas makannya tadi yang masih berisi sedikit nasi gorengnya. Merasa sayang ingin membuangnya Khanza berpikir akan menyuruh suaminya untuk menghabiskannya.
"Itu apa sayang?" tanya Antonio melihat Khanza tak hanya membawa baskom kecil berisi air dingin. Tetapi juga makanan yang entah dia tak tahu makanan apa itu, karna Khanza masih berjalan menuju ke tempatnya.
Khanza meletakan nampan di atas nakas. "Tadi aku buat nasi goreng mas, tapi ga habis. Gara-gara denger suara ketukan pintu. Yang aku kira maling, tapi ternyata kamu... Kenapa aku bawa kesini, karna aku pengen kamu yang ngabisin. Sayang kalau di buang-buang makanannya. Eum.. Tapi itupun kalau kamu mau mas, kalau ngga mau ga pa-pa. Aku ga maksa kok..."
Antonio tersenyum mengangguk, kebetulan perutnya juga terasa lapar. Karna belum makan sama sekali, terakhir ia makan bersama istrinya di kantor, 13 jam yang lalu. Pantas saja dia merasakan lapar.
"Sebelum itu aku kompres dulu memar kamu mas," Khanza mencelupkan handuk kecil bersih pada baskom yang berada di pangkuannya. Lalu memeras kain handuk tersebut, dengan penuh kehati-hatian dia membawa ke memar di dahi suaminya.
"Awshh..." ringis Antonio ketika handuk basah itu mengenai memarnya.
"Maaf mas, tahan ya," ucapnya, meletakan handuk itu kembali ke dalam baskom, menaruh baskom dilantai sedikit jauh dari kaki mereka. Barulah Khanza mengelus memar di dahi suaminya dan sesekali meniup mengurangi rasa sakitnya.
Terakhir menciumnya.....
"Apa masih sakit mas?"
"Sudah agak berkurang sayang, apalagi mendapatkan ciuman sebagai obatnya."
"Hemm!" dehem Khanza malas. "Sekarang mas makan dulu baru istirahat," dengan memanjangkan tangan, mengambil piring berisi nasi goreng di nakas dan menaruh ke pangkuan suaminya.
"Mas maunya disuapin," tangkas Antonio.
"Kamu kan bisa makan sendiri mas, lagian yang memar dahi kamu bukan tangan kamu. Jadi makan sendiri, aku temenin," tukas Khanza, tetapi Antonio malah diam saja. Bahkan nasi goreng tetap berada di pangkuan tanpa di sentuh sama sekali.
Khanza memutar bola matanya malas. 'Tumben banget sih mas Nio jadi manja begini, biasanya juga nggak." batinnya.
"Sayang mas liat ya! Kamu mau mas hukum, ngga baik memutar bola mata seperti di hadapan suami. Mas ngga suka," ketus Antonio.
Mendengar nada suara Antonio, membuat Khanza menjadi takut. Selama bersama Antonio, ia tak pernah mendengar Antonio berbicara seketus itu padanya. Apa dirinya keterlaluan...
"Maaf mas," ucapnya menunduk tak berani menatap.
Antonio masih diam dan memakan-makanannya tanpa menghiraukan istrinya. Sepertinya sebentar lagi istrinya akan menangis, tapi Antonio memilih untuk diam saja. Sampai makanannya habis, ingin membawa nampan tersebut ke dapur. Tapi suara Khanza menghentikannya.
"Ngga usah mas, biar aku aja yang bawa ke dapur," ujar Khanza mencoba untuk tenang, menahan air matanya yang ingin turun. Sekarang dirinya menjadi lebih cepat cengeng.
Tanpa menghiraukannya Antonio tetap membawa nampan tersebut menuju dapur. Dan kembali lagi ke kamar, terlihat disana istrinya sudah berbaring membelakanginya.
Antonio menghembuskan nafas berat, ia menjadi tak tega kalau seperti ini. Dia pun membaringkan dirinya di tempat tidur.
"Hadap mas sekarang!"
Karna Khanza masih bertahan untuk tidak menghadap Antonio. Antonio yang paham, menggerakan tangannya dengan sekali sentakan Khanza langsung menghadapnya.
Terlihat lah wajah sembab Khanza, dipenuhi air mata. Antonio membawa tangannya dan menghapus air mata di pipi istrinya.
"Sudah, jangan menagis lagi," ucap Antonio.
"Maafin aku," ulang Khanza meminta maaf lagi.
"Mas maafin kamu, tetapi jangan diulangi lagi," Khanza mengangguk....
"Sekarang kita tidur..."
'Cup'
Antonio mencium kening istrinya, membawanya ke dalam pelukan hangatnya. Dengan tangan menjadi bantalan dan bersama terlelap tidur.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓