My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 117



Sudah hampir satu jam lamanya posisi Antonio tak bisa bergerak kemana-mana akibat seorang gadis kecilnya berada dipangkuannya tengah memeluk erat lehernya. Bahkan kepala gadis tersebut tenggelam di ceruk lehernya, sampai terdengar jelas suara cegukan, setelah usai menangis melepas rindu.


"Princess sayang, daddy bau loh belum mandi, terus keringatan lagi. Lepas dulu dong pelukannya, nanti dilanjutkan setelah daddy sudah mandi."


Antoni mencoba membujuk Queen. Ternyata tidaklah mempan, pelukan pun malah makin mengerat.


"Aku enggak mau lepas, nanti daddy pergi lagi. Aku betah kok peluk daddy walaupun daddy belum mandi dan keringatan. Hidung aku tidak mencium bau apapun. Bagi aku daddy tetap haruuuummm." Queen mengucapkan kalimat yang panjang diakhirannya.


"Gak boleh bohong sayang, orang daddy bau gini malah kamu bilang harum. Bohong banget ihh." Saking gemasnya Antonio mencium kepala putrinya.


"Ayo dong sayang lepasin pelukannya! Daddy mau menjenguk abang Ray ke rumah sakit, Queen emang engga mau ikut kesana," ucap Antonio.


Queen tiba-tiba saja melepaskan pelukan dari Antonio dan turun dari pangkuan.


"Kenapa sayamg?" tanya Antonio, putrinya terlihat aneh.


"A-aku gak papa daddy. Daddy siap-siap sana, kasihan abang pasti udah nungguin daddy," ucap Queen bicara setenang mungkin.


"Kamu juga siap-siap, kita sarapan bareng. Lalu pergi bersama ke rumah sakit," kata Antonio mencium kening putrinya. Lantas segera menuju kamarnya di lantai atas.


Semantara Queen masih tak bergeming di tempatnya. Wajahnya nampak sedih mengingat bagaimana peringatan keras abang Arcell padanya.


"Aku tidak bisa kesana hiks, aku harus mencari alasan agar tidak ikut ke rumah sakit," gumamnya sedih.


"Walaupun aku enggak kesana, aku selalu mendoakan kesembuhan abang Ray," ucapnya lalu pergi duduk di meja makan menunggu daddynya.


Tak lama kemudian Antonio muncul keluar dari dalam lift. Antonio duduk di kursi utama samping putrinya. Di meja makan hanya ada mereka berdua saja. Ghani sudah pergi ke sekolah pag-pagi sekali karena mengikuti ujian sebelum ujian akhir tiba.


"Sayang kok makannya dikit?" tanya Antonio memperhatikan putrinya makan.


"Kenyang dad, perut aku udah gak bisa nampung lagi," ucap Queen sambil terkikik.


"Yaudah gak papa, tapi susunya harus di habisin dong," kata Antonio.


Queen memanyunkan bibir menatap sang daddy, menggeleng. Tapi bukan Antonio namanya jika tidak memberikan tatapan tegasnya. Mau tak mau Queen meminum habis susu dalam gelas yang masih sangat banyak.


"Pinter anak daddy!" Antonio mengusap kepala putrinya.


"Ayo sekarang kita ke rumah sakit jenguk abang Rey. Abang Rey udah siuman kemaren, dia nyariin princess," ajak Antonio memengang tangan putrinya.


Queen menggeleng dan melepaskan tangan daddynya.


"Kenapa?"


"Aku mau di rumah aja dad, mau istirahat," ucap Queen lalu pergi dari hadapan daddynya. Ia takut menangis di depan daddynya.


"Arcell! Kau benar-benar menyakiti hati putriku." geram Antonio merogoh kantong celananya mengambil ponsel menghubungi putranya.


"*Assalamualaikum, ada apa dad?"


"Waalaikumsalam, pulang ke mansion sekarang!"


"Dadd aku masih ada meeting dengan beberapa rekan bisnis kita. Setelah meeting selesai aku akan pulang*." Sahut Arcell di seberang sana, ia sedikit berbisik bicara di telpon.


"Dadd bilang pulang, ya pulang sekarang. Minta maaf sama princess!"


"Nanti dadd, janji setelah meeting selesai aku akan pulang."


"KAU MENGERTI TIDAK YANG DADDY KATAKAN. DADDY MENYURUH PULANG SEKARANG BUKAN NANTI. DALAM 15 MENIT KAU BELUM SAMPAI, LIHAT APA YANG AKAN DADDY LAKUKAN." Bentak Antonio, ini bukan sebuah ancaman semata.


"Baik dadd, aku akan pulang sekarang."


Tutt..


Arcell menutup sambungan telponnya. Arcell mengusap kasar rambutnya, ia sangat tahu bagaimana sifat daddy jika tidak dituruti segera perintahnya. Arcell beralih menatap beberapa rekan bisnis yang tengah berbincang.


Arcell melangkah cepat keluar dari ruang meeting. Sampai di parkiran ia lantas segera menjalankan mobil menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Tepat 15 menit mobil tiba di halaman mansion, Arcell keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam mansion.


"Dimana princess dadd?" tanya Arcell berhenti melangkah saat melihat Antonio tengah duduk di ruang tamu dengan koran di tangannya.


"Di kamarnya," jawan Antonio singkat.


Arcell sampai melupakan ada lift di mansion mereka hanya karena bersemangat menemui adiknya untuk meminta maaf atas perlakuan kasarnya kemarin.


Arcell membuka pelan pintu kamar Queen, lalu masuk mendekati ranjang dimana Queen berbaring miring menghadap kanan dengan selimut menutupi tubuhnya.


"Princess, abang minta maaf banget atas perlakuan kasar abang kemarin sama kamu. Abang udah jahat nyakitin kamu, abang tahu susah buat kamu maafin abang. Tapi tolong pukul abang balik sayang, pukul abang semau kamu. Lampiaskan emosi kamu, balas perbuatan abang kemarin. Tapi satu hal yang harus kamu tahu sayang, abang sangat amat menyesali perbuatan abang. Tolong beri abang maaf, rasanya abang ga sanggup jika harus berdiam tidak bertegur sapa dengan mu, bahkan tidak memelukmu. Rasanya hidup abang sepi, maaf maaf maafin abang."


Arcell berjongkok di lantai, menunggu Queen menghadap kearah nya. Queen menangis mendengar suara abangnya.


"Maaf! Maaf! Maafkan abang!" ulang Arcell terus mengatakan maaf.


"Hiks, abang bangun duduk disini sama aku hiks." Queen bangun dan meraih bahu abangnya agar duduk bersamanya di ranjang.


"Maaf!" Arcell tetap mengtakan maaf.


Queen menghambur kepelukan Arcell yang langsung dibalas. Kedua saling menangis berpelukan, semantara di balik pintu Antonio tengah mengintip.


"Abang sebenarnya aku gak marah, cuma takut bertemu abang. Harusnya aku yang minta maaf udah mencelakan saudara-saudara ku," lirih Queen.


"No sayang, jangan menyalahkan dirimu atas kecelakaan yang terjadi. Semua itu musibah, kemarin abang hanya emosi entah apa yang merasuki diri abang sampai menamparmu. Kamu boleh menampar balik abang sayang."


Arcell membawa telepak tangan Queen ke pipinya, meminta Queen menamparnya membalaskan perbuatannya kemarin. Queen menarik tangan yang berada pipi abangnya, beralih mengalung di leher abangnya.


"Aku sayang abang, aku tidak bisa membalasnya hiks," ungkapnya.


"Mengapa sayang? Abang udah nampar kamu kemarin, pasti pipi kamu yang putih ini merah kemarin karena perbuatan abang." Arcell mengusap lembut pipi adiknya.


"Bagi aku itu gak seberapa dengan apa yang dialami abang Rey."


"Sutt! sayang stop menyalahkan dirimu, harus kamu ingat itu semua musibah sayang. Abang gak suka dengar kamu masih menyalahkan dirimu, itu sama saja buat abang merasa bersalah karna udah nampar kamu."


"Tidak abang hiks, aku gak akan mengatakannya lagi."


"Mari kita lupakan masalah itu. Tapi kamu mau kan pergi bersama abang ke rumah sakit menjenguk Ray. Ray merindukan mu sayang."


Queen mengangguk, "Aku mau abang," ucapnya mendongak.


"Kalau gitu princess bersiap ya abang tunggu di bawah."


Arcell melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Queen. Begitu pula Queen yang menghapus air matanya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasihđź’“