
Khanza tersadar dan menghentikan langkah kakinya. Ternyata dirinya sudah cukup jauh berlari, bahkan sampai mengabaikan orang-orang yang kesal karena dirinya menabrak mereka. Dia tak mengingat bahwa ia sedang mengandung.
Terlihat langit begitu mendung, pertanda hujan akan segera turun. Khanza berpikir seperti ia tak bisa melanjutkan berjalan kembali, dia lalu melihat ada sebuah halte tidak jauh dari pengelihatan. Segera berjalan cepat menuju kesana untuk berteduh, sebelum hujan turun.
Tepat sampai disana hujan pun turun begitu lebatnya. Diringi dengan tangisan Khanza, tanpa memperdulikan orang disampingnya yang melirik kearahnya.
Sungguh tidak terasa hari mulai sangat gelap dan orang-orang yang tadi berada disampingnya mulai satu-persatu kosong meninggalkan halte tempat berteduh.
"Me-mengapa mama masih tidak mempercayaiku," tangisnya penuh pilu, bagaimana tidak sakit di tuduh yang tak pernah di lakukannya sama sekali.
Sedikitpun di dalam otak tidak terlintas untuk melakukan hal tersebut.
"Ta..pi kalau bu-kan a-ku, sia..pa ya..ng melakukannya," ucapnya sesegukan dan bertanya-tanya siapa orang yang tega memberi racun di dalam masakan. Sedangkan dirinya tak merasa punya musuh dengan siapapun. Dia pun juga tidak berani menebak-nebak pelakunya.
Kemudian Khanza terdiam, mernungkan kembali kejadian tadi, dimana dirinya di tampar begitu saja oleh mama mertuanya. Melipat tangannya, karena kedingingan dan sesekali juga menyatuka kedua tangannya mengahapu lalu meniupnya. Tetapi tetapi saja dinginnya terasa dikulitnya.
Khanza sampai tidak menyadari jika ada sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Orang yang berada di dalam mobil Daihatsu Xania membuka kaca mobilnya.
"Khanza," seru orang yang berada di dalam mobil membuat Khanza kaget mendengar nama dipanggil.
Khanza melihat ke arah mobil, tepat orang yang berada dalam mobil tersebut. Orang itu langsung turun dan menghampiri Khanza.
"Bu Kiran," ujar Khanza tampak kaget tak menyangka mereka bertemu disini.
"Kamu ngapain berada disini malam-malam begini?" tanya Kirana. Ya, orang yang tadi memberhentikan mobilnya tadi adalah Kirana mantan boss Khanza di toko kue.
"Eungg, anu aa..aku bingung mau pulang bu," lirih Khanza.
"Gimana kamu ikut saya saja kerumah, nanti disana baru kita mengobrol. Lagian disini seperti tidak aman, apalagi kamu juga kedinginan," ujar Kirana.
Khanza mengangguk menyetujuinya, Kirana merangkul bahu Khanza dan mereka masuk ke dalam mobil. Kirana langsung menjalankan mobilnya menuju kediamannya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan perkarangan rumah Kirana. Rumah bergaya minimalis yang tidak begitu besar namun terkesan nyaman.
"Ayo masuk, anggap saja rumah sendiri," Kirana merangkul Khanza membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Eum, apa bu Kiran tinggal sendiri?" tanya Khanza memberanikan diri.
"Ya, saya memang tinggal sendiri disini," jawab Kirana, lalu membawa Khanza untuk duduk di sofa.
"Orang tua ibu di mana?" pertanyaan Khanza membuat Kirana terdiam.
Khanza yang paham akan raut mantan boss pun. "Eum ma-af bu, a-ku ga bermaks-"
"Tak apa-apa Khanza! Orang tua saya sudah meninggal sudah sangat lama, sewaktu saya masih kelas 1 SMP. Dan saat itulah saya tinggal di panti asuhan dan keluar dari panti saat lulus SMA," Kirana malah keterusan bercerita, entahlah ia merasa sangat nyaman berada di dekat gadis didepannya.
Khanza mendekati Kirana lalu memeluknya dengan begitu erat. Kirana mengingat sesuatu dan melepaskan pelukan mereka.
"Oh ya, tadi kenapa kamu bisa berada di halte?" ujar Kirana bertanya kembali karna penasaran apa yang dilakukan gadis di depannya sampai berada sangat lama di halte.
Kirana yang mendengarnya tak percaya sama sekali, kelihatan sekali bahwa gadis didepan berbohong. Tetapi ia tahu mungkin gadis didepannya ini belum bisa menceritakan yang sesungguhnya. Jadi hanya mengangguk, mempercayainya saja.
"Yasudah, kalau gitu sebaiknya kamu mandi lalu istirahat..."
"Memang boleh aku menginap disini bu?"
"Boleh! Gaada yang ngelarang, lagian saya disini hanya sendiri..."
Kirana mengatar Khanza ke kamar yang berada di sebelahnya. Yang dibuatnya khusus untuk putrinya, tetapi entah dia tak tahu dimana keberadaan putrinya sekarang. Sebelum pingsan setelah melahirkan, ia mendengar dokter yang membantu persalinan mengatakan bahwa bayi seorang permpuan dan dia sempat melihat sekilas wajah putrinya dan menitipkan sebuah kalung pada salah satu suster. Dia takut waktu saat pingsan dan tidak terbangun kembali, maka dari itu dirinya menitipkan kalung tersebut, agar suata saat seseorang bisa mengenali putrinya. Tapi tuhan berkehendak lain, ia masih diberi kehidupan. Disesalkannya hanya satu saat sudah terbangun, bayi dikabarkan hilang. Sampai sekarang ia masih mencarinya dan berharap dipertemukan kembali dengan putrinya.
Keduanya malah berdiri didepan pintu dengan Kirana masih melamun dan Khanza hanya diam saja menunggunya.
"Bu!" panggil Khanza.
"Ehh, maaf saya malah melamun dan membuat kamu menunggu lama," ujar Kirana.
"Tidak apa-apa bu," jawab Khanza tersenyum.
'Ceklek' Kirana perlahan membuka pintunya dan terlihatlah kamarnya. Khanza yang melihat kamar tersebut malah dibuat jatuh cinta, kamar yang bercat biru dan putih. Warna kesukaannya dan sangat terfavoritnya.
"Bagaimana kamu suka kamarnya?" tanya Kirana memastikan.
Dengan cepat Khanza mengangguk, "Kamarnya nyaman bu..."
"Lebih baik kamu mandi dulu, saya akan mengambilkan baju piyama untuk dipakai," kata Kirana, bergegas keluar mengambil baju untuk dipakai Khaza.
Setelah itu Kirana membawa piyama ke kamar yang berada di sebelahnya yang dimana seorang gadis sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi. Karna suara germicik air terdengar begitu jelas. Selesai menaruh pakaian tersebut di ranjang, Kirana langsung pergi lagi menuju ke kamar untuk beristirahat.
Tak berselang lama Kirana keluar dari dalam kamar. Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Khanza yang sedang berhandukan. Mata melihat di atas tempat tidur, terdapat piyama untuknya pakai.
Selesai memakai pakaian, Khanza membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sedari tadi ia merasa sangat letih dan kepalanya juga sedikit pusing.
Khanza mulai memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur untuk menghalau rasa pusing dikepalanya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓