
Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam. Antonio masih sibuk di depan layar komputernya. Antonio selalu menghabiskan waktu untuk bekerja, terkadang pria itu lupa waktunya makan malam.
Tok.. tok..
"Permisi tuan, makan malam anda sudah siap. Apa anda mau sarapan disini, biar saya antarkan makanannya?" ujar pelayan bertanya.
"Tidak! Dimeja makan saja," jawab Antonio datar tanpa melihat lawan bicaranya.
"Baik tuan, saya permisi melanjutkan pekerjaan." Pelayan itu lantas pergi.
Antonio melepas kaca matanya, memijit keningnya. Entahlah apa hanya perasaannya saja, seperti ada sesuatu yang menimpa keluarganya. Hati sungguh tidak tenang.
Antonio mencari nomor putra sulungnya, lalu menelponnya. Nomor Arcell tidal aktif, Antonio tidak menyerah kembali menghubungi Arsen. Ternyata sama tidak aktif juga, karena tidak aktif keduanya Antonio memutuskam menghubungi Satya menyuruh lelaki itu mencari tahu apa yang terjadi dengan anak-anaknya.
"Hallo tuan ada apa menelpon saya?" ujar Satya bertanya di seberang telpon.
"*Satya apa Arcell ada di kantor? Ponselnya tidak aktif saya hubungi,"
"Tadi siang saya berpapasan dengan tuan muda, tuan muda keluar kantor dengan terburu-buru, saya tidak sempat menanyakan mau kemana. Ada yang mau tuan sampaikan melalui saya saja, nanti saya sampaikan ke tuan muda."
"Tidak ada, hanya saja aku merasa tidak tenang. Pikiran ku terus saja memikirkan anak-anakku."
"Jika begitu saya akan mencari tahu keadaan mereka. Saya akan menginformasikan pada tuan secepatnya,"
"Kabari saya secepatnya,"
"Siap tuan*."
Sambungan telpon berakhir. Antonio mematikan komputernya dan membereskan pekerjaannya. Setelah ia memilih turun ke bawah untuk makan malam. Makan malam sendirian setiap malam membuat nafsu makannya menjadi berkurang tak seperti masa dimana istrinya masih hidup. Khanza selalu memperhatikan pola makannya, sekarang tidak ada lagi perhatian seorang istri yang dirasakannya hanyalah kesendirian.
Usai makan malam Antonio kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya dan otaknya yang selalu bekerja dan bekerja tanpa henti. Hanya bekerja Antonio bisa menghilangkan rasa kesendiriannya.
Belum ada setengah jam Antonio menelpon Satya. Kini lelaki itu menghubunginya, mungkin ia sudah mendapatkan informasi mengenai anak-anaknya.
"Tuan anda harus pulang ke Indonesia sekarang," pinta Satya bicara langsung pada intinya tanpa mengatakan 'halo' terlebih dahulu seperti biasanya.
"Memang ada apa Satya? coba kamu jelaskan dulu kenapa saya harus pulang," ujar Antonio meminta penjelasan asisstennya.
"Tuan ketiga anak anda dan satu keponakan anda. Mereka mengalami kecelakaan saat pulang berlibur dari puncak. Akibat kecelakaan itu tuan muda Rey mengalami kerusakan ginjal dan membutuhkan donor ginjal secepatnya."
"Tuan, tuan apa anda masih disana.." panggil Satya ditelpon.
"Tuan.."
"Saya akan terbang ke Indonesia sekarang," ucap Antonio.
"Kabari saya jika anda sudah sampai tuan, saya akan menjemput anda."
Antonio masuk ke walk-in closet mengambil kopernya dan memasukan pakaiannya sembarang.
"Daniel pesan saya tiket dan siapkan mobil. Kita ke bandara," perintah Antonio melalui telpon.
Sampai dibawah Daniel mengambil alih koper tuannya, memasukan ke dalam bagasi mobil. Daniel langsung menjalankan mobil menuju bandara.
"Kau sudah pesankan saya tiket?" tanya Antonio yang duduk di kursi penumpang belakang.
"Sudah tuan, pesawat anda akan take off sekitar jam setengah sepuluh," ucap Daniel.
Kini Antonio telah sampai di bandara. Antonio menunggu sekitar lima belas menit baru bisa masuk ke dalam pesawat. Tak berapa terdengar suara pemberitahuan bahwa pesawat akan segera take off. Antonio segera masuk ke dalam pesawat. Tidak berlama-lama pesawat langsung take off.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasihđź’“