My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 67



Sampailah di kontrakan dengan halaman lumayan luas, tidak terlalu banyak tetangga sekitar kontrakan tersebut. Membuat Khanza tenang, karna jika banyak tetangga pasti mereka akan menggosip. Dia tidak menyukai itu.


"Udah puas liat halamannya, sekarang kita lihat dalamnya," ujar Antonio meraih pinggang Khanza, masuk bersama ke dalam.


Antonio mengeluarkan kunci dari kantong celana kainnya. Membuka pintunya dan masuk bersama ke dalam.


"Bagus mas," puji Khanza saat melihatnya.


"Kamu lihat-lihat saja dulu, saya mau angkat telpon," ucap Antonio Iphone berdering sedari tadi kantok celananya.


"Hallo, ada apa?"


".........."


"Sebentar lagi saya ke kantor,"


Setelah itu Antonio mengakhiri sambungan telpon dari Nadia sang sekretarisnya.


"Apa lagi yang dilakukan mama di kantor, memperkerjakan seseorang sebagai sekretarisku. Sudah cukup Nadia saja yang berkompeten," gumannya mengerutu kesal. Mama tidak ada habisnya mengurusi urusannya.


"Khanza," panggil Antonio.


"Aku di kamar mas," seru Khanza berteriak.


Antonio segera melangkah ke kamar dimana disana terlihat seorang gadis sedang berberes, menyusun baju-bajunya ke dalam lemari.


'Apa dia tidak cape, baru saja sampai, berkeliling melihat kontrakan ini,' ucap Antonio dalam hati dan menggeleng-gelengkan kepala melihat bumil yang sangat aktif tanpa merasa lelah.


"Mas masuk, kenapa berdiri didepan pintu," suruh Khanza.


Antonio mendekat dan duduk di tepian kasur yang hanya muat satu orang. Padangannya tidak lepas dari bumil kesana kesini membawa pakaian dan menyusun ke dalam lemari kayu dua pintu.


Sebenarnya Antonio tidak tega jika Khanza harus tinggal di kontrakan ini. Tetapi memaksa Khanza tinggal di apartement pun percuma, bumil itu tidak akan mau. Karna dia pasti merasa bahwa omongan mamanya benar.


"Duduklah, saya mau bicara sebentar," seru Antonio menyuruhnya untuk duduk.


Tanpa membantah Khanza langsung mendudukan pantatnya di tepian ranjang, berhadapan dengan Antonio.


Khanza tiba-tiba merasa sedih saat Antonio bilang akan ke kantor dan tidak akan pulang ke kontrakan ini. Tetapi setelah berpikir kembali, tidak baik juga jika Antonio bermalam disini. Apalagi status mereka belum menikah, nanti malah mejadi gosip para tetangga kontrakan disini ataupun sekitarnya.


"Iya mas, tapi buat belanja gausah nyuruh Alvaro sama Eduard. Aku masih bisa belanja sendiri mas."


"No, kamu tidak boleh keluar belanja sendiri. Biar Alvaro dan Eduard saja, ingat tidak ada bantahan sayang atau kamu pindah ke apartemen saja."


"Oke, aku ga bakal bantah, tapi ga ada acara pindah ke apartement. Disini aku sudah merasa nyaman."


Antonio tersenyum bumilnya menurut, membuatnya menurut itu sangat susah. Ada saja bantahannya, seperti sekaran membantah dulu baru menerimanya.


"Baiklah kalau gitu saya tenang ninggalin kamu," ucapnya, dan mendekat mencium kening bumil dengan lembut. "Saya berangkat, kamu hati-hati di sini, kalau ada apa-apa cepat kabarin saya," lanjutnya mengelus rambut bumil.


Barulah Antonio beranjak setelah puas memandang wajah bumil di hadapannya.


"Mas tunggu!" seru Khanza. Menghentikan langkah Antonio.


Khanza memeluk sebentar dan Antonio membalas pelukannya. Hanya beberapa saat, Khanza melepaskan pelukannya. Lalu mengambil tangan Antonio untuk dia cium.


"Mas hati-hati di jalan, jangan bawa mobilnya ngebut," pesannya.


Antonio mangut-mangut...


Lalu memasuki mobilnya dan menghidupkan, sedangkan Khanza masih memandangi kepergian Antonio sampai mobilnya menjauh tidak terlihat lagi oleh pandangannya.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓