
Sekarang Khanza sudah diperbolehkan pulang, setelah dirawat selama satu bulan di rumah sakit terhitung saat ia masuk rumah sakit pertama kalinya.
Khanza juga sudah benar-benar sehat dan sudah kuat untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tokk...tokk
"Permisi, tuan, nona.. Ini bayi kembarnya juga sudah boleh dibawa pulang. Karna pertumbuhan mereka sangat pesat..." jelas dokter.
"Terimakasih dok, sus," jawab Khanza.
"Mohon di jaga kesehatannya ya mba, agar bisa memberikan susu yang sehat untuk si kembar," ucap suster. Setelah itu keduanya pamit bersamaan.
"Lucu banget anak mommy,"
"Honey," panggil Antonio sedikit merasa cemburu karna kedua putranya mendapatkan ciuman dari istrinya. Sedangkan dirinya belum mendapatkan sama sekali.
"Ayo mas, kita pulang ke mansion," ajak Khanza dan malah memberikan salah satu bayi kembar kepada Antonio. Takut terjatuh, jika ia menggendong kedua-duanya.
"Ngga papakan mas, gendong satunya.. Aku takut ga kuat kalau harus gendong keduanya bersamaan.."
"Hmm.."
Hanya deheman saja yang keluar dari mulut Antonio. Sepanjang jalan wajah Antonio terlihat bete dan Khanza sama sekali tak menyadari itu.
Saat berada di dalam mobil, Khanza asik menimang pantat Arsen dengan pelan, agar bayi tertidur. Tak berapa lama Arsen tidur, terdengar suara tangis Arcel di gendongan Antonio.
"Mas, gendong Arsen ya. Biar aku tenangin Arcel.."
Arcel pun beralih ke dalam gendongan Khanza, sayangnya Arcel masi tetap menangis walaupun Khanza tepuk-tepuk pantatnya.
"Mas, bisa minta tolong pembantas mobilnya di tutup, kaya'nya Arcel lapar..."
Tanpa menyahutnya Antonio melakukan yang di katakan oleh Khanza. Setelah menyusu barulah Arcel diam, ternyata tadi dia menangis karna kelaparan.
Entah berapa dalam perjalanan akhirnya mereka sampi juga di mansion. Arcel dan Arsen masih tertidur pulas, mereka turun dari mobil saat sudah di bukan dan melangkah memasuki mansion ketika membuka pintunya.
SUPRISE!!!
"SELAMAT DATANG KEMBALI DI MANSION MOMMY DAN TWINS"
Ucap semua orang yang berada di dalam mansion, mereka sangat lengkap.
"Makasih semua," kata Khanza terharu dan meneteskan air mata kebahagian.
"Si kembar tidur nak?" tanya mama Erina.
"Iya ma," jawab Khanza.
"'Mending langsung di bawa ke kamar aja nak, kasihan kamu juga butuh istirahat," ujar mama Erina.
"Kalau gitu semuanya sekali lagi terimakasih atas kejutannya, aku dan mas Nio pamit ke atas dulu," kata Khanza, keduanya langsung memasuki lift untuk ke lantai atas.
Aditya yang sempat melihat raut wajah Antonio seperti sedang bete pun menahan untuk tidak tertawa. Ia paham mengapa Antonio bisa begitu, pastilah karna tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
"Adit, kamu kenapa?" tegur Kirana pelan dan bertanya, heran saja melihatnya.
"Aku ngga papa sayang, cuman aku tadi merhatiin wajah Antonio sepertinya sedang bete," ujar Aditya berbisik.
"Bete kenapa memangnya," ucap Kirana tak paham.
"Mungkin karna tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya," jawab Aditya sekenanya.
'CUP'
Aditya dengan secepat kilat mencium bibir Kirana. Hampir saja wanita itu berteriak, jika tak mengingat ini di mansion Horison dan masih banyak orang disini.
"Adit, kamu apa-apaan sih," dengus Kirana pelan.
"Nah, itu yang aku maksud sayang...
Antonio kesal karna ngga dapat ciuman," ucap Aditya berbisik di telinga Kirana.
"Adit, Kirana.. Ayo makan siang bersama," ajak papa Andreas.
"Iya om, sebentar," sahut Aditya.
"Ayo sayang, mereka sudah nungguin kita untuk makan siang bersama," Aditya merangkul pinggang Kirana tetapi di tepis oleh wanita itu. Karna masih kesal Kirana berjalan duluan di depan, Aditya nampak tersenyum saja melihat kekesalan wanitanya.
.
Ketika membuka pintu Khanza di buat terpesona dengan keindahan kamar. Di atas ranjang ada taburan bunga yang di bentuk dengan love dan balon-balon bergelantungan. Sedangkan disisi kiri ranjang mereka sudah tersedia tempat tidur bayi.
"Mas, apa semua ini kamu yang menghiasnya."
"Iya honey, di bantu Rhea."
Khanza meletakan bayi kembar ke tempat tidur khusus buat mereka. Lalu berbalik menghadap suaminya dan mengalungkan tangan dengan mesra di leher suaminya.
"Makasih suamiku, aku mencintai mu," Khanza mengecup bibir Antonio sebentar, tapi sayangnya Antonio tak melewatkan kesempatan itu ia menggunakan tangan untuk menahan tengkuk Khanza agar memperdalam ciuman mereka dan menahan pinggang Khanza agar merapat ke dirinya.
Khanza menepuk-nepuk dada bidang Antonio agar melepaskan ciumannya. Bagaimana tidak ia hampir kehabisan nafas, karna suaminya seperti enggan melepaskannya.
"Huuh mas," menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Antonio menuntun Khanza dan mereka duduk di tepian ranjang.
"Maaf honey, mas cuman ga tahan dengan kecupan saja," ujar Antonio.
"Iya aku tahu mas, tapi aku hampir kehabisan nafas kalau kaya' gitu," ucap Khanza.
"Maafin mas ya," sekali lagi Antonio mengatakan maaf.
"Ngga papa mas, aku paham kok, mas udah lama menahannya," Khanza menggenggam tangan suaminya.
Mereka merebahkan diri di ranjang untuk beristirahat...
Membiarkan orang di bawah makan siang bersama dan mengobrol-ngobrol, disana juga ada Bagas dan Raya yang ikut berkumpul. Nyonya Erina sudah mengetahui semuannya dan ia juga sudah memberitahu suaminya tuan Andreas perihal kalau Rhea bukanlah anak kandung Antonio. Tetapi mereka menerimanya dan begitu sangat menyayangi Rhea. Rhea juga tidak merasakan ketakutan lagi, jika oma dan opanya tak menerimanya, karena semua orang telah mengetahuinya.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓