
Khanza sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah, wajah terlihat bahagia hari ini. Karena sebentar lagi akan bertemu sahabat kesayangan. Rasanya dia sudah tidak tahan lagi menahan kerinduan kepada Rhea.
Masakan nasi goreng spesial dibuat untuk sahabat termanja sudah selesai, ditaruh kedalam wadah tupperware. Khanza memasukan tupperware berisi makanan tersebut ke dalam tas sikutnya.
Lalu menaiki sepeda bersiap mengayuh menuju ke sekolah. Hari terlihat mendung, membuat Khanza mengayuh dengan laju sepedanya, agar cepat sampai.
Khanza memakirkan sepeda ditempat biasa, setelah berada disekolah hujan deras pun turun. Beruntunglah dia sampai cepat, jadi dirinya terselamatkan dari guyuran hujan. Karena seragam sekolah dia juga hanya ada satu.
Sampai dikelas Khanza terlihat kecewa karna tidak melihat Rhea. Karena biasanya Rhea akan lebih awal datang.
"Woii! Nza," seru Leo mengagetkan.
"Apaansih Leo, ngagetin aja tau," sentak Khanza kesal.
"Kamu kenapa Nza?" tanya Leo.
"Rhea," spontan Khanza mengucapkan nama sahabatnya. Setelah itu dia duduk dikursi menelungkupkan wajah dikedua lipatan tangan.
Leo melihat keseliling matanya tidak menemukan dimana Rhea.'Gaada orangnya, kenapa Khanza tiba-tiba nyebut nama Rhea," batinnya merinding.
"Nza," seru Leo dan duduk disebelah Khanza.
"Hiks... Leo, Rhea pasti ga masuk ya," ujar Khanza menangis. Entahlah, perasaannya menjadi sedih.
"Heii, kenapa nangis sih. Rhea mungkin datang terlambat," ujar Leo merangkul bahu Khanza untuk menenangkannya.
"Ngga Leo, biasanya Rhea paling awal datangnya," kekeh Khanza.
"Nza dengerin aku, mungkin aja Rhea belum bangun dari tidurnya. Apalagi Rhea abis liburan, pasti cape baru pulang. Coba deh kamu telpon," ujar Leo memberikan solusi.
Saat Khanza sudah mengeluarkan ponsel nokia dari dalam tas dan ingin memijit tombol telpon menjadi tidak jadi karena suara ketukan.
Tok...tokk...
Terdengar pintu kelas diketuk, Khanza dan Leo bersamaan menoleh kearah pintu, ternyata bukan Rhea. Harapan Khanza pupus, padahal tadi dia berharap yang mengetuk adalah sahabat kesayangannya.
"Permisi, boleh saya masuk?"
"Silahkan kak," jawab Khanza.
Salah satu siswa dari kelas XII Ipa 3 tadi pun masuk, dan memberitahu hari ini kelas mereka mendapat jam olahraga. Karna hanya beberapa guru saja yang rapat. Jadi mereka menunggu jam mata pelajaran itu, para siswa/i di kelas berhamburan keluar mengganti baju dan sekalian menuju ke kantin untuk sarapan sebelum praktek basket. Sedangkan Khanza masih berdiam di meja menunggu kedatangan Rhea. Sampai akhirnya lupa untuk menelpon.
"Nza aku duluan ganti baju ya! Nanti aku kedepan liatin Rhea udah datang apa nggak." ujar Leo hanya diberi anggukan oleh Khanza tanpa melihat atau sekedar mengucapkan sepatah kata.
.
.
Jam olahraga sudah dimulai, Khanza juga tadi sudah berganti pakaian. Lalu duduk termenung di lapangan tanpa melihat teman-temannya yang sedang latihan.
"Khanza sekarang giliran kamu!" seru guru mengajar mapel olahraga tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari yang dipanggil.
"Nza!" panggil Leo.
"Leo." ucap Khanza lalu mencium bau aneh, membuatnya merasakan mual.
Hueek! Khanza langsung menutup mulutnya. Karna merasakan mual tiba-tiba menderanya.
"Nza kamu ga pa-pa?" tanya Leo.
"Kamu bau banget Leo, aku gatahan. Sana jauh jauh," ujar Khanza tadi sempat mengendus tubuh Leo. Lalu menyuruh menjauh, karna sungguh dia tidak tahan dengan bau ini.
Seketika itu Leo mencium badannya sendiri."Ngga bau," ucapnya dan mendekatkan diri lagi dengan Khanza.
Hueek! Khanza menutup mulutnya kembali karena Leo yang duduk kembali disebelahnya."Ishh! Aku bilang jauh jauh, kamu bau banget sumpah. Aku gatahan," ujarnya mendorong Leo agar menjauh.
"Khanza, Leo. Kesini cepat!" seru guru mapel olahraga memanggil mereka berdua agar segera menuju kesana.
"Iya kenapa pak?" tanya Khanza.
"Sekarang kamu dribble bola basket ini keliling lapangan, lalu masukan bola ke dalam ring. Harus sampai masuk, kalau tidak kamu akan saya beri hukuman."
"Tapi pak, saya-..."
"Saya tidak menerima protesan, lakukan sekarang atau kamu mau nilai mu saya kasih nol."
Khanza mengurungkan niat yang ingin protes kembali. Dan melakukan seperti diminta gurunya. Dia mulai mendribble bola basket dengan pelan, karna sedari tadi menahan pusing dan mual yang entah tiba-tiba menderanya saat ini.
"Apa mungkin karna aku belum makan sedari pagi," gumannya sambil terus berlari pelan.
"Tapi aku tidak ada nafsu buat makan, rasanya aku pengen makan bersama Rhea dan om-..."
"Kok tiba-tiba jadi kangen om Antonio,"
"Astagfirullah... Tidak tidak Khanza, jangan memikirkan suami orang. Hilanglah dari pikiranku,"
Sambil mendribble Khanza menggeleng pelan, akibat otak yang malah memikirkan Antonio. Hingga Khanza stop tepat ditengah, saat akan memasukan bola basket tubuh limbung dan jatuh pingsan. Bola yang dipegangnya terjatuh, terakhir didengarnya hanya suara teriakan Leo memanggil namanya.
"Khanzaaa!" Leo berteriak dan berlari kearah Khanza yang sudah jatuh ke lantai lapangan basket.
Leo awalnya menepuk-nepuk pipi Khanza tetapi tidak bangun juga. Lalu guru olahraga menyuruhnya agar cepat membawa Khanza ke UKS supaya mendapat pertolongan pertama.
***
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓