
Jam 06.00 pagi, Khanza sudah berada di dapur. Memasak untuk sarapan, tetapi ia tidak sendiri melainkan dibantu oleh bi Inahya. Tadi ketika terbangun ia mendapatkan sebuah chat whatsapp dari Rhea. Mereka akan datang ke mansion untuk mengambil pakaian Rhea, sekalian memberitahu sesuatu. Maka dari itu ia ingin memasak makanan yang bukan untuk sarapan pagi melainkan seperti makan siang.
Tiba-tiba saat mematikan kompor Khanza merasakan tangan seseorang melingkar di perutnya, ia sudah sangat hapal bau badan sang suami tercintanya.
"Honey, mengapa sepagi ini kamu sudah berada di dapur?" tanya Antonio masih memeluk istrinya.
"Tadi aku dapat chat whatsapp dari Rhea mas, katanya mereka mau kesini. Mau mengambil pakaian Rhea, sekalian ada yang mau diomongin mas. Karna tadi aku bangunnya pagi dan dapat sms itu dari Rhea. Jadinya aku ingin masak makanan yang banyak," jawabnya.
Antonio hanya mangut-mangut mengerti, "Tapi honey kandungan kamu udah jalan lima bulan, bisa ngga selama kehamilan kamu tidak usah ke dapur dulu. Mas takut, jika lantai dapurnya licin kamu jadi kepeleset dan itu membahayakan dirimu sama dedek bayi. Mas ngga mau ambil resiko kamu dan dedek kenapa-napa," ujarnya mengungkapkan kekhawatirannya terhadap istrinya. Sambil tangannya mengelus perut sang istri.
Khanza melepaskan tangan suaminya, dan memutar balikan badannya agar saling berhadapan. Tangannya terangakat untuk mengelus pipi suaminya. Ia paham suaminya memang sangat khawatir dengan dirinya, jika sedang hamil berada di dapur. Tetapi bukan kehamilan ini saja ya, kehamilan anak mereka yang lainnya juga sama. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Bagaimana lagi memang dasarnya dirinya sangat susah dikasih tahu, apalagi dalam urusan masak memasak. Karena itu memang hobby nya.
"Mas kan tau aku sangat suka memasak, sehari saja tidak berada di dapur, itu membuatku jenuh mas. Aku janji akan berhati-hati saat berada di dapur," ucap Khanza berjanji dengan wajah melasnya agar suaminya mau mengijinkannya.
"Tidak honey, mas tetap tak mengijinkan kamu berada di dapur selama kehamilan. Kali ini saja kamu nurut sama mas, jangan bantah ya honey," kata Antonio lembut, sayang sekali Antonio tetap pada pendiriannya yaitu Khanza tak boleh berada di dapur selama kehamilan.
Karena kesal Khanza langsung pergi begitu saja meninggalkan Antonio tanpa sepatah katapun...
"Honey, jangan jalan cepat-cepat, ingat kamu lagi hamil," seru Antonio sedikit berteriak, begitulah jika membuat bumil kesal, bakal ditinggal dan akan didiamkan lagi.
Bi Inahya yang sedari tadi mendengar pembicara keduanya dibuat tersenyum-senyum. Bi Inahya sendiri sudah hapal sifat tuan dan nonanya.
"Ehem, apa bibi sedari tadi menguping pembicaraan kami?" dehem Antonio bertanya kepada Bi Inahya yang tertangkap basah sedang menguping pembicaraannya.
"Eh, tuan itu... Maaf tuan bibi tidak sengaja, tuan kan tau nona Khanza sangat senang memasak. Mana bisa nona sehari tidak kedapur.. Tuan tenang saja untuk urusan dapur, bibi pastikan lantainya tidak akan ada tumpahan minyak dan bibi juga selalu mengawasi nona ketika memasak tuan. Jadinya tidak akan terjadi apa-apa sama nona," jelas Bi Inahnya agar tuannya percaya, Bi Inahya juga jika berbicara dengan tuannya ia akan memanggil Khanza dengan sebutan nona bukan neng sepertj biasanya.
"Baiklah bibi, saya percayakan istri saya saat berada di dapur sama bibi. Jangan sampai istri saya terpeleset atau terjadi apa-apa," ujar Antonio berkata tegas.
"Siap tuan," balas Bi Inahya.
Setelah itu Antonio pergi menuju kamar menyusul Khanza. Semantara Bi Inahya menghidangkan makanan yang telah di masak oleh Khanza.
***
"Dad, mom, opa, oma...
Aku dan Leo akan berangkat ke negera L hari ini. Kami sekalian honeymoon disana dan akan menetap satu tahun di negara L, bisa lebih lama dari itu," ujar Rhea membuka pembicaraan dan memberitahukan kepergian mereka.
"Mengapa kalian tiba-tiba ingin menetap di negara L?" tanya Antonio menatap keduanya bergantian.
"Dad-.."
"Biar aku saja yang menjelaskan re," sela Leo langsung memotong pembicaraan Rhea.
"Ehem,,, begini dad aku ada pekerjaan disana, aku diminta papa untuk mengurus perusahaan Mahendra yang berada di negara L. Dan tepat sekali Rhea menginginkan honeymoon disana, jadinya kami akan menetap disana. Tapi jika pekerjaan cepat selesai, kami akan segera kembali ke indonesia," jelas Leo.
"Apa Danu tidak bisa memberimu pekerjaan disini saja?" kali papa atau opa Andreas lah yang bertanya.
"Papa mengatakan agar aku memulai pekerjaan ku disana, jika aku berhasil membuat perusahaan disana semakin maju dan kinerja ku bagus. Papa sendiri yang akan memindahkan ku disini," jawab Leo.
"Hiks, apa nanti kalian tidak ingin melihat kelahiran babygirl," kata Khanza sambil menangis, ia sangat merasa sedih jika Rhea harus menetap disana. Karna dirinya akan sangat merindukannya.
Rhea berdiri dan berpindah duduk di samping mommynya. Ia langsung memeluk mommynya.
"Mom, re akan usahakan pulang saat mom nanti lahiran," ujar Rhea mengelus perut mommy.
"Janji, kamu akan kembali saat mom lahiran."
"Iya re janji mom."
Pakaian yang akan dibawa oleh Rhea telah disiapkan ke dalam koper. Rhea dan Leo pun berpamitan untuk segera pergi ke bandara. Khanza dan Erina sepertinya sangat enggan melepaskan Rhea. Untuk Bagas dan Raya mereka juga telah diberitahu soal kepergian mereka ke negara L dan akan menetap disana selama satu tahun dan bisa lebih lama dari itu.
****