My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 72



Di suatu tempat seorang wanita tengah terbaring lemah dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. Rahang pipi terkena luka bakar, lengar kiri dan kanan juga terkena luka bakar.


Kedua orang setengah baya yang menemukan tidak bisa membawa ke rumah sakit. Akibat tidak mempunyai biaya, dari tempat mereka saja menuju ke rumah sakit sangat jauh.


Jadi kedua orang setengah baya itu hanya mengobati luka bakar pada seorang wanita yang ditemukan mereka dengan obat tradisional yang diracik sendiri tanpa ada bahan-bahan kimia.


“Pak, apa kita bawa saja dia ke puskesmas, ibuk jadinya ga tega lihatnya. Ibuk juga kok takut ya pak, dia belum sadar juga, biar nanti ibuk pinjam uang ke tetangga...”


“Sabar buk, kita tunggu beberapa jam lagi. Kalau masih belum sadar baru kita bawa ke puskesmas...”


Kedua orang setengah baya itu tidak menyadari pergerakan wanita yang mereka tolong. Sampai wanita itu terbatuk dan berbicara.


“Uhuuk! Haus...”


“Ya gusti allah terimakasih telah menyadarkan wanita ini,” ucap Hartini wanita setengah baya yang menyelamatkan seorang wanita yang tidak mereka ketahui namanya.


Hartono suami dari Hartini juga tersenyum melihat wanita yang mereka tolong sudah sadar. Baru saja keduanya ingin membawa ke puskesmas. Tetapi tak jadi.


“Haus!” Ulangnya bicara lemah.


“Sebentar nak, ibuk ambilkan air putih dulu...” Hartini segera pergi ke dapur mengambilkan air minum untuk wanita yang baru sadar.


“Ini minum dulu, biar ibuk bantu.” Hartini membantu wanita itu bangun, menyodorkan gelas di bibir wanita itu sambil gelas dipegangi oleh Hartini sendiri takut jika wanita itu masih belum kuat memegang sendiri.


Tenggorokan menjadi lega, setelah menegak segelas air putih.


Wanita itu menatap kedua orang dihadapannya dengan kening mengkerut. Karena tak mengenali keduanya.


“Kalian siapa?” Tanyanya.


“Kami melihat mu berjalan di tengah jalan raya, saat kami ingin mendekat tiba-tiba ada sepeda motor melintas dan menabrak hingga kepala mu terbentur. Saat kami menghampiri mu, kami sangat terkejut melihat luka bakar yang kau dapat, sedangkan tabrakan itu hanya dahi mu saja yang membiru akibat benturan. Karena kami tidak mempunyai biaya membawa mu ke rumah, kami memutuskan merawat mu di rumah saja.” Tutur Hartono menjelaskan bagaimana bisa mereka menemukan wanita di hadapan mereka ini.


“Apa kalian tahu siapa nama ku?”


Hartini dan Hartono menggeleng bersamaan.


“Kamu tidak ingat siapa namamu nak,” ujar Hartini.


Wanita itu menggeleng lemah, tak bisa mengingat sesuatu.


“Pak, apa dia mengalami itu ya pak, ibuk lupa namanya yang sering tetangga kita bilang,” desak Hartini mencoba mengingat penyakit lupa yang sering disebut-sebut tetangganya.


“Apa toh buk, bapak juga engga tahu namanya,” sanggah Hartono.


“Pokoknya lupa ingatan lah pak,” ujar Hartini akhirnya.


“Em, kalau boleh tahu nama kalian siapa pak buk?” Kembali wanita itu bertanya.


“Panggil saja saya buk Tini dan suami saya pak Tono,” jawab Hartini.


“Baik buk pak, terimakasih telah menyelamatkan saya,” ucapnya tersenyum tulus.


Hartini berdiri dan melangkah keluar kamar mengambil sesuatu yang tadi ditemukannya saat menolong wanita itu. Hartini kembali ke dalam kamar membawa barang temuannya tersebut.


“Menikah?”


“Itu di cincin ada ukiran nama laki-laki, cuman namanya tak jelas kelihatan,” ujar Hartini.


Wanita itu langsung mendekatkan cincin agar bisa melihat nama siapa yang terukir disana.


“Benarkah aku sudah menikah, tapi mengapa aku tak bisa mengingatnya...” ucapnya dalam hati..


‘Arrrghh’ wanita itu memegangi kepala yang berdenyut sakit, karena mencoba mengingat.


“Nak, apa kepala mu sakit?” Tanya Hartini panik melihat wanita di hadapannya memegangi kepala.


“Nak jangan terlalu memaksa untuk mengingat sesuatu, biarlah seperti ini dulu sampai kamu sembuh. Bapak yakin ingatan mu nanti akan kembali,” imbuh Hartono tahu bahwa wanita itu mencoba untuk mengingat sesuatu.


“Iya nak, benar kata suami ibuk. Sebaiknya biarkan dirimu sembuh dulu,” sambung Hartini.


Wanita itu mencoba untuk relax menarik nafas dan menghembuskan. Sakit kepalanya sedikit berkurang..


“Eum, pak, ibuk.. bolehkah saya tinggal semantara disini, saya bingung harus kemana,” katanya..


“Sangat boleh nak! Bapak dan ibu hanya tinggal berdua, kami senang jika kau mau tinggal selamanya,” ucap Hartini disetujui oleh Hartono.


“Sekali lagi terimakasih buk pak telah menyelamatkan saya dan mengizinkan saya tinggal disini...” Tutur wanita tersebut.


“Nak kamu kan tidak mengingat nama mu, bagaimana ibuk memberikan mu nama Kirani?”


“Boleh buk, namanya bagus sekali saya suka..”


“Bapak juga setuju namanya bagus...”


“Kami akan memanggil mu Rani mulai sekarang..” Kirani mengangguk


Kedua orangtua setengah baya itupun ikut merasa senang. Akhirnya mereka tidak tinggal berdua lagi, karena sekarang mereka seperti memiliki putri.


Hartono tersenyum melihat kebahagian terpancar diwajah istrinya.


...****************...


Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA"


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓