
Pagi harinya. Khanza sudah bersiap dan menyusun pakaian ke dalam tas. Dia akan pergi dari mansion ini, keberadaannya disini membuatnya sakit hati. Ia sudah lelah dengan semua ini.
Khanza keluar dari dalam kamar menuju ke dapur untuk pamit ke Bi Inahya. Rasanya tidak nyaman jika pergi belum berpamitan pada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri.
"Bi!!!" seru Khanza.
"Neng mau kemana, bawa bawa tas kaya gitu?" tanya Bi Inahya.
Khanza tersenyum sedih harus berpisah dengan wanita yang sedang berhadapan dengannya sekarang.
"Kenapa neng," ujar Bi Inahya.
Khanza refleks memeluk Bi Inahnya dan menangis."Maaf bi, Khanza ga bisa tinggal disini lagi," ucapnya.
"Haduh eneng kenapa atuh, cerita sama bibi?"
Khanza pun melepaskan pelukannya dan menghela nafas lalu menatap Bi Inahya."Ga apa-apa bi, Khanza gaenak aja selalu ngerepotin Rhea. Jadi mulai hari ini aku mau ngekost kembali bi, sekarang kan aku udah dapat kerjaan jadi bisa buat ngekost lagi," katanya berbohong, padahal dia belum tahu diterima atau tidaknya. Tetapi Khanza tetap positif thinking dan semangat.
"Bibi ga bisa ngomong apa-apa lagi neng, kalau itu memang sudah keputusan neng sendiri. Bibi cuman pesan neng hati hati aja dan selalu jaga diri baik baik. Bibi selalu sayang dan mendukung neng." tutur Bi Inahya memeluk Khanza kembali dengan eratnya.
Bi Inahya juga sangat amat menyayangi Khanza. Baginya Khanza sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.
"Aku pamit ya bi, bibi jaga kesehatan ya. Assalamualaikum." ucap Khanza mencium tangan Bi Inahya.
"Waalaikumsalam, neng hati-hati."
Setelah itu Khanza melangkahkan kakinya menuju pintu. Dia tidak menjawab kalimat terakhir Bi Inahya, malah mengacungkan tangan keatas membentuk huruf 'O'.
.
.
Dianak tangga terakhir Antonio yang melihat Khanza keluar dari mansion membawa tas. Dengan cepat ia mengikuti sampai ke pintu keluar.
"Tunggu!" seru Antonio menghentikannya.
Khanza hapal dengan suara itu, berhenti sejenak menuju kelanjutannya. Tapi Khanza tidak mendengar kelanjutan omongan orang dibelakangnya. Melainkan dia malah mendapatkan sebuah tangan melingkari pinggangnya dan membuat Khanza terkesiap.
"Om..." Khanza membalikkan tubuhnya, tapi tangan Antonio tidak terlepas sama sekali dipinggangnya. Malah kedua dahi dan hidung mereka menempel.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan jantung yang sama-sama berdebar kencang. Sorot mata Khanza terlihat sendu, sedang Antonio tetap sama yaitu mata tajamnya.
Buru-buru Antonio melepaskannya setelah tersadar apa yang telah dilakukannya tidak benar.
"Ehmm..." Khanza hanya menjawab dengan berdehem pelan.
"Saya tau kamu tidak betah tinggal disini karena ucapan Kevin semalam, tapi pikirkan nanti jika Rhea pulang dari liburan. Ia pasti mencari kamu dan kenapa kamu tidak tinggal disini lagi. Saya mohon pikirkan itu semua Khanza," tukas Antonio.
"Maaf om, aku ga bisa tetap tinggal disini lagi. Aku ga mau merepotkan Rhea dan om yang sudah sangat baik memberiku tumpangan. Tentang ucapan Kevin semalam, bukan karna itu aku pergi om. Jadi jangan salahkan dia, aku pergi memang kemauan aku sendiri," kata Khanza menjelaskannya dia tidak mau terjadi kesalahpahaman dan membuat Antonio bertengkar dengan keponakan istrinya tersebut.
"Tapi pikirkan lagi Khanza kamu mau tinggal dimana," Antonio masih mencoba membujuk Khanza agar mengurungkan niatnya.
"Sekali lagi Khanza minta maaf, aku tetap ga bisa tetap tinggal disini. Aku juga sudah mendapatkan pekerjaan dan untuk tempat tinggal aku bakal ngekost di dekat tempat kerjaku."
Padahal ia tidak tahu di dekat tempat kerjanya ada atau tidak kost'an disana. Lagi lagi dia berbohong untuk kesekian kalinya.
Khanza lalu pergi meninggalkan Antonio yang masih berdiri kaku melihat kepergiannya.
"Arghh!..." teriak Antonio.
Drrt... Drrt
Getaran dari dalam saku Antonio membuatnya berdecak lalu mengambil sebuah benda persegi itu dan melihat nama yang tertera disana lalu segera mengangkatnya.
"Hallo ada apa satya?"
"Tuan apakah ke kantor hari ini?"
"Ya, ada apa memangnya."
"Kebetulan sekali hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Mahendra rekan bisnis sekaligus sahabat tuan."
"Setengah jam lagi saya sampai, suruh dia menunggu jika sudah disana."
Antonio menekan tombol merah dan memasukan kembali ponselnya. Ia mengarahkan kembali matanya kejalanan tetapi Khanza sudah tidak ada lagi. Antonio berpikir nanti akan mencarinya, dia masuk kedalam mobilnya dan langsung menuju kekantor tanpa sarapan pagi ini.
***
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓