
Disinilah Antonio membawa Khanza, dimana lagi jika bukan di kamar mereka. Kedua berbaring sambil menikmati menonton tv. Selesai sarapan, Antonio langsung menarik Khanza ke kamar, selagi Rhea dan mama Erina menjaga twins.
"Mas," panggil Khanza pelan, karna ia berbaring dalam pelukan dada bidang suaminya.
"Heum, kenapa honey?" tanya Antonio sambil mencium wangi rambut sang istri.
"Tadi bunda telpon aku, bunda ngajakin aku sama kamu buat temani bunda yang mau bertemu sama ibunya ayah Adit. Gimana mas mau ngga?" ujar Khanza bercerita mendongak menatap suaminya bertanya.
"Bisa honey, memang jam berapa kesananya," ujar Antonio.
"Jam sepuluhan mas, tapi kata bunda biar nanti mereka yang jemput kita... Aku juga tadi udah minta tolong sama Rhea buat jagain twin, semua kebutuhan twins udah aku siapin jadi aman..."
Mendengar nada bicara istrinya membuat Antonio gemas dan rasanya ingin menyerang istrinya saja rasanya. Tetapi ini masih pagi dan waktunya tidak tepat, dua jam lagi bakal jam sepuluh. Dengan sangat terpaksa dirinya harus menahannya.
Jadi mereka melanjutkan menonton, sampai tak terjam jam berjalan sangat cepat dan sudah menunjukkan pukul 10.00.
Keduanya sudah bersiap, Antonuo yang memakai baju kaos. Tetapi sudah di gantikan dengan baju kaos yg baru, sedangkan Khanza memakai dress simple.
.
Tiba di bawah, disana sudah ada Adit dan Kirana yang menunggu duduk di sofa, sambil menggendong twins bersamaan. Kirana yang menggendong Arcel dan Aditya yang menggendong Arsen.
"Bun, Yah, kenapa datang ngga ngasih tahu dulu. Kalian pasti udah lamakan nungguin kami," ujar Khanza.
"Ngga kok nza," jawab Kirana.
"Gimana kita langsung berangkat aja," ajak Aditya, setelah menaruh kembali baby Arsen ke dalam stoller.
"Rhea, kalau ada apa-apa cepat hubungi mom ya nak," pesan Khanza yang di angguki oleh Rhea.
Keempat orang itu pun sudah berada di dalam mobil. Aditya menyetir sendiri, ia tak terlalu suka mengandalkan supir untuk kemana-mana tujuannya. Menurutnya lebih nyaman berkendara seorang diri, memudahkannya ketempat-tempat ternyaman menurutnya.
Menghabiskan waktu 30 menit untuk sampai di kediaman Mahendra. Sangat kebetulan sekali di dalam tengah berkumpul bersama makanya terdengar begitu ramai suara orang-orang di dalam.
"Mas, kok aku deg-deg'an jadinya," bisik Khanza pelan.
Mendengar kalimat istrinya, Antonio berinisiatif merangkul bahu istrinya untuk menenankannya.
"Tenang sayang, mas bisa jamin ibunya Adit baik," ujar Antonio. Karna memang setahunya Hanira sangatlah ramah dan baik kepadanya.
Perlahan langkah kaki mereka membawa memasuki kediaman Mahendra. Melihat kedatangan keempat orang membuat semua orang yang duduk tampak terkejut. Apalagi Hanira sangat terkejut melihat Kirana bersama putranya. Semua orang masih terdiam sampai satu orang, siapalagi kalau bukan Fadil memecah keheningan itu dengab berteriak memanggil Khanza.
"Kakak cantik," pekik Fadil kesenangan dan berlari untuk memeluk Khanza.
Khanza yang sigap, berjongkok dan memeluk Fadil dengan sayang.
"Apa kabar Fadil?" tanya Khanza.
"Baik kak," jawab Fadil.
"Mari duduklah dulu," suara Danu kakak Aditya mengintrupsi keempat orang.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius," beritahu Aditya.
"Pelayan, tolong bawa Fadil bermain di dalam kamarnya dulu," perintah Danu pada salah satu pelayan.
"Nggak, Fadil tetap mau disini bersama kakak cantik.. Fadil masih kangen sama kakak cantik," tolaknya ketika pelayan ingin membawanya.
"Fadil, dengarin kakak ya sayang.. Fadil harus ikut mba itu untuk bermain, nanti setelah selesai ini kakak janji bakal susul Fadil dan kita bisa bermain bersama," bujuk Khanza dengan nada lembutnya.
"Janji,"
"Janji,"
"Sekarang katakan," ujar Danu.
"Aku hanya ingin meminta restu mama untuk menikahi Kirana ibu dari anakku Khanza," kata Aditya to the poin, males berbasa-basi. Ia juga menggenggam tangan Kirana dan merangkul bahu putrinya.
"Apa ini Adit, jelaskan.. Kakak tidak mengerti maksudmu, kapan kau mempunyai anak?" sergah Danu, istrinya Kumalasari mengelus bahu suaminya agar emosinya tak meledak-ledak.
"Baiklah aku akan mencerintakannya," Aditya menceritakan, semua orang menatap Hanira. Bahkan Kirana dan Khanza sangat terkejut mereka baru saja mengetahuinya.
"Benar mama melakukannya?" tanya Danu menatap Hanira mencari jawabannya.
Hanira pun mengangguk, ia berjalan kearah Kirana berlutut di hadapan wanita itu.
"Tante jangan," cegah Kirana memegang bahu Hanira untuk berdiri. Tetapi Hanira mempertahankan agar tetap berlutut.
"Maafin saya Kirana, saya sangat jahat sama kamu sampai tega memisahkan kamu dengan anakmu. Bukan hanya itu, bahkan saya menyuruh kamu untuk pergi jauh dari kehidupan Aditya, hanya gara-gara kamu anak panti asuhan dan miskin, berbeda status dengan kami yang kaya'. Sekarang saya memahami bahwa cinta kalian tak bisa terpisahkan, terbukti Aditya yang tidak mau menikah sampai sekarang. Maaf, maafin saya, saya memang orang tua yang jahat dan tak punya hati," kata Hanira berkata-kata sambil terus menangis menyesali perbuatan di masalalu.
"Saya memaafkan tante.." dengan gampangnya Kirana memaafkan Hanira. Kirana tak ingin mendendam di hatinya. Biarlah yang lalu di jadikan pelajaran saja, buat orang-orang jangan hanya perbedaan status sosial jadi mereka dengan semena-mena memperlakukan orang yang di bawah mereka. Karena sesungguhnya cinta tak memandang status sosial. Jika saling mencintai, semiskin apapun mereka, keduanya akan saling berusaha dan menguatkan satu sama lainnya untuk mencapai keinginan.
"Terimakasih, terimakasih Kirana. Kamu memang wanita yang baik, saya buta hanya karna perbedaan status sosial... Saya merestui pernikahan kalian," ujar Hanira memberikan restunya. Ia tak ingin memisahkan putranya lagi dengan orang yang dicintainya dan melihat putranya tidak menikah-menikah. Sekarang Hanira ingin melihat putranya berbahagia, sebelum dirinya tiada nantinya.
Aditya tampak tersenyum bahagia, karena masalah dalam keluarganya terselesaikan dan sekarang ibunya sudah meminta maaf kepada Kirana. Dengan kerendahan dan kelembutan hati Kirana yang tidak pendendam, ia memaafkan kesalahan ibunya, tanpa kemarahan sedikitpun dalam hati wanita itu.
"Jadi apa Khanza adalah sepupu ku?" pertanyaan dari Leo mengintrupsi semuanya.
"Ya, Khanza adalah anak om, dan dia sepupu kamu sekarang," kata Aditya.
Ketika Leo ingin memeluk Khanza, tangan Antonio menghalanginya.
"Ehem, tidak ada acara meluk-meluk istri saya."
"Yaelah om, sebentar saja.. Aku ingin merasakan memeluk sepupu perempuanku," ucap Leo meminta ijin.
"Mas," ucap Khanza pelan, menatap suaminya agar memperbolehkannya.
Mata Khanza yang menghipnotis menurutnya, membuat dirinya mengangguk. "Satu menit saja," ujarnya datar...
Leo langsung memeluk Khanza, "Aku senang banget, punya sepupu perempuan akhirnya," katanya dan melepaskan pelukannya, karna sudah satu menitan.
"Aku jadi bingung nantinya nza, harus memanggilmu apa," ujar Leo.
Khanza tak paham maksudnya ucapan Leo yang membingungkan, "Aku ngga ngerti maksudnya apa, bingung memanggilku?"
"Nanti saja aku ceritakan," Leo segera kembali ke tempat duduknya. Tatapan Antonio membuatnya tak bisa berkutik, bagaimana tidak Antonio bagaikan harimau menurutnya yang siap menerkamnya mangsanya kapan saja.
"Apa dia cucuku?"
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓