My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 88



Antonio mengerjap ngerjapkan matanya karna terkena sinar matahari yang mulai timbul. Tangan terasa sangat kebas, ia menunduk melihat istrinya yang tidur berbantalkan lengan sedari semalam.


Dengan tangan satunya Antonio mengambil ponselnya yang berada nakas, untuk melihat jam berapa sudah.


Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi.....


Perlahan Antonio mencoba memindahkan kepala istrinya ke bantal dengan penuh kehati-hatian dan kelembutan. Sebelum beranjak ia menyempatkan mencium kening istrinya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, barulah keluar dari dalam kamar.


Di luar terlihat, Kirana sudah selesai menyajikan sarapan di atas meja makan...


"Ehem! Bisa bicara sebentar," ujar Antonio sambil berdehem.


Kirana membalasnya dengan anggukan...


Mereka pun duduk di meja makan saling berhadapan satu sama lain. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Antonio pun membuka suaranya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik..." Kirana menjawab singkat, dan terdiam kembali.


"Adit mencari mu Rana! Dia ingin bertemu kamu dan mejelaskan sesuatu yang mungkin menjadi permasalahan kali-"


"Aku tidak ingin bertemu dia lagi," Kirana memotong kalimat Antonio dengan cepat dan ada nada ketegasan disana.


"Tapi Rana cobalah untuk bicara dengan Adit... Jujur sebenarnya saya tidak ingin mencampuri urusan kalian, tapi saya tidak bisa melihat Adit begitu frustasi saat kau meninggalkannya. Sampai sekarang dia masih mencari mu... Mengertilah Rana permasalahan kalian tidak akan selesai, kalau kalian tak saling bertemu dan bicara," tutur Antonio,


biasanya dia sangat malas bicara panjang dan mencampuri urusan orang lain. Tetapi Adit dan Kirana adalah sahabat baiknya. Ia tak bisa membiarkan masalah keduanya terus berlanjut terus menerus.


Nafas Kirana tercekat, mendengar penuturan Antonio yang mengatakan bahwa Aditya frustasi karena ditinggalkannya. Apa pria di depannya tak salah bicara, bukankah tante Hanira sendiri yang bilang kalau Aditya menerima wanita yang sudah di jodohkan dengannya dan mencintai wanita tersebut.


Kirana berjalan menuju pulang ke rumah setelah membeli yang dibutuhkan. Segera masuk ke kamar mandi dan menggunakan alat tersebut.


Setelah selesai, ia berjalan cepat masuk ke kamar kost'annya untuk mengetahu hasilnya....


Mata Kirana membulat lebar, melihat hasil tespack bergaris dua menandakan jika dirinya tengah hamil. Bibir menyungingkan senyuman...


"Aku harus segera memberitahu Adit tentang kehamilanku ini, pasti dia senang..."


Kirana mengambil handphonenya lalu mencari nama Aditya, segera memijit tombol menelpon.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


"Ngga aktif lagi, apa aku datang aja ya kerumahnya," pikir Kirana. Akhirnya ia memutuskan memberitahu Aditya secara langsung.


Kirana menyetopkan angkot dan memberitahu alamat tujuannya. Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di kediaman Aditya.


Satpam rumah ini telah mengenalnya dengan baik, jadi dirinya diijinkan masuk ke dalam. Kirana mengetuk pintunya...


"Pasti non cari tuan Adit ya?" tanya pembantu tersebut, diangguki oleh Kirana.


"Ayo masuk non, tuan Adit di kolam renang non," beritahu pembantu itu.


"Kalau gitu aku langsung kesana aja ya bi, makasih sudah memberitahu," ucap Kirana tersenyum. Langsung melangkah menuju ke kolam renang yang berada di belakang.


Ketika sampai disana, ia mematung. Hatinya perih, air mata menggenang. Disana Aditya tengah bersama wanita dan mereka berenang bareng sambil berciuman. Kirana berbalik badan dan berlari menuju pintu keluar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Kirana berhenti sebentar," seru Hanira mama Aditya.


Mendengar nama di panggil Kirana menghentikan langkah kakinya dan berbalik. Tante Hanira menghampirinya...


"Kenapa kamu menangis?" tanya tante Hanira.


Kirana menggeleng. "Saya ga pa-pa tante."


"Jangan bohong... Saya tahu kau menangis karna melihat putra saya bersama seorang wanita di kolam renangkan? Saya akan memberitahu kamu, kalau Aditya sebenarnya telah saya jodohkan dengan Winda, wanita yang tadi kamu lihat... Dan mereka juga saling mencintai, jadi saya minta untuk kamu menjauh dari Adit. Kalau bisa pergi dari kota ini agar Adit tidak menemukanmu...."


"Ini ambilah! Anggap ini untuk biaya kamu pergi dari kota ini," tante Hanira memberikan amplop tebal berisi uang.


"Maaf tante saya bukan pengemis, tanpa di suruh pun saya akan pergi dari kota ini," pungkas Kirana mengembalikan uang tersebut. Lalu pergi begitu saja dengan air mata mengucur kembali membasahi pipinya.....


Flasback off.


"Rana hey?" seru Antonio, karna wanita di depannya malah melamun.


Keduanya tidak menyadari jika seseorang telah mendengarkan obrolan mereka. Dari awal sampai selesai...


.


Di dalam kamar Kirana menangis, mengingat kembali masalalunya yang begitu menyakitkan. Memang waktu dia lebih memilih pergi, sebelum meminta penjelasan dari Aditya. Tapi perkataan tante Hanira sudah cukup menjelaskan semuanya.....


.


Tadinya Khanza ingin keluar, melihat suaminya tak ada di dalam kamar. Tapi saat sampai di dekat dapur, ia malah menghentikan langkah. Berdiri sedikit di balik dinding yang berada di dekatnya, menyembunyikan setengah badannya.


Sebenarnya tidak baik menguping pembicaraan orang, tapi rasa penasaran membuatnya ingin mengetahuinya. Sedari tadi malam ia tahu tatapan Bu Kirana begitu sendu, dan tak ingin berbicara lama dengan suaminya.


"Adit, apa mereka sedang membahas uncle Adit... Masalah? Sebenarnya kesalahan apa yang di buat uncle Adit sampai bu Kiran tidak mau bertemu," otak malah berpikir dan menebak-nebak.


"Arrghh... Ngga taulah," tanpa sadar Khanza malah bersuara keras yang terdengar oleh Antonio yang masih duduk di kursi meja makan.


"Sayang kamu menguping," seru Antonio, ketika melihat Khanza yang berdiri di dekat dinding.


"Mampus ketahuan," gumannya, dan menunduk menghampiri suaminya.


"Hukuman apa yang bagus untuk orang yang menguping pembicaraan orang... Hem?" ujar Antonio bertanya dengan menaikkan alisnya.


"Maaf mas! Tadinya aku mau ke dapur cari kamu, tapi-"


"Tapi berhenti melangkah, karena penasaran dengan obrolan kami... IYA," Antonio menekan kata 'IYA' di akhir kalimatnya.


Khanza mengangguk dan masih menundukkan kepalanya.


"Duduk sini," Antonio menepuk pahanya, Khanza yang tak melihatnya malah duduk di kursi lainnya.


"Sayang bukan disana, tapi disini. Duduk di pangkuan mas," ulang Antonio.


"Ngga mau mas. Malu!"


"Duduk disini atau mas kasih kamu hukuman."


Khanz pasrah dan duduk di pangkuan Antonio. Dengan tangan besar suaminya memeluk erat pinggang dan tangan satunya mengelus perutnya yang mulai kelihatan bentuknya.


"Perut kamu mulai kelihatan, padahal baru dua bulan lebih," pertanyaan Antonio membuka Khanza mencibir.


"Mas kan tau, kalau lagi mengandung anak kembar..."


"Iya mas tahu sayang, mana mungkin mas melupakannya," balas Antonio dan mencium belakang leher Khanza. Membuat wanita itu kegelian merasakannya.


"Mas geli ihh.."


"Ehem!" deheman Kirana membuat Khanza langsung bangkit dari pangkuan Antonio dan duduk di kursi.


"Ayo sarapan, selesai sarapan saya akan ke toko kue. Kalau kalian ingin tetap berada disini, saya akan kasih kunci cadangan," ucap Kirana.


"Tak perlu Rana, kami juga akan langsung pulang saja setelah ini," sahut Antonio, Khanza mengangguk.


"Maaf ya bu, kalau aku udah merepotkan. Dan makasih sudah membolehkan untuk menginap disini," imbuh Khanza.


"Kamu ngga ngerepotin saya Khanza, malah saya ngerasa senang kamu menginap disini. Saya sudah anggap kamu seperti anak sendiri, jadi gausah sungkan-sungkan meminta bantuan pada saya," tutur Kirana tersenyum.


Khanza yang mendengar, ikut tersenyum juga.....


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓