My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 76



Setelah Khanza dan Antonio berada di hotel 'Xaviaro', keduanya tengah duduk di kursi pengantin untuk melakukan sesi foto lagi.


Antonio mengikuti instruksi fotografer, dengan menaruh tangannya di pinggang Khanza. Sebaliknya Khanza meletakan tangannya di dada Antonio. Kedua saling bersitatap dan tersenyum, posisi yang sangat dekat seperti ini membuat Khanza malu. Bahkan sekarang posisi foto dirubah dengan keduanya saling menempel, kening mereka menempel. Khanza hanya bisa menahan nafas.


"Benafaslah sayang! Saya tahu sedari tadi kamu menahan nafas," bisik Antonio dengan nafas berhembus menggelitik leher Khanza.


Mulut Khanza seperti kaku untuk menjawabnya, membuatnya hanya mengangguk saja. Sekarang mereka pun mengambil foto bersama, yaitu sesi foto keluarga.


Selesai berfoto, kini dilanjutkan dengan bersalaman dengan para tamu undangan yang begitu banyak. Hampir semua rekan bisnis Antonio dan para karyawan kantornya hadir semua di acara resepsi.


Aditya dan Roy berjalan menuju naik ke panggung dimana pengantin berada untuk memberikan selamat.


"Selamat bro, gue doain pernikahan lo yang ini langgeng sampai kakek nenek. Jangan lupa malam pertama, stamina lo harus di jaga," kata Roy. Membuat Antonio menggeram menatap tajam temannya, memang mulut teman satunya ini suka sekali membuatnya emosi, sedang disebelahnya Khanza yang mendengar ucapan teman suaminya menunduk malu. Setelah Roy yang memberikan selamat diikuti Aditya dibelakangnya.


"Hey! Kita bertemu kembali, dunia ini sempit sekali ya... Tidak disangka, ternyata kamu menjadi istri teman saya," ujar Aditya menatap Khanza dengan tatapan ada sesuatu dalam dirinya yang ingin terus menatap gadis dihadapannya sekarang.


"Kalian saling kenal?" tanya Antonio yang berada disebelah Khanza. Ia mendengar apa yang dikatakan oleh temannya.


"Biar istrimu saja yang menceritakannya An, dibelakang sepertinya sudah sangat antri... Oh ya, Fadil merindukan mu, dia selalu ingin bertemu kamu," kata Aditya.


"Aku juga merindukan Fadil, titip salam buat Fadil om," cicit Khanza.


"Baiklah, nanti akan saya sampaikan," Aditya segera turun dari panggung untuk bergantian dengan para tamu undangan yang telah antri.


.


Acara resepi berjalan dengan sangat lancar tanpa adanya kendala apapun, seperti akad mereka tadi pagi.


Setelah selesai resepsi, kini mereka berdua berada di dalam kamar hotel. Saat ini Khanza sedang duduk di tepian dan Antonio ditepian sisi yang berlawanan. Tak ada suara, Khanza menengok disisi lainnya.


"Pantas aja ngga ada suara, ternyata fokus banget sama ponselnya," guman Khanza menyindir.


"Saya dengar sayang," ujar Antonio beranjak, lalu duduk di samping istrinya.


"Lebih baik mas mandi dulu supaya segar," ucapku berdiri, ingin mengambilkan baju tetapi lengan di pegang oleh suaminya. Hingga terjatuh dipangkuannya.


"Biar saya ambil sendiri saja, lebih baik kamu duduk diam disini," ujar Antonio, mengangkat tubuh dipangkuannya dan mendudukan di sisi sebelahnya.


Antonio memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Khanza memilih duduk di meja rias, menghapus make up, melepaskan pernak pernik yang ada dirambutnya. Dia pun berdiri ingin melepaskan restleting gaun yang beeada di punggungnya. Beberapa kali ia mencobanya, tetap tak bisa.


"Mas," seru Khanza langsung berbalik menghadap suaminya.


"Sudah selesai sayang, sebaiknya kamu segera mandi. Baru setelah itu kita istirahat," ujar Antonio.


"Iya mas, badanku juga sudah sangat gerah gara-gara gaun ini," memang sedari tadi Khanza sudah gerah, mungkin karena ini untuk pertama kalinya ia memakai gaun seperti itu.


Bergantian, sekarang Khanza yang mandi. Membersihkan tubuhnya, saat berada di kamar mandi Khanza bari mengingat. Jika tadi dia tidak membawah baju ke dalam. Ia kembali membuka pintu kamar mandi menampakan kepalanya saja.


"Mas," ujar Khanza berkata sedikit keras agar Antonio mendengarnya.


"Kenapa sayang," sahut Antonio.


"Mas, tolong ambilkan bajuku yang ada dalam lemari. Aku lupa bawa baju tadi," ucap Khanza.


"Yasudah! Tunggu sebentar saya ambilkan dulu," Antonio segera membuka lemari, mengambilkan baju yang bisa dibilang sexy. Karena di dalam lemari memang adanya hanya pakaian yang itu. Tak ada pilihan lain, entahlah dia pun tidak tahu siapa yang menaruh lingerie sexy.


"Mas, sudah belum!"


"Ini sayang bajunya," Antonio menyerahkan lingerie tersebut pada Khanza.


"MAS! Pakaian apaan begini, ini ga layak buat dipakai mas. Memangnya ngga ada baju yang selain ini," Khanza berteriak saat melihat pakaian yang diberikan Antonio.


"Hanya adanya itu sayang, ngga ada yang lainnya," balas Antonio. Khanza hanya bisa pasrah dari pada dia tidak memakai pakaian sama sekali.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓