
Mansion Horison.
Seluruh keluarga tengah bersiap untuk pergi ke kediaman Bagaskara. Hanya tiga orang yang tak ikut kesana Vinno, Naila dan Abian. Vinno yang super sibuk harus berada di rumah sakit. Sedangkan Naila hanya ingin berada di mansion saja dan Abian ingin menemani mamanya yaitu Naila. Jadilah hanya mereka mereka berdelapan saja yang pergi ke acara syukuran di kediaman Bagaskara.
"Mba nai, aku boleh titip queen ngga?" Tanya Khanza.
"Boleh dong nza," jawab Naila senang, karna queen akan dititipkan padanya.
"Beneran mba, tidak merepotkan?"
"Tidak sama sekali nza, mba malah senang," jawab Naila tersenyum tulus.
“Kamu tidak papa nai, kita tinggal sendirian?” Kali ini yang bertanya adalah mama Erina.
“Nai ngga sendirian ma, kan masih ada Abian sama queen... Terus banyak pelayan sama penjaga juga disini,” ujar Naila.
Setelah semua siap, mereka langsung berangkat dengan menggunakan mobil masing-masing. Antonio kali ini memilih menyetir sendiri dengan istrinya berada disebelah dan keempat putranya berada di kursi penumpang yang muat menampung empat orang. Lalu Andreas dan Erina memeilih untuk di setirkan Eduard sekaligus Alvaro juga ikut bersama mereka. Dua mobil masing-masing berisi empat pengawal juga mengikuti dari arah depan dan belakang.
***
Kediaman Bagaskara,
Suasana di kediaman Bagaskara terlihat ramai, ada beberapa kerabat dari pihak Raya yang berdatangan tidak banyak hanya ada beberapa orang saja dan juga ada beberapa tetangga diundangnya.
Mereka belum memulai acaranya karena menunggu kedatangan keluarga Horison, keluarga Mahendra sudah mengabari bahwa mereka tak bisa datang, karena sedang berpergian ke suatu kota.
Terdengar suara mesin mobil yang berhenti di halaman rumah mewah Bagaskara. Pasangan suami istri itu langsung keluar menyambut kedatangan keluarga Horison.
Khanza keluar lebih dulu dan berpelukan ala perempuan dengan Raya. Disusul mama Erina yang melakukan sama dengan yang dilakukan menantunya.
“Maafkan kami yang terlambat ya tan om, apa acaranya sudah mulai?” Tanya Khanza tak enak hati.
“Kalian tidak terlambat kok nza, acara baru saja mau di mulai,” ujar Raya.
“Lebih baik kita masuk ke dalam, tak nyaman bicara di luar. Ayo silahkan masuk om Andreas, tante Erina, Antonio, Khanza, anak-anak,” ucap Bagas mempersilahkan mereka masuk.
Para bodyguard tidak ikut masuk, karena mereka diperintah Antonio berjaga di luar saja.
“Tante selamat ya, akhirnya keinginan tante untuk mengasuh bayi terwujud.. Namanya baby girlnya indah sekali seperti bayinya,” ucap Khanza terharu senang.
“Makasih sayang, kenapa queen tidak dibawa nza?” Kata Raya balik bertanya.
“Tadinya mau aku bawa tan, cuma kasian queen sangat nyenyak tidurnya. Takut nanti pas dalam perjalanan kebangun, jadinya setelah ku pikir lebih baik queen di mansion saja bersama mba Nai,” tukas Khanza.
“Oiya pantesan tadi tante ngga ada liat Nai sama Vinno.. anak mereka Bian juga tidak ikut,” ucap Raya.
Khanza menggeleng, “Kak Vinno sangat sibuk di rumah sakit tan, tadi Bian diajak tetapi anak mau di mansion saja menemani mamanya.”
Raya mangut-mangut mengerti kenapa ketiga orang itu tidak bisa ikut.
“Bagas Raya, terimakasih atas undangannya. Kami mau pamit pulang dulu... Oiya selamat buat kalian berdua, tante bangga sama kalian berdua. Kalian bedua orang yang sangat berhati mulia, mau merawat bayi perempuan itu, walaupun bayi tersebut bukanlah darah daging kalian, tetapi kalian sungguh baik mau mengasuhnya. Semoga bayi ini membawa kebahagian di hidup kalian,” ujar mama Erina mendoakannya.
“Makasih tante, harapan kami juga sangat besar pada bayi cantik ini,” ucap Bagas mengelus pipi bayi mereka dan Raya tersenyum menanggapinya.
“Om hanya bisa bilang, bahwa om bangga sama kalian berdua,” tukas papa Andreas.
“Saya ucapkan selamat untuk kalian berdua, saya berharap anak kita bisa berteman nantinya,” kata Antonio.
“Anak-anak sebelum pulang, ambil kado kalian dulu buat adek Lunna,” seru Khanza menyuruh keempat putranya menyerah kado mereka masing-masing kepada salah satu pelayan.
“Terima kasih abang-abang tampan,” kata Raya menirukan suara anak kecil.
Ketika Raya memanggil nama mereka dengan sebutan abang menirukan suara anak kecil, membuat wajah Arcell tak suka. Karena yang boleh memanggilnya abang hanya princess nya Queen. Tidak boleh siapapun itu.
“Mom ayo kita pulang,” ajak Arcell, memegang tangan mommynya.
“Sebentar sayang, salim dulu sama opa oma,” seru Khanza meminta kepada putra-putranya untuk menyalami Bagas dan Raya. Keempat putranya melakukannya.
“Makasih ya nza sudah mau datang acara syukuran baby Lunna,” ujar Raya sebelum Khanza memasuk mobil.
Khanza hanya mengangguk, lalu Antonio menyalakan mesin mobil dan segera menjalankannya.
****