My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 94



Mobil akhirnya sampai di basemant kantor, Antonio langsung turun bersama dengan Khanza. Mereka menaiki lift yang terhubung dengan ruangan milik Antonio.


Antonio menghempaskan punggung di kursi kebesarannya dan menarik istrinya hingga terjatuh kepangkuannya.


"Mas ishh..."


"Diamlah sebentar sayang."


Dengan tangan satu digunakan memeluk istrinya agar tak jatuh dan satunya lagi digunakannya mengambil telpon interkom. Lalu memijit tombolnya.


"Nada masuk keruangan saya sekarang," perintah Antonio melalui interkom.


Tak sampai semenit Nada langsung memasuki ruangan bossnya. Karna ruangannya berada di depan ruangam bossnya.


"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Nada sopan.


"Begini kamu saya tugaskan untuk menemani istri saya mengelilingi kantor ini. Jadi dalam meeting kali ini kamu tidak usah ikut!" ujar Antonio.


"Baik tuan," balas Nada.


"Mari nona saya akan menemanin anda," kata Nada. Begitulah jika dihadapan bossnya, ia akan memanggil Khanza nona. Sedangkan jika ia hanya berdua saja dengan Khanza, Nada akan memanggil nama saja. Permintaan dari Khanza sendiri.


Khanza turun dari pangkuan Antonio ingin melangkah tapi tangannya di tahan oleh Antonio.


"Tunggu sebentar sayang! Nada tunggulah di luar saja dulu," titah Antonio.


Sebelum istrinya mengajukan pertanyaan, Antonio dengan gerakan cepat menyatukan bibir mereka. Asik dengan dengan berciuman, keduanya sampai tak menyadari kedatangan seseorang telah melihat adegan mesum kedua pasangan suami istri tersebut. Hingga orang itu berdehem, barulah keduanya menghentikan aksi ciuman mereka.


"Ehem! Bisa sudahi acara ciuman kalian, disini ada anak kecil yang belum cukup umur untuk melihatnya," orang yang berdehem dan berbicara tersebut adalah Aditya yang datang bersama keponakannya Fadil.


Kedua orang yang mendengar suara seseorang pun langsung melepaskan tautan bibir mereka. Khanza menyembunyikan wajah di dada bidang Antonio, karna malu.


"Uncle lepasin," ujar Fadil memukul tangan uncle nya meminta untuk melapaskan tangan yang menutupi matanya. "Mata Adil kenapa di tutup sih," protesnya.


"Maaf Adil, tadi ada sesuatu ya ga boleh di lihat sama Adil," jelas Aditya kepada keponakannya.


"Yaudah mending sekarang Adil ajak kakak Khanza main di luar," ujar Aditya berbicara kembali.


Tanpa mau bertanya lagi Fadil langsung menghampiri Khanza yang masih meyembunyikan wajah di dada bidang Antonio.


"Sayang! Itu Fadil ngomong sama kamu," bisik Antonio membuat Khanza langsung menunduk melihat Fadil.


"Siapa bilang kakak ngga mau main sama Fadil? Ayo kita jalan jalan keluar," Khanza menuntun tangan Fadil mereka berdua keluar dari dalam ruangan tersebut.


Kini diruangan tinggal Antonio dan Aditya saja lagi. Aditya menatap sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat Antonio yang begitu agresif terhadap wanita.


"Gimana udah puaskan ciumannya?" tanya Aditya menggoda Antonio.


"Sialan! Kamu datang di waktu yang tidak tepat sekali," sinis Antonio.


"Bagus saya datangnya cepat, kalau ngga mungkin kalian kebablasan. Lagian istri kamu itu kandungannya udah besar An, masih aja di mesumin," ujar Aditya.


"Ya, begitulah punya istri. Makanya cepat cepat nikah, emang mau hidup sendiri terus," balas Antonio sedikit mencibir.


"Saya sih sudah siap menikah, tapi masalahnya Kirana belum mau ketemu sama saya. Bahkan dia seolah olah menghindar, seperti ada kebencian dalam dirinya kepada saya. Tapi apa salah saya terhadapnya, sampai dia meninggalkan saya tanpa pamit," tukas Aditya.


"Menurut saya kamu harus cari tahu sendiri dit permasalahannya. Karna mungkin Kirana juga tidak akan menjelaskannya," ujar Antonio memberi sedikit masukannya.


"Kamu benar An, saya tidak mungkin mengejar-ngejar Kirana untuk menjelaskannya, yang ada nantinya Kirana pergi sangat jauh. Dan saya tak sanggup jika kehilangannya lagi, saya mencintainya, saya hanya ingin menikah dengan satu orang wanita yaitu Kirana tidak ada yang lain."


Antonio hanya mangut-mangut menyetujuinya. "Emm, selesai meeting ini gimana kalau kita makan siang bersama di direstoran. Nanti saya minta Khanza untuk hubungi Kirana agar ikut makan siang bersama."


"Baiklah saya setuju An." ucap Aditya menyetujuinya.


Setelah selesai mengobrol sedikit, mereka keluar dan melangkah menuju ruang meeting. Untuk melaksanakan meeting yang telat beberapa menit, karna keasikan mengobrol.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓