My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 92



Setelah selesai mandi, Khanza bersiap-siap ingin turun ke bawah menyiapkan makan malam. Bahkan Khanza tak membangunkan Antonio yang masih tertidur lelap.


Tetapi sebelum ke bawah Khanza menuju kamar Rhea untuk melihat keaadan gadis itu dulu. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar tersebut.


Terlihatlah gadis itu sedang menonton tv dan selimut yang sudah di singkirkannya. Khanza geleng-geleng kepala melihatnya dan menghampirinya.


"Re gimana keadaan kamu?" tanya Khanza yang duduk ditepian ranjang.


"Lumayan agak enakan bun," jawab Rhea dengan tatapan fokus ke arah tontonannya.


"Mau di masakan apa buat menu makan malam ini?" tanya Khanza membuat Rhea langsung menatap dengan senyuman merekah. Ini di tunggu-tunggunya yaitu di masakan oleh bundanya.


"Tapikan bun... Bunda dilarang sama dad buat masuk area dapur," ucap Rhea.


"Psstt.. Dad lagi tidur lelap, jadi kemungkinan bangunnya akan lama," kata Khanza.


"Wah benarkah, kalau gitu Re mau ayam mentega. Bolehkan bun?"


"Boleh dong sayang, kalau gitu bunda tinggal dulu." sebelum keluar dari dalam kamar Rhea. Khanza membetulkan selimut Rhea dengan benar.


"Lagi di dingin gini selimutnya ga boleh di lepas," ucap Khanza berkata tegas. Sedangkan Rhea hanya mengangguk menurutinya saja.


.


Sampai di bawah keadaan mansion sangat sepi, karna memang pembantu yang bertugas membersihkan mansion ini hanya dari jam kisaran pukul 06:00 sampai dengan 12:00 dan mereka berjumlah sepuluh orang. Setelah itu mereka di perbolehkan kembali ke pavilium.


Sedangkan yang bertugas di dapur Bi Inahya dan Mba Fatimah yang telah kembali dari kampungnya hanya berdua saja. Mereka berdua hanya ditugaskan memasak dari sarapan pagi, makan siang dan malam. Dan yang berbelanja ada dua orang. total pekerja wanita sembilan orang dan laki-laki hanya ada lima orang.


"Inikan baru jam 6 pasti di dapur masih sepi. Biasanya kan masak makan malam jam setengah 7. Ini kesempatan buat aku masak," gumannya.


Khanza segera masak beberapa makanan. Dan menaruh di atas meja dapur saja. Karna untuk menghidangkan ke meja makan, ia merasa tidak sanggup. Jadi membiarkannya saja di atas meja dapur, lalu dia beralih menyiapkan secangkir kopi untuk sang suami. Mengingat tadi pagi suaminya tak meminum kopi.


"Selesai juga akhirnya," leganya, dan melangkah menaiki lift membawakan kopi untuk suaminya.


'Ceklek' Di ranjang tidak ada Antonio, tetapi terdengar gemericik air shower di dalam kamar mandi. Khanza meletakan kopi di meja yang berada di dekat sofa. Selanjutnya memunguti pakaian yang berserakan dan menaruhnya di kerajang khusus pakaian kotor. Khanza juga mengganti seprai ranjang dengan yang baru. Lalu pergi ke walk in-closet mengambilkan pakaian untuk suaminya dan meletakan di ranjang. Sedangkan dirinya duduk di sofa menonton tv.


Tak berselang lama Antonio keluar dari dalam kamar mandi. Melihat keadaan kamar sudah benar rapi 'siapa yang membersihkannya, aku saja belum menghubungi pelayan untuk membersihkannya' ucap Antonio dalam hati. Tiba-tiga telinganya mendengar suara tv dan gelak tawa seseorang. Dan matanya tertuju ke arah sofa dimana disana istrinya sedang menonton.


"Pasti Khanza yang membersihkan, benar-benar bumilnya susah di larang. Selalu membantah, Huhh!" Antonio hanya bisa menghela nafas menghadapi istrinya yang tak bisa diam diri barang sehari saja.


Selesai berpakaian Antonio menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Antonio langsung memeluk istrinya dan mencium bau aneh dari baju sang istri.


"Jujur sama mas, kamu habis masak ya?" tanya Antonio. Membuat Khanza menatap suaminya terdiam.


'Aduh kenapa pakai lupa segala ganti baju sih... Alasan apa yang bakal aku berikan, arghh percuma saja di berbohong karna dari baju sudah tercium. Yasudahlah aku harus berkata jujur' batinnya.


"Iya mas, tadi aku masak. Tapi aku ga cape kok, beneran deh... Jangan marah ya mas," Khanza menyatukan tangannya meminta maaf.


Khanza mengangguk saja...


"Berapa kali sih harus mas bilang, jangan melakukan pekerjaan berat. Kalau terus begini, kamu tidak akan mas ijinkan jauh sejengkal pun dari mas. Mulai besok kamu harus ikut terus sama mas ke kantor, tidak ada bantahan," tegas Antonio telak, membuat Khanza sedikitpun tak berani membantah.


Bukannya apa! Antonio hanya takut istri kelelahan dan berakibat fatal bagi kandungannya. Ketakutkan Antonio, takut terjadi apa-apa dengan istrinya, apalagi dokter selalu berpesan untuk menjaga bumil anak kembar dengan sebaik-baiknya. Makanya dia tak boleh lalai...


Sedari Khanza hanya diam membuat Antonio memahaminya. "Yasudah sekarang lebih baik sayang ganti baju dulu kita siap-siap buat makan malam. Agar mama tak mengetahui kalau kamu baru saja habis masak."


Ya, jika nyonya Erina mengetahuinya. Khanza akan diomeli habis-habisan, karna bukan hanya Antonio yang melarang mengerjakan pekerjaan rumah tetapi nyonya Erina pun ikut melarangnya. Demi kebaikan bersama...


Saat Khanza ingin berdiri di cegah oleh Antonio. "Tetap disini, biar mas yang ambilkan bajunya," ia langsung berdiri dan melangkah pergi ke walk in-closet mengambil pakaian untu istrinya dan kembali lagi.


"Ini bajunya! Pakai disini saja. Mas tidak ingin kamu ke kamar mandi."


"Tapi mas-"


"Tak ada tapi-tapian sayang, atau kamu mau mas yang melepaskan baju mu hem..."


Pasrah! Khanza menyerah percuma saja dia membantah kembali. Antonio pasti melakukan yang barusan di katakannya. Maka dari dengan sangat terpaksa Khanza memakai baju di depan suaminya, karna Antonio sudah biasa melihatnya, tidak dengan Khanza yang masih malu jika suaminya menatap tubuhnya.


"Udah mas," ujar Khanza.


Antonio segera berdiri dan merangkul pinggang istrinya. Mereka berjalan bersama menuju ke bawah dan di bawah terlihat semua orang sudah duduk di kursi masing-masing, termasuk Rhea yang sedang sakitpun ikut makan malam bersama.


"Re gimana keadaan kamu nak?" tanya Antonio pada putrinya yang berhadapan dengannya.


"Emm, udah lebih baik dad," jawab Rhea.


Sedangkan nyonya Erina sama sekali tak menyadari jika semua hidangan di atas meja makan adalah masakan menantunya. Bi Inahya lah yang membuat nyonya tak mengenali masakan Khanza. Bagaimana bisa? Bi Inahya telah mengganti semua piring yang tadi pakai oleh Khanza untuk masakannya. Yapp mengapa begitu, karna nyonya Erina sudah sangat hapal pemilihan piring yang di pakai menantunya untuk menaruh masakan yang dibuatnya.


Khanza melihat Bi Inahya dan Mba Fatimah di balik dinding dapur sedang melihat ke arahnya. Langsung saja dirinya mengedipkan kedua matanya dan mengucapkan terimakasih dengan senyuman. Keduanya membalas sama terhadapnya...


Mereka pun makan dalam keheningan, memakan makanan di atas meja dengan begitu lahapnya. Begitulah jika Khanza yang turun tangan memasak, semua makanan di atas meja makan akan habis tanpa tersisa sedikitpun.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓