
Sesampainya di kota J, kedua pasangan paruh baya tersebut tidak langsung pulang ke rumah melainkan mereka menuju rumah sakit. Karena tak sabar untuk melihat princess Horison yang telah dinantikan mereka.
Kini mobil yang membawa mereka berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Andreas dan Erina segera keluar setelah pintu mobilnya di bukakan.
"Mario, kau langsung pulang ke mansion saja," ujar Andreas menyuruh sopir agar pulang ke mansion saja.
"Baik tuan, hubungin saya kalau tuan dan nyonya ingin pulang. Nanti saya akan menjemputnya," kata Mario sopan, lalu segera pamit pulang ke mansion.
Andreas dan Erina melangkah masuk mencari kamar rawat Khanza. Kamar rawat Khanza berada di lantai 3 dan mengharuskan mereka menggunakan lift agar sampai di atas.
'Ceklek' Semua orang yang berada di dalam melihat ke arah pintu. Disana telah berdiri Andreas dan Erina.
"Papa mama, masuk!" seru Khanza.
"Assalamualaikum" ucap Andreas dan Erina barengan.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak yang berada di dalam.
Keempat putra Antonio menyalimi oma dan opa mereka.
"Oma opa tok tau kita di cini," celoteh Rey, putra Antonio yang paling banyak bicara hanya Rey dan Arsen.
"Oma sama opa kan mau liat adeknya Rey," sahut Oma Erina.
"Adek ley acih bobok oma," lagi lagi Rey menyahutnya.
"Yasudah kalau gitu opa mau ketemu Rey sama abang-abang saja," timpal opa Andreas sedari tadi hanya diam mendengarkan celotehan cucu menggemaskannya, tak tahan lagi melihat Rey, opa Andreas membawa ke dalam gendongan dan duduk di sofa yang sudah tersedia di dalam kamar rawat.
Sedangkan Erina memilih menghampiri Khanza yang berbaring di ranjang rumah sakit. Ia mencium pipi menantunya.
"Mama sama papa, kenapa langsung kesini? ngga istirahat dulu di mansion, kan cape habis perjalanan jauh," ujar Khanza bertanya.
"Kita ngga sabar mau lihat princess nza, makanya kami memutuskan untuk langsung ke sini," ucap Erina.
"Katanya papa mau menambahkan nama ditengah nama princess, siapa namanya pah?" Tanya Antonio pada papanya yang sedang memangku Rey.
"Ini dia namanya," Andreas mengeluarkan sebuah kalung cantik berukir nama, kalung yang sangat mahal dipesan langsung dari luar negeri.
"Shaqueena..." serempak Khanza Antonio bareng.
"Gimana baguskan," kata Andreas.
"Iya pa, bagus banget Khanza suka," sahut Khanza.
"Melambangkan pesona dan karisma, itu artinya," beritahu Andreas.
"Sangat indah dan bagus sekali pa," ucap Antonio.
Jadinya nama princess Antonio dan Khanza adalah Alesha yang artinya anak yang dermawan, cerdas, dan selalu berzikir agar dilindungi oleh Allah. Shaqueena melambangkan pesona dan karisma. Humaira yang memiliki arti nama, kemerahan, putih campur merah, berpipi merah.
Sekarang jam telah menunjukkan pukul 15.30 sore, anak-anak sudah berada di rumah sakit sedari tadi siang. Antonio menelpon Edward untuk menjemput keempat putranya dan mama papanya.
"Son, karna ini sudah sore jadi kalian pulang ke mansion bareng opa sama oma," ucap Antonio.
"Daddy mommy nda ikut kita puyang uga?" celoteh Rey bertanya pada daddy nya.
Antonio berlutut, mensejajarkan dirinya dan putranya. "Dadd kan harus jagain mom sama adek disini sayang. Jadi dadd belum bisa pulang untuk sekarang, Rey sama abang-abang dulu ngga papa kan nak," tuturnya lembut. Rey mengangguk mengerti.
Andreas kagum melihat putranya Antonio yang begitu lembut berbicara pada cucunya. Sosok yang mungkin tidak semua orang tau tentang putranya, putranya akan begitu tegas dan kejam di dunia bisnis maupun pada orang yang berani mengusik keluarganya dia akan berubah menjadi monster yang sangat menakutkan, seperti dirinya. Putranya Antonio sangat memawirisi sifatnya... Bagi mereka keluarga adalah segala-galanya.
"Kesini dulu putra-putra mom, mom mau cium kalian sebelum pulang," seru Khanza pada keempat putra tampannya. Ia mencium satu persatu keempat putranya.
"Abang Arcell jagain adek-adeknya, buat Arsen jangan suka jahilin Rey. Buat Ghani juga jangan suka marah marah sama Rey. Mom mau kalian harus selalu akur, maaf mom belum bisa ikut pulang sama kalian, tapi mom bakal pulang besok pagi," pesan Khanza pada putra-putranya.
"Kamu tenang aja nza, mama bakal awasin cucu cucu mama ini," ujar Erina.
"Makasih ya ma," ucap Khanza tersenyum tulus pada mama mertuannya.
Sebelum keluar dari kamar rawat Khanza. Erina dan Andreas menyempatkan memberi kecupan pada princes kesayangan mereka semua.
Di bawah Edward sudah menunggu di depan pintu masuk rumah sakit, dia tidak sendiri melainkan ada mobil lainnya yang berisi bodyguard yang akan mengawal selama di perjalanan. Antonio tak mau terjadi apa apa pada keempat putranya dan papa mamanya, maka dari itu Antononi memerintahkan pada Edward untuk membawa bodyguard lainnya.
Ketika melihat tuan Andreas dan nyonya Erina berserta keempat putra Horison, Edward segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Setelah itu ia mengelilingi mobil dan masuk ke pintu pengemudi, lalu menjalankan mobil menuju pulang ke mansion.
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓