
Setelah selesai makan siang bersama, Antonio kini menghempaskan punggung di kursi kebesarannya. Disibukkan kembali dengan berkas yang harus diselesaikan hari ini juga. Berkas yang membutuhkan tanda tangannya.
Di ruangannya Antonio tidak sendiri melainkan bersama istrinya yang saat ini tengah duduk di sofa memainkan handphone.
Khanza sangat asik bermain game di handphone Antonio. Hingga handphone Antonio berdering dan tertera nama 'Mama Erina'. Khanza berdiri dari duduk, berjalan menghampiri Antonio dan menyerahkan handphone.
"Mama telpon mas," beritahu Khanza.
Antonio memijit tombol hijau, untu mengangkat telponnya.
"Hallo ada apa?"
".........."
"Saya akan segera kesana."
Antonio memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Sedangkan wanita yang berada di sebrang sana, yang barusan menelpon mengabarinya, menggenggam ponselnya begitu kuat, bahkan menggeram marah.
"Lihat saja nanti, Khanza si menantu dan istri kesayangan itu akan mendapat akibatnya," guman Clara menyungingkan senyum miringnya. Baru masuk kembali ke ruang rawat nyonya Erina.
Sehabis menerima telpon barusan, Antonio langsung berdiri.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ujarnya.
"Siapa yang sakit mas?" tanya Khanza sambil mereka berjalan keluar.
"Mama sama papa, masuk rumah sakit," jawab Antonio.
Sampai di basement mereka memasuki mobil, Antonio langsung menghidupan mesin mobil dan menjalankannya. Ia membawa mobil dengan kecepatan sedang, Khanza sedang bersamanya. Ia tak ingin membahayakan istri dan anaknya.
.
Mobil yang ditumpangi Antonio dan Khanza disebuah rumah sakit milik 'Horison' sendiri. Mereka keluar bersama dari dalam mobil, bergegas memasuki rumah sakit menuju ruang rawat nyonya Erina dan tuan Andrea dimana ruangan keduanya di jadikan satu.
Saat ditengan jalan, tiba-tiba Khanza merasa ingin buang air kecil.
"Mas aku mau ke toilet sebentar, mau buang air kecil, kalau kamu mau duluan saja ke ruang rawat mama nanti aku nyusul kesananya," ujar Khanza.
"Mas temanin, kamu ngga boleh sendiri kesana," ucap Antonio.
Antonio yang melihat Khanza berjalan cepat jadi takut istrinya terjatuh. Ia lalu menarik tangan istrinya, dan menghentikan langkahnya. Hingga punggung istrinya membentur tubuhnya.
"Biasakan jalannya jangan cepat-cepat, kamu mau terjatuh dan membayakan kamu dan anak kita. Ingat Khanza kandungan kamu masih lemah, kita harus menjaga dengan baik. Jangan sampai terjadi yang tidak kita inginkan," Antonio berkata tegas.
Membuat Khanza yang mendengarnya menjadi terdiam. Bahkan Antonio tak memanggil 'Sayang' seperti biasanya. Malah memanggil namanya, yang akhir-akhir ini memang tak pernah di dengarnya sekalipun Antonio memanggilnya dengan nama.
"Maaf," cicit Khanza, ia mengerti ini memang kesalahannya yang tak sabar sampai ke toilet.
Antonio menghela nafas berat, sebelum bicara kembali. Menormalkan emosi yang sempat bergemuruh, karna takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Melihat istrinya yang hanya menunduk tak berani menatapnya, membuat tersadar jika tadi dirinya terlalu berkata tegas.
"Mas juga minta maaf udah berkata tegas sama kamu tadi sayang... Mas cuman takut terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita..."
Khanza mengangguk dan mendongak menatap suaminya. Mengembangkan senyum manisnya.
"Sekarang kita jalan ke toilet pelan-pelan aja," ujar Antonio merangkul pinggang istrinya menuju ke toilet.
Setelah selesai dengan urusan di toilet Khanza keluar. Mereka melanjutkan kembali berjalan menuju ruang rawat. Sesampai diruang rawat Antonio membuka pintunya.
Mereka berjalan mendekati ranjang nyonya Erina yang tengah duduk bersandar di berangkar yang sudah di naikan. Khanza sama sekali tak mengetahui wajah nyonya Erina yang tengah menatapnya dengan tatapan marah.
"Mama kenaph-"
PLAK!!!
****
Follow ig aku yuk guys : @antiloversn
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓