
Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu, anak-anak Khanza sudah beranjak dewasa. Suasana pagi yang harusnya tenang kini benar-benar di hebohkan oleh princess. Mulai dari telat bangun, seragam barunya yang entah kemana letaknya. Sepatu yang hilang dan buku yang akan dibawa ke sekolah belum disiapkan sama sekali.
“Mommy, mommy,” panggilnya turun kebawah tanpa alas kaki.
Khanza yang sedang mengoleskan selai roti untuk suaminya. Menghentikan pekerjaannya itu dan menoleh pada sang putri yang memanggil namanya.
“Astaga sayang dimana alas kaki mu?” Spontan Khanza bertanya. Bisa-bisa putrinya ini tak memakai sendalnya saat menginjak lantai marmer yang dingin.
Queen kaget dengan pertanyaan mommynya pun melihat kebawah dan benar saja dia tak memakai sendal. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Lupa mom,” jawabnya.
“Princess ini pakai sendalnya.” Arcell berjongkok untuk memasang sendal pada kaki adiknya.
“Makasih abang, muaah!” Ucapnya memberikan ciuman dipipi abangnya.
“Lain kali, jangan lupa pakai sendalnya sayang. Tadi abang liat kamu lari-larian keluar kamar, kenapa?” Ujar Arcell bertanya lembut pada adiknya.
“Hari Queen masuk sekolah abang, setelah libur panjang. Kenapa tidak ada yang membangunkan Queen. Queen lupa dimana letak seragam sekolah dan sepatu juga engga tahu tiba-tiba hilang. Buku-buku dibawa ke sekolah belum siapkan. Queen lelah, pusing abang.” Keluhnya, rasanya hari ini sangat berat untuk pergi kesekolah.
Queen memeluk abangnya manja. Khanza yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan princessnya.
“Princess kalau lelah engga usah sekolah dulu hari ini ya,” kata Arcell mengusap keringat didahi adiknya.
“Beneran boleh bang?” Tanyanya girang.
Arcell mengangguk. Queen langsung melompat kepelukan abangnya, beruntunglah Arcell sigap menangkap tubuh sang adik.
“No, mommy tidak setuju. Princess harus tetap masuk sekolah hari ini. Mommy akan siapkan semua keperluan kamu,” tukas Khanza tidak menyetujui. Membuat bahu Queen merosot lemah, kalau sudah begini siapa yang akan menolongnya untuk membujuk mommynya.
Queen perlahan melepaskan diri dari dekapan abangnya dan menghampiri daddy yang hanya diam sedari tadi.
“Daddy!” Panggilnya.
“Hemm, kenapa sayang?” Tanya Antonio memeluk putrinya agar tak jatuh dari pangkuannya.
“Bilangi ke mommy, queen ijin engga masuk dulu hari.” Bisiknya ditelinga sang daddy.
Antonio mengangguk menuruti keinginan princessnya. Antonio menatap istrinya yang malah memberikan tatapan tajam padanya. Membuat nyali Antonio seketika ciut dengan tatapan istri tercintanya.
“Apa mas? Mas mau bantuin princess bujuk aku biar hari ini aku ijinin engga sekolah. Engga bakal aku ijinan. Hari ini perincess tetap harus masuk sekolah sayang.”
“Mommy pleasee, queen lelah mom. Mau tiduran di kasur hari ini aja. Pleasee!!”
“Oke mommy akan ijinan, tapi handphone sama laptop kamu mommy sita.”
“Engga mau mom, nanti kalau ada teman queen chat gimana?”
“Biar mommy yang bales.”
“Mommy tahu mengapa princess terlambat bangun hari ini. Tadi malam princess bergadang nonton drakor,” ujar Khanza menyelidik menatap putrinya.
“Mommy pasti ngawasin queen lagi.” Khanza mengangguk.
“Princess memang harus mommy awasin mulai sekarang.”
“Ihh semua nyebelin.” Queen turun dari pangkuan sang daddy, lalu melangkah menuju lift dengan menghentak-hentakan kakinya.
“Princess kenapa sayang?” Tanya Ghani pada sang adik yang hanya melewati tanpa berhenti untuk menjawab pertanyaannya.
Ghani heran, tumben sekali sang adik seperti itu. Ghani yang ingin mengejarnya, dicegah oleh Khanza.
“Tidak usah dikejar Ghani, princess biar mommy yang mengurusnya. Lebih baik kamu sarapan nak, setelah itu berangkat kesekolah bareng Rey,” ujar Khanza.
Rey yang baru datang pun berbicara. “Mommy tidak bisakah Rey berangkat sekolah sendiri, mengendarai mobil sendiri,” protesnya.
“Sudah punya sim untuk mengendarai mobil, kalau ada baru mommy ijinkan,” pungkas Khanza.
“Daddy!” Rey meminta bantuan pada daddynya.
“Mommy benar son, jadi turuti saja apa kata mommy. Karna itu yang terbaik untuk kalian.” Khanza tersenyum mendengar perkataan suaminya.
‘Cup’ Khanza mencium pipi suaminya...
“Makasih karena tidak mas, karna tidak membela anak-anakmu.”
Antonio sangat senang mendapat ciuman dari sang istri.
‘Cup’ Antonio membalas ciuman istrinya, tetapi bukan dipipi melainkan dibibir.
“Sama-sama honey.”
“Mas aku mau keatas, mengurus princess manja kita.” Pamit Khanza.
“Iya honey, mas juga mau berangkat ke kantor.”
“Yasudah aku anterin kamu kedepan dulu. Baru nyusul princess keatas,” ujar Khanza mengantar suami kedepan pintu mansion.
“Mas berangkat ya honey.”
“Iya mas hati-hati. Nanti aku bawain makan siang ke kantor.”
“Siap honey.” Antonio tak lupa mengecuk kening istrinya sebelum masuk ke dalam mobil. Entah perasaan Antonio saja, pria itu merasa khawatir dan takut terjadi suatu hal. Tetapi tidak tahu siapa yang dikhawatirkan dan hal apa yang akan terjadi sama siapa? Masih tanda tanya.
“Mungkin hanya perasaan ku saja.” Gumannya. Antonio meyalakan mobilnya dan berangkat menuju kantor.
****
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓