
“Dek, kamu mau beli sesuatu?” Tanya Ghani menghentikan mobilnya di parkiran depan sebuah super market.
“Mau es krim boleh?” Tanya Queen balik meminta izin.
“Tidak ***-“
“Boleh, tapi disana nanti jangan merengek lagi meminta es krim. Masih ingatkan kamu cuman dibolehin bang Ell makan es krim satu kali dalam seminggu,” kata Ghani menyela perkataan Rey dan mengingatkan adik perempuannya.
“Abang disini lagi tidak ada bang Ell, jadi boleh dong aku makan es krim sepuasnya,” protes Queen saat Ghani mengingatnya kembali tentang larangan Arcell.
“Yasudah, kita tidak jadi beli es krim saja. Disana saja baru kamu makan es krim.” Ghani menjalankan mobilnya tanpa menunggu persetujuan Queen.
Queen berubah cemberut mendengar Ghani yang tidak menurutinya. Mata Queen sudah berkaca-kaca, siap mengeluarkan air mata.
“Hiks abang pelit,” ujar Queen kesal.
Ghani tetap diam saja, membiarkan Queen menangis.
Sedangkan di belakang Bian dan Rey tampak kesal melihat sikap Ghani yang cuek dan tak perduli. Memilih tetap dengan pendiriannya.
“Dasar manusia kulkas,” umpat Rey masih bisa di dengar Ghani.
“Rey tunggu hukuman dari abang,” ucap Ghani bicara tanpa menoleh ke belakang dan tetap fokus pada jalanan.
“Gak perduli,” bales Rey mendelik.
‘Pengen gue tonjok rasanya wajah Ghani yang nyebelin banget udah bikin princess gue nangis’ batin Abian hanya bisa bicara dalam hati.
Queen yang tadi menangis menjadi tertidur lelap, sampai mobil berhenti dan Ghani bergantian menyetir dengan Abian.
“Rey kamu pindah depan, biar *princess *nyaman tidur di belakang bersama abang,” suruh Ghani.
Rey pindah ke depan, Queen di gendong Ghani memindahkan ke belakang. Barulah ia masuk dan merebahkah kepala adik di pahanya.
Selama perjalanan Queen merasa nyaman dalam tidurnya, karena Ghani mengusap-ngusap kepalanya sehingga memberikan ketenangan dan kenyamanan.
Beberapa menit lagi mereka akan sampai di villa yang akan mereka tempati selama berada di puncak.
...****************...
Di kantor Horison yang berada di luar negeri. Antonio yang baru saja menyelesaikan pekerjaan di kantor memilih keluar mengunjungi Andreas papanya yang berada di rumah sakit sedang ditemani Erina mamanya yang selalu setia menemani.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit Antonio menerima telpon dari Satya assistennya yang semantara menjadi assisten putranya Arcell yang belum menemukan assisten yang bisa menghandle pekerjaan kantor.
“Ada apa Satya?” Tanya Antonio.
“Tidak papa tuan, saya hanya ingin menanyakan kabar anda? Dan kapan anda akan kembali ke indonesia?” Ujar Satya bertanya di seberang telpon.
“Kabar saya baik, untuk sekarang sepertinya saya belum bisa kembali. Bagaimana keadaan kantor apakah Arcell memimpin dengan baik?” Antonio memberitahu Satya dan kembali bertanya tentang kantor pusat di indonesia yang sekarang telah resmi di pimpin Arcell.
“Semuanya baik tuan, tuan muda Arcell sangat jenius dia mampu memimpin perusahaan Horison,” kata Satya memuji Arcell.
“Syukurlah, saya senang mendengarnya. Apa Arcell sudah mendapatkan assisten?”
“Belum tuan, tapi saya masih mencarikan assisten untuk tuan muda. Agar saya bisa menyusul anda secepatnya kesana untuk membantu anda.”
“Tidak Satya, kau tidak akan saya izinkan menyusul kesini sebelum kau menikah.”
“Tapi taun-“
“Saya ingin tuan, hanya saja saya belum menemukan seseorang yang cocok menjadi pendamping saya.”
“Apa Nada tidak cocok dengan mu. Ayolah Satya menikahlah umur mu sudah tak muda lagi. Kau tak ingin memiliki keturunan?” Antonio mendesak Satya agar pria mengerti maksudnya.
“Bukan begitu tuan, saya merasa terlalu tua jika bersanding dengan Nada.”
“Saya tau kau mencintai Nada jadi cobalah katakan padanya kalau kau mencintainya. Jika Nada mencintai mu menikahlah dengannya, jangan membuat anak orang terus menunggu mu pria tua,” ujar Antonio mengejek Satya.
Diseberang telpon Satya hanya bisa bersabar mendengar perkataan tuannya. Ingin sekali rasanya ia membalas perkataan tuannya, tapi ia masih mengingat yang mengejeknya adalah bossnya yang baik hati.
“Satya apa kau masih di sana?”
“Iya tuan, baiklah saya akan mencoba mengatakan pada Nada. Jika ia menerima cinta saya, saya akan menikahinya dan tuan harus hadir dipernikahan saya nanti.”
“Hemm, bisa diatur.” Antonio menjawab singkat.
TUTT...
Sambungan telpon berakhir, Antonio menaruh kembali handphone di saku celananya. Sebentar lagi ia akan tiba di rumah sakit.
Antonio berjalan memasuki rumah sakit dan menaiki lift untuk sampai ke kamar rawat inap papanya.
“Assalamualaikum mah pah,” salam Antonio ketika masuk ke kamar rawat papanya.
“Waalaikumsalam nak, kamu pasti baru pulang dari kantor,” ujar mama Erina.
“Iya mah, perkerjaan udah selesai.”
“Mengapa malah kesini dan tidak pulang ke mansion dan istirahat Vier,” omel mama Erina.
“Aku mau melihat keadaan papa mah,” bales Antonio.
“Papa keadaannya membaik, tapi harus banyak istirahat. Tuh kamu bisa liatkan papa tertidur setelah meminum obatnya,” kata mama Erina.
“Mama juga harus istirahat ya, aku tidak mau mama sakit juga seperti kemaren,” ucap Antonio.
“Kamu tenang saja mama sudah sehat kok, mama kangen banget sama cucu-cucu mama. Pengen banget ke indonesia, tapi tidak mungkin mama meninggalkan papa mu sendiri.”
“Papa pasti cepat sehat ma dan kita akan pulang ke indonesia bersama-sama.”
Setelah mengatakan itu Antonio memeluk mama Erina. Ia juga ingin secepatnya kembali ke Indonesia berkumpul bersama anak-anaknya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Guys baca karya baru aku yuk judulnya "YOU'RE MINE, SERRA dan ISTRI SIMPANAN”
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓