
Khanza membawa Queen turun ke bawah bersamanya. Tidak mungkin aku menbiarkan putriku sendirian di dalam kamar mereka tanpa penjagaan.
Sesampai di bawah Khanza berpapasan dengan Fatimah yang merupakan pelayan seumuran Bi Inahya dan bertugas di dapur.
“Bu Fatimah,” panggilku. Mendengar namanya dipanggil oleh majikannya, wanita paruh baya itupun berhenti dan berbalik menghampiri majikannya.
“Ada apa neng?” Tanya Bu Fatimah.
“Begini bu, aku mau minta tolong jagain Alesha.”
“Boleh neng, memangnya neng mau kemana?”
Khanza tersenyum sebelum menjawabnya, “ngga kemana-mana bu, aku mau masakin makan siang buat mas Nio.”
“Owalah ibu kira mau kemana,” ucap Bu Fatimah terkekeh.
Sekarang Queen berpindah ke gendongan Bu Fatimah.
“Au... Mommy,” gadis kecil itu membrontak di gendongan Bu Fatimah. Matanya berkaca-kaca, Khanza yang tidak tega pun mengambil alih lagi putrinya membawa dalam gendongannya.
“Princess cantik, jangan nangis lagi dong sayang, sekarang sudah sama mommy,” kata ku lembut, tangan yang satunya aku gunakan mengusap punggung putriku agar berhenti menangis.
“Princess ngga mau main sama nenek Fatimah dulu sayang? Mommy mau masakin daddy buat makan siang dikantor, nanti kita ke kantor kasih kejutan buat daddy,” bujukku. Queen menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.
“Au ain cama daddy,” celotehnya.
“Kalau gitu princess sama nenek Fatimah dulu, nanti setelah mommy selesai masak kita langsung ke kantor daddy. Gimana sayang mau?” Queen mengangguk dalam gendongan ku, seketika aku langsung tersenyum senang.
“Angan yama yama asak dapul (jangan lama lama masak di dapurnya).”
“Oke sayang.”
“Mommy yum,” pintanya menampilkan wajah lucunya. Aku yang tahu permintaan putri kecilku, segera saja melakukannya. Aku mencium seluruh wajah putriku
Setengah jam sudah aku berkutat di dapur dengan bahan masakan, akhirnya ayam bakar dan lalapan serta tumis kankung untuk makan siang telah siap. Lalu aku menatanya ke dalam tupperware rantang.
“Bibi makasih sudah bantuin aku masak.”
“Sama-sama neng, wong itu juga sudah tugaskan bibi neng,” ujar Bi Inahya.
Selesai bersiap, Khanza segera turun ke bawah menemui putrinya untuk berangkat ke kantor.
“Ayo sayang kita ke kantor daddy.” Mendengar perkataan ku, Queen langsung berjalan menghampiri ku dengan wajah girangnya dan langkah pelannya.
“Yeyeyey emu dad,” celotonya.
“Bu makasih ya sudah mau menjaga Alesha,” ucapku sebelum melangkah menuju pintu masion.
“Sama-sama neng, ibu senang bisa jagain Alesha,” ujar Bu Fatimah.
“Aku pamit mau ke kantor ya bu, princess salim dulu sama nenek.” Kataku meminta putriku untuk menyalami tangan Bu Fatimah. Queen yang memang anaknya cepat tanggap, melakukannya.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam neng, hati-hati,” sahut Bu Fatimah.
***
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, kini sampailah mereka di sebuah bangunan besar dan tinggi yang merupakan kantor Antonio.
“Silahkan nona, apa mau saya antar langsung ke rungan tuan nona?” Tanya Alvaro.
Khanza menggeleng, “Tidak usah paman, biar aku dan Alesha saja masuk ke dalam. Kalau paman mau pulang, pulang saja. Nanti aku dan Alesha pulang besama mas Nio,” ucapnya.
“Baiklah nona, kami akan pulang,” pungkas Alvaro. Sebelum itu Alvaro mengawasi nona sampai masuk ke dalam kantor.
****
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓