
Sore ini Khanza diperbolehkan pulang. Wanita hamil itupun tersenyum senang, akhirnya dia akan kembali lagi ke kost'annya.
Sekarang disinilah Khanza berada didalam mobil. Duduk dikursi penumpang bersama Antonio dibelakang. Khanza menatap keluar jendela kaca mobil, sebenarnya itu hanya untuk mengalihkan rasa deg-degan ketika bersama Antonio.
"Om, kita mau kemana? Inikan bukan arah ke kost'an aku," ujar Khanza. Saat menyadari arah jalan mobil, yang memang bukan menuju kost'annya.
"Tunggu, sebentar lagi kita sampai," ucap Antonio santai.
Terpaksa Khanza hanya diam saja. Entahlah, pria tua ini akan membawanya kemana. Intinya dia menuruti saja dulu.
.
.
Sampailah mereka di mansion 'Horison'. Gerbang dibuka oleh penjaga, mobil langsung masuk dan berhenti tepat didepan pintu utama mansion.
Pintu mobil pun dibukakan oleh Alvaro sang bodyguard. Antonio sudah turun duluan dan sudah didepan pintu mansion. Tidak dengan Khanza yang masih berdiam.
"Nona, turunlah! Tuan sudah menunggu anda," kata Alvaro sopan.
"Aku tidak ingin turun... Tolong antarkan aku ke kost'an saja," pinta Khanza.
Eduard yang masih berada dikursi setir pun, memberi kode pada Alvaro untuk memberitahu tuan mereka. Alvaro yang paham akan kode temannya, meninggalkan Khanza sebentar untuk menghadap Antonio yang sudah berada didepan pintu.
"Tuan, nona tidak ingin turun dari mobil," lapor Alvaro.
Antonio bergegas menghampiri wanitanya. Tanpa banyak bicara Antonio menggendong ala bridal style. Walaupun wanitnya membrontak dalam gendonganya, karena tidak mau diam Antonio memukul pantat wanitanya.
PUK!
"Oomm," teriak Khanza.
"Diamlah sayang! Atau kamu mau lagi," ancam Antonio, membuat Khanza seketika diam dan tidak membrontak lagi.
Hampir sampai di depan lift, tiba-tiba ada yang memanggil Antonio.
"Tuan!" seru Bi Inahya melihat kedatangan majikannya.
"Ada Bi," sahut Antonio berbalik badan dengan Khanza masih dalam gendonganya. Wanitanya malah membenamkan wajah diceruk lehernya. Membuatnya merasakan nafas wanita itu, rasanya tubuh tersengat. Sesuatu dalam dirinya ingin dilepaskan.
Bi Inahnya malah memperhatikan seseorang digendongan majikannya. Dia juga heran dengan tuannya yang membawa wanita ke mansion dan ini pertama kalinya. Wanita paruh baya itu merasa mengenal sosok tersebut. Tetapi lupa..
"Bi!"
Antonio awalnya hanya diam saja, karena bingung ingin makan apa? Akhirnya ia memcoba bertanya pada wanita dalam gendongannya.
"Sayang! Kamu ingin makan malam dengan apa malam ini?" tanya Antonio dengan suara lembut. Bi Inahya langsung terperangah mendengar nada lembut majikannya yang terkenal dingin.
Wajah Khanza jadi berbinar, entahlah rasanya dia jadi mengidam masakan Bi Inahya. Sangat kebetulan sekali kan.
"Aku pengen ayam geprek super pedes," bisik Khanza balik.
"No, tidak boleh pedes. Ingat anak kita," peringat Antonio.
"Terserah om aja, intinya aku mau ayam geprek," bisikannya.
Bi Inahya hanya menunggu kedua pasangan tersebut selesai saling berbisik.
"Bi, kekasih saya ingin ayam geprek saja. Tidak usah terlalu pedas ya bi," pesan Antonio lalu melangkah masuk ke dalam lift. Khanza semakin membenamkan wajahnya, dia merasa malu jika ketahuan.
Setelah pintu lift tertutup, Bi Inahya tersadar dari ketepakuannya.
"Apa wanita tadi itu neng Khanza," pikirnya.
"Inah," Maman mengejutkan.
"Maman, suka sekali ngagetin," kesal Bi Inahya.
"Hayo! Kamu ngapain masih disini, bukannya didapur," ujar Maman.
"Ini mau kedapur, kang Maman," tukas Bi Inahya, berjalan menuju dapur tanpa menunggu balasan Maman.
"Malah ditinggalin! Inahya," seru Maman kesal.
Bi Inahya malah ketawa dan berucap dalah hati 'rasain'. Dia pun memasakan makanan yang dipinta oleh tuannya.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓