My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 16



"Honey! Mas perhatiin kamu diam aja selama perjalanan pulang, sampai mansion pun kamu tetap diam. Ada apa honey? Hm cerita sama mas," seru Antonio bertanya, rasanya melihat istrinya yang diam dan terlihat agak murung. Hatinya tidak tenang sebelum mengetahui apa yang membuat istrinya seperti itu.


Tetapi bukan jawaban yang didapatkan Antonio, melainkan gelengan. Khanza berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan sekalian mengganti baju dengan piyama tidur.


Karena Antonio tipikal orang yang tak suka didiamkan oleh istrinya. Ia langsung menyusul ke dalam kamar mandi. Khanza tetap saja tidak menghiraukan suaminya, walaupun ia tahu suaminya ada dibelakangnya, di depan cermin tentu akan terlihat bayangannya.


Selesai mengganti pakaiannya Khanza ingin keluar tetapi Antonio menghalanginya. Tak memberi sedikitpun celah untuk Khanza keluar.


"Honey, kamu sebenarnya kenapa? Bilang sama mas, kalau mas punya salah mas minta maaf," kata Antonio lembut dan merangkum wajah sang istri agar menatap matanya.


"Ngga malas," ujar Khanza menyahutnya.


Antonio tersenyum mendengar suara istrinya, yang mau berbicara walaupun agak malas menyahutinya.


"Ayo katakan apa kesalahan mas? sampai kamu diamkan mas seperti ini," ujar Antonio bertanya.


"Awas mas, aku mau lewat. Aku mau istirahat, capek," ucap Khanza tidak menjawab pertanyaan Antonio.


"Kita ngga akan keluar, sebelum mas tau apa kesalahan mas, sehingga kamu mendiamkan mas sedari tadi," Antonio tetap menghalangi Khanza dan tak membiarkan istrinya keluar.


"Kamu tau kan honey, mas ngga bisa kamu diamkan. Rasanya hati ini ngga tenang, terus memikirkannya," lirih Antonio mengatakannya sejujurnya di dalam lubuk hatinya.


Mendengar ungkapan sang suami, membuat hati Khanza terenyuh. Ia malah merasa bersalah telah mendiamkan suaminya, entahlah ia pun tak tau mengapa kehamilan babygirl membuatnya menjadi cemburuan dan tak menyukai siapapun menatap suaminya dengan pandangan terpesona.


Antonio tersenyum-senyum mendengarnya. Ternyata itulah yang membuat istrinya mendiamkannya.


"Sudah ya honey, jangan nangis kasihan babygirl kita nanti ikutan sedih karena mommy nya. Wajar kamu marah karena mereka memandang mas seperti itu, jika mas tau mas juga akan menatap tajam mereka yang telah berani memandang seperti itu. Mas juga akan melakukan hal yang sama jika kamu dipadang seperti itu oleh lelaki, mereka akan habis ditangan mas saat itu juga," ujarnya panjang lebar.


Khanza hanya mengangguk saja, lalu Antonio menutun sang istri keluar dalam kamar mandi. Dan berbaring di sebelah Rey. Karena Rey tak mau tidur dengan para abang-abangnya. Maka dari itu putra kecilnya masih tidur dengan mereka.


Setelah itu Antonio ingin beranjak untuk mengganti bajunya, tetapi tangan Khanza menahannya.


"Mas mau kemana?"


"Mas mau mengganti baju honey, hanya sebentar. Nanti mas elus perut kamu," Khanza juga tak bisa tidur jika perutnya tidak di berikan elusan.


Selesai mengganti baju, Antonio duduk di pinggiran ranjang. Tangannya langsung mengelus perut Khanza. Mereka saling bertatapan satu sama lain...


"Mas ngerasa nggak, kalau kehamilan babygirl membuat ku sangat manja padamu. Mungkinkah babygirl akan sangat manja nantinya padamu."


"Sepertinya begitu honey," sahut Antonio.


Larut dalam obrolan, membuat mata Khanza tak tahan. Hingga tertidur pulas, Antonio yang melihat istrinya sudah tertidur pulas. Ia pun menghentikan elusannya dan mengitari ranjang. Lalu berbaring di sebelah kanan putranya.


****