My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 35



Setelah penerbangan yang lumayan memakan waktu. Ketiga orang itupun keluar menuruni tangga pesawat. Tapi sebelum turun kedua pria paruh baya yang masih terlihat gagah saling berebut ingin menggendong satu gadis cantik yang masih sedikit terlihat pucat.


"Cukup... Dadd, p-pa stop, biar Rhea turun sendiri," ujar Rhea menghentikan kedua pria yang tadi saling beradu mulut.


"Tapi sayang kamu baru sembuh, biar dadd gendong ya," Antonio membujuk putrinya agar digendong saja. Karna wajah Rhea begitu pucat.


"Iya perincess sayang, biar papa gendong aja ya. Papa takut nanti kamu jatuh lagi," sekarang Bagas yang berkata membujuk.


"Dadd papa, denger ya. Rhea masih kuat kalau turun gini," tanpa mau menunggu keduanya, Rhea menuruni tangga pesawat dengan pelan dan berhati-hati.


Sampai dibawah dirinya langsung masuk ke dalam mobil. Saat melihat Satya berdiri di dekat pintu mobil yang memang sudah diketahuinya asissten kepecayaan Antonio.


Antonio yang melihat itu tersenyum sumringah. Sedang Bagas di sebelah terlihat kesal, karna Rhea memilih pulang bersama Antonio. Tidak ambil pusing Bagas segera turun dan masuk juga ke dalam mobil yang sudah ada Rhea disana.


"Kurang ajar!" Antonio menuruni tangga pesawat. Segera menuju mobilnya dan membuka pintu belakang.


"Keluar kamu, saya mau duduk disini," ketus Antonio.


Keduanya memang tidak akan pernah akur. Mungkin nanti, entahlah kapan yang pasti ada saatnya kedua pria tersebut berbaikan.


"Tidak aku mau disini bersama princess ku," kekeh Bagas menolak untuk keluar.


Adu mulut mereka membuat Rhea pusing setengah mati. Dia hanya diam dulu, tapi suara peraduan kedua pria paruh baya tersebut tidak berhenti juga.


"STOP!" tekan Rhea berteriak.


"Sayang jangan berteriak nanti tenggorokan mu sakit," pesan Antonio mengingat putrinya.


"Dadd... Re mohon biarin papa bagas satu mobil sama kita," ucap Rhea dengan menampilkan puppy eyes.


Antonio menghela nafas berat, putrinya sangat tahu kelemahannya. Ia memang tidak bisa melihat Rhea memohon dengan menampilkan wajah imutnya. Sungguh putrinya terlihat menggemaskan jika seperti itu.


Akhirnya Bagas ikut bersama, satu mobil dengan mereka. Tetapi sopir Bagas mengikuti dari belakang. Nanti setelah mengantar putrinya, ia akan langsung pulang. Kasihan istrinya menunggu dirumah, dia juga akan menjelaskan sesuatu.


.


.


Sekarang Bagas sudah sampai di kediaman 'Horison' yang sangat mewah. Bahkan tak kalah mewah dari mansionnya. Melihat Antonio turun dengan Rhea berada dalam gendongan. Membuat Bagas merasa cemburu, karna dirinya belum pernah sekalipun menggendong putrinya saat dalam keadaan sadar. Dia hanya pernah sekali menggendong Rhea, itupun dalam keadaan tidak sadarkan diri karna kecelakaan.


Bagas mengikuti keduanya. Sampai di kamar Rhea, Bagas juga ikut masuk ke dalam.


"Sekarang kamu istirahat. Ingat besok kamu belum boleh sekolah dulu harus istirahat," ujar Antonio.


"Engga mau dadd, Re mau sekolah. Kangen Khanza," seru Rhea mengingat nama sahabat kesayangannya. Rindu berat sekali dengan kebersamaan mereka.


"No, dadd ga ijinin dulu," tegas Antonio.


"Tapi-..."


"Re, sekali aja nurut ya sama dadd. Ini demi kebaikan kamu," ucap Antonio.


Rhea memberikan anggukan dan menghela nafas. Artinya ia harus menahan kerinduannya terhadap sahabat kesayangannya.


"Sekarang kamu istirahat dulu. Dadd mau keruang kerja dulu," ucap Antonio mengelus kepala putrinya dan mencium kening.


Saat ingin mencapai pintu, Antonio menoleh kebelakang baru mengingat jika dirinya tidak hanya berdua dengan putrinya melainkan ada orang lain.


"Kenapa anda masih berada disini, tidak ingin pulang. Karna anak saya mau istirahat. Nanti malah terganggu dengan kehadiran anda yang masih berada di kamar ini," ujar Antonio, membuat mata Rhea tidak jadi terpejam.


"Sebentar, saya juga akan pulang. Saya ingin berpamitan terlebih dulu," ketus Bagas, karna kesal dengan ucapan Antonio yang mengusir secara halus.


Bagas mendekat, duduk di tepian ranjang Rhea. Awalnya ia mengelus kepala putrinya dengan sayang. Lalu mengecup kening akhirnya.


"Selamat istirahat perincess papa. Cepat sembuh ya perincess kesayangan papa," Bagas mengatakan itu dengan lirih. Entahlah, hatinya sakit melihat keadaan putrinya.


Rhea tidak menjawabnya. Melainkan memberi kecupan di pipi Bagas dan itu sangat membuat Bagas terkejut. Tidak menyangka sama sekali akan mendapatkan ciuman tersebut. Sedang Antonio merasakan cemburu melihat semua itu.


"Sudahkan! Cepatlah keluar," tukas Antonio.


"Dasar tidak sabaran," guman Bagas pelan.


"Saya masih bisa mendengar gumanan anda," ujar Antonio.


"Baguslah, berarti kedua telingan kamu masih berfungsi," balas Bagas.


Sebelum pertengkaran keduanya semakin sengit. Rhea dengan cepat menghentikannya.


"Stop! Dadd pa, Re mau istirahat. Kalau kalian masih bertengkar kapan Rhea istirahatnya,"


Keduanya pun langsung terdiam. Bagas pun langsung keluar setelah selesai mencium pipi putrinya dan Rhea yang menyalimi tangannya. Ketika berjalan kearah pintu, tatapan keduanya begitu tajam mematikan. Tapi tatapan Antonio lebih mengerikan daripada tatapan Bagas.


***


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓