My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 82



Khanza berada di dalam mobil bersama kedua bodyguard kepercayaan Antonio yaitu Eduard dan Alvaro. Mereka berdua mengantarnya menuju ke kantor 'Horison'. Tapi belum sampai juga, sebegitu jauhkan kantor 'Horison'.


"Eum, apa masih jauh kantornya?" tanya Khanza.


"Sebentar lagi kita sampai nona," jawab Alvaro.


Setelah itu hanya terjadi keheningan di dalam mobil. Sepanjang perjalanan pun Khanza hanya menatap keluar jendela. Hingga tak berselang lama, mobil berhenti didepan kantor 'Horison'.


"Kita sudah sampai nona, silahkan!" ujar Alvaro membukakan pintu mobil.


Khanza turun dari mobil dan tampak begitu terkejut melihat kantor dihadapannya sebuah gedung bertingkat yang tampak megah.


"Nona apa perlu saya antar sampai ke ruangan tuan Antonio," ujar Alvaro menawarkan untuk mengantarkannya.


"Tidak usah, biar aku sendiri saja yang masuk. Oh ya, om kalau mau pulang saja duluan. Nanti aku pulang baren sama tuan kalian," tukas Khanza.


Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke kantor 'Horison'. Dengan langkah pasti, ia memasuki kantor. Lalu mendatangi resepsionis yang ada di dekat loby kantor.


"Ada yang bisa saya banti dik?" tanya resepsionis melihat penampilan Khanza dengan wajah males. Resepsioni itu tak mengetahui jika Khanza ada istri dari atasannya. Karna dia adalah resepsionis baru, karena yang lama bari saka resign.


"Eum, aku mau kerungan mas- eh pak Antonio nya ada?" ujar Khanza bertanya dengan hati-hati, karna melihat wajah resepsionis yang begitu judes menatapnya.


"Apa adik sudah buat janji dengan pak Antonio?" pertanyaan resepsionis, diberi gelengan oleh Khanza.


"Tapi saya kesini mau nganterin makanan buat pak Antonio tante, aku di suruh langsung pergi ke ruangannya."


Mendengar itu resepsionis itu tetap tak percaya. Bahkan sekarang resepsionis tersebut keluar dari meja bundarnya. Langsung menghampiri Khanza dan berada di hadapannya sekarang.


"Biar saya saja yang anterkan keruangan pak Antonio, serahkan saja rantangnya pada saya..."


Dengan sigap tangan Khanza membawa rantang ke belakang. 'Enak saja, aku kesini kan mau sekalian makan siang bersama sama mas Nio.' ucap membatin.


"Nggak tante makasih, aku disuruh langsung nganter keruangannya sendiri," kekeh Khanza.


"Iya saya tahu, tapi pak Antonio sedang ada meeting dan kemungkinan selesainya lama. Mending adik titip sama saya saja, daripada nanti adik dimarahin dirumah bahkan di pecat karena tidak berkerja..."


"Kok tante malah bahas saya dipecat sih," bingung Khanza.


"Kamu pembantu di mansion Horison kan, yang lagi nganterin makanan buat tuan kamu yaitu pak Antonio..."


"Aku ngga kerja tante, emang aku disuruh buat kesini nganterin makanan. Jadi biarkan aku ke ruangan pak Antonio..."


'Bener-bener ini gadis kampung, bisa-bisanya dia panggil aku tante. Seperti aku harus panggil satpam.'


"Satpam!!" seru resepsionis itu berteriak memanggil satpam yang berjaga di depan.


"Ada apa bu," tanya kedua satpam tersebut.


"Tante ngapain panggil satpam, akukan cuma mau langsung ke ruangan pak Antonio," tukas Khanza. Sayang resepsiosis tersebut tak perduli dengan omongan Khanza.


"Tolong bawa gadis keluar dari kantor, karna dia hanya menganggu kenyamanan kantor," ujar resepsionis. Kebetulan sekali loby kantor sedang sepi, memang istirahatnya masih setengah jam lagi.


"Lepas!!" teriakan Khanza menggema di loby kantor, membuat orang yang ada disekitar ruangan situ langsung keluaran, untuk melihatnya.


"Maaf adik, kau harus segera keluar dari sini. Karna adik sudah menganggu kenyaman kantor ini..."


Kedua satpam bertubuh besar ituk menarik tangan Khanza dengan kasar. Tetapi Khanza terus sana membrontak.


"Tapi Satya, gadis ini telah mengganggu kenyaman kantor," ujar satpam tersebut.


"Siapa yang kalian bilang mengganggu kenyaman kantor saya," suara bariton Antonio terdengar begitu dingin di telinga semua orang yang berada di sana.


Semua karyawan yang tadi menonton dan hanya mendengar. Kini bubar, semua langsung masuk lagi keruangan mereka.


Khanza yang melihat kedatangan Antonio, seketika menghentakkan kedua tangan satpam yang memegangnya dan berlari memeluk Antonio.


"Mas," seru Khanza dan tangan begitu erat memeluk pinggang Antonio.


"Iya kenapa sayang, apa yang mereka lakuin sama kamu?" tanya Antonio pada istrinya, tetapi istrinya malah menggeleng tak ingin bicara.


"Jawab apa yang kalian lakuin sama istri saya," tuntut Antonio bicara dengan intonasi suara rendah tapi dengan nada yang menekankan. Dia tak ingin bicara keras di depan Khanza, takut jika nanti malah membuat istrinya tertekan.


"Maaf sebelumnya tuan, tadi kami berdua dipanggil oleh bu Sinta. Untuk membawa adik itu keluar dari kantor, bu Sinta mengatakan jika gadis itu telah mengganggu kenyamanan kantor," salah satu satpam menjelaskannya, membuat mata Sinta melotot menatap kedua satpam tersebut. Ya, resepsionis tadi ternyata bernama Sinta.


"Tidak seperti itu pak, tadi gadis itu memaksa untuk pergi keruangan bapak. Padahal saya sudah bilang untuk menitipkan saja makanan pada saya, tetapi gadis itu tetap bersikeras ingin pergi keruangan bapak. Apalagi tadi dia membentak saya dengan berbicara begitu kasar," Sinta terpaksa berbohong agar dapat bertahan di kantor ini. Hanya kantor ini yang gajih sangatlah tinggi.


Khanza yang mendengar perkataan Sinta, mendongakan kepala menatap Antonio. Lalu memberika gelengan bahwa tidak benar.


"Ngga mas, tadi aku bicara baik-baik sama tante itu. Tapi dia selalu bilang mas sibuk, lagi meeting. Dia ga biarin aku anter makanan ini keruangan mas. Malah dia minta, biar makanan di kasihkan sama dia dan biar dia saja yang nganter. Tapi aku tetap ngga mau, karna aku pengen anter sendiri. Ehh, tante malah manggil satpam buat usir aku. Kalau soal bicara kasar, sumpah demi allah aku gaada ngomong kasar mas. Mas tahu sendiri aku ga pernah bicara kasar sedikitpu..."


Sebenarnya Antonio tak perlu istrinya untuk menjelaskan karna dia sudah tahu sendiri.


"Mas percaya kamu sayang! Yasudah kita langsung keruangan mas aja ya," ajak Antonio merangkul istrinya untuk masuk ke dalam lift. Tapi sebelum itu Antonio sudah memberi kode pada Satya untuk mengurus wanita yang bernama sinta tadi. Sebenarnya bisa saja dia menampar wanita tadi, tapi dia tak ingin melakukan kekerasan di depan istrinya. Apalagi dengan keadaan istrinya yang lagi mengandung.


Ting!


Suara lift yang menandakan mereka telah sampai di lantai atas. Antonio merangkul pinggang istrinya dan tangan satunya memegang rantang yang berisi makanan.


Antonio membuka pintu ruangannya dan masuk bersama ke dalam. Membawa istrinya untuk duduk di sofa, lalu menaruh rantang di atas meja tersebut.


"Sayang udah ya, yang tadi gausah kamu pikirin. Lebih kita makan siang bersamakan, kamu bawain makanan apa aja," ujar Antonio mengalihkan pikiran istrinya agar tidak memikirkan masalah tadi.


Khanza kembali tersenyum dan mengangguk. Dengan bersemangat ia membuka rantang makanan.


"Kamu masak ayam bakar sama cah kankung... Tunggu sebentar mas ambil air minum dulu," Antonio berdiri mengambil air di lemari pendingin dalam ruangannya.


"Yuk mas, kita makan..."


Keduanya pun makan bersama dengan Antonio yang minta di suapin. Dengan telatennya Khanza menyuapi suaminya.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓