My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 59



Saat di meja makan yang lain tampak bersemangat menikmati sarapan pagi, hanya Ghani tak bersemangat karena memikirkan mommynya yang tengah sakit dikamar. Anak itu rasanya tidak mau pergi kesekolah hari ini dan ingin berada dikamar menemani mommynya.


“Ghani kamu kenapa?” Tanya Arcell memperhatikan saudaranya seperti lemas sekali.


“Aku engga papa kak,” jawabnya.


“Lalu mengapa abang perhatikan kamu tak bersemangat hari ini. Makanan dipiring cuma kamu aduk-aduk seperti itu. Abang engga suka ya liat adik abang membuang makanan, ingat kata mommy orang diluar sana sangat susah untuk mendapatkan sesuap nasi. Jadi kita harus selalu bersyukur masih bisa menikmati makanan yang kita inginkan.” Kata Arcell bijaksana.


“Abang engga tau kalau mommy sakit,” ujar Ghani, membuat Arcell terdiam dan menggeleng tak tahu. Arsen malah menjatuhkan sendoknya wajah sama seperti Arcell tampak shock.


Belum ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Arcell dibuat terkejut dengan teriakan Queen memanggil mommy mereka.


“Mommy, mommy!” Panggil Queen berdiri dari kursinya dan berlari menuju kearah lift sambil meneriakan nama mommynya.


Begitupun Rey juga turun berlari, mengerjar Queen yang hendak memasuki lift.


“Rey! Princess jangan berlari sayang, nanti kamu tersandung,” teriak Arsen balik mengingatkan kedua adiknya dan berdiri juga dari kursi mengejar sang adik yang tengah berlari. Arsen sangat khawatir, takut jika adik perempuannya tersandung dan jatuh.


“Habiskan makanan mu Ghani, jangan pergi kemanapun sebelum makanan dipiring mu habis.” Sergah Arcell, ketika tahu Ghani ingin menyusul princess.


“Tapi bang-“


“Biar abang dan Arsen saja menyusul princess. Bian abang minta awasi Ghani dan Raffa,” titah Arcell pada adik sepupunya agar mengawasi keduanya. Arcell segera melangkah pergi meninggalkan meja makan menyusul princess dan kembarannya ke lantai atas.


“Dasar abang kulkas berjalan menyebalkan,” umpat Ghani kesal yang di dengar Bian dan Raffa.


“Ghani jangan mengumpat, disini masih ada raffa. Jaga ucapan mu, lagian abang Arcell benar. Makanya jika ingin menyusul cepatlah habiskan makanan mu, aku juga ingin melihat keadaan mommy,” ujar Bian.


“Sabar Bian!” Serunya.


“Cabal Biaaann!” Kikik Raffa meniru perkataan Ghani. Membuat Bian menatap tajam Ghani karna membuat Raffa menirunya.


Ghani ikut tertawa mendengar suara keponakannya yang lucu dan menggemaskan.


***


“Mommy, mommy.” Sepanjang jalan menuju kamar sang mommy, Queen terus meyerukan nama mommynya.


‘Kreek’ pintu dibuka Queen tanpa mengetuknya. Anak perempuan dan laki-laki berlari memeluk mommynya.


“Abang Rey dan princess kenapa nak, kok kalian nangis sayang?” Tanya Khanza mengusap rambut kedua anaknya bergantian.


“Mommy, Queen nda mau sekolah. Mau disini aja nemani mommy,” rengeknya manja. Sedangkan Rey hanya diam saja dalam pelukan sang mommy, lidah anak rasanya engga untuk bertanya. Anak itu tidak sanggup mendengar suara mommy yang lemah.


“Loh kok tiba-tiba malah engga mau sekolah, ada apa sayang,” ujar Khanza lembut.


“Mommy sakit kan?” Queen malah bertanya, mendongak menatap wajah mommynya yang tampak terlihat pucat.


“Mommy hanya sedikit meriang sayang, paling siang mommy udah kembali sehat. Queen sekolah ya sayang, mom engga mau kalau salah satu anak mommy engga sekolah hanya gara-gara mau menemani mom.”


“Tapi Queen nda mau mom, Queen mau disini aja nemani mommy.” Rengeknya berbaring mengeratkan pelukan pada sang mommy.


“Queen mau mommy sehat kan nak?” Queen mengangguk dalam pelukan Khanza.


“Kalau princess mau mommy sehat, princess sekolah ya. Berangkat bareng sama abang-abang princess.” Khanza membujuk putrinya agar mau bersekolah.


Lagi-lagi Queen mengangguk, “Tapi janji mommy harus sehat kembali saat Queen pulang sekolah,” katanya. Sekarang Khanza yang mengangguk, lalu menghapus air mata dipipi sang putri.


“Mommy sakit apa?” Tanya Arcell.


“Kenapa mommy bisa sakit seperti ini,” ujar Arsen mengambil tempat duduk ditepian kasur sambil menatap wajah sang mommy.


“Kenapa mommy tidak dibawa ke rumah sakit dadd?” Arcell bertanya pada sang daddy yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Tanya mommy mu son. Apa mommy mu mau daddy bawa ke rumah sakit,” sahut Antonio.


Arcell beralih menatap sang mommy yang menggelengkan kepala.


“Sudah mommy katakan abang Arcell jangan khawatir. Mommy hanya sedikit meriang saja. Sekarang kalian berangkat ke sekolah ya.”


Huuh! Bian menghembuskan nafas lelahnya. Bagaimana tidak anak itu berlari mengejar Ghani. Tetapi Ghani malah tidak berada dikamar mommy.


“Bian kenapa lari-larian?” Tanya Antonio menatap keponakannya.


“Tidak papa dad, Bian hanya mengejar Ghani. Bian kira Ghani berada disini,” jawabnya.


“Kalian main kejar-kejaran,” selidik Arcell.


“Bukan bermain abang, lebih tepat Bian hanya mengejar Ghani. Karena sempat meng-“ Bian terdiam dan tak jadi mengatakannya. Jika dia melanjutkan perkataannya bisa-bisa Ghani dihukum oleh Arcell karena mengumpat dihadapan Raffa.


“Meng apa Ghani, kenapa kalimatnya tidak dilanjutkan,” ujar Arsen.


“Tidak apa-apa bang,” ucap Bian.


“Oh ya Bian, Raffa dimana! Apa kamu meninggalkan Raffa sendirian dimeja makan?” Tanya Arcell tak melihat keberadaan keponakannya.


“Tadi Raffa bersama kak Rhea, bang,” jawab Bian.


“Sudah hentikan percakapan kalian anak-anak. Saat kalian berangkat sekolah, jangan khawatir hari ini daddy tidak akan ke kantor dan akan menemani mommy di mansion,” tukas Antonio yang telah berpakaian santai.


“Princess daddy berangkat bareng abang-abang ya sayang,” ucap Antonio lembut pada princess.


Queen mengangguk, “Ayo abang kita berangkat sekolah, Queen mau cepat-cepat sekolah. Biar nanti pulangnya juga cepat,” ujarnya.


“Mommy, daddy, kita berangkat sekolah dulu. Dadd jagain mommy, jangan biarin mommy sendirian dikamar. Oke!” Pesan Arcell.


“Siap son, kamu juga harus jagain adik-adik kamu disekolah.”


“Tapi Princess beda sekolahan sama abang, dad. Jadi gimana, apa abang engga usah masuk sekolah aja hari ini dan jagain princess di sekolahannya,” ujar Arcell.


“Tidak son, kamu tetap sekolah. Queen akan dijaga sama paman Alvaro dan Edward,” ucap Khanza.


“Baiklah mom.”


“Disekolah yang harus kamu jagain dan awasi adik kamu Rey.” Arcell mengangguk.


Mereka segera berpamitan dengan menyalami mommy dan daddy.


****


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓