My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Season 2. 60



Khanza sekarang sedang memikirkan bagaimana caranya agar Antonio memberikan ijin supaya dia bisa ke dapur memasak makanan kesukaan anak-anaknya.


“Honey ada yang kamu pikirkan? Sedari tadi mas perhatikan kamu banyak diam. Apa badan mu ada yang sakit, biar mas pijat,” ujar Antonio bertanya dan menawarkan untuk memijat istrinya.


Khanza menggeleng kepalanya, lalu melihat kearah lain dengan telunjuk di dagunya.


“Em, mas.” Panggilnya.


“Ada apa honey?”


“Mas bolehin aku ke dapur ya. Aku udah janji sama anak-anak buat masakin makanan kesukaan mereka saat pulang sekolah. Lagian aku udah sehat kok mas, beneran.” Khanza memelas, menatap sang suami yang berada disampingnya dengan laptop dipangkuan dan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya.


“Wajah kamu masih keliatan pucat honey. Biarkan bibi saja yang memasakan makanan kesukaan anak-anak selama kamu masih sakit,” tukas Antonio.


“Mas, pleasee bolehin aku masak! Aku ngga mau loh kalau princess pulang ngeliat aku masih berbaring sakit begini, yang sebenarnya aku udah agak mendingan sekarang. Bolehin ya!” Khanza mendekati suaminya, lalu memeluk suaminya dari samping dan memberikan kecupan dipipi.


“Jangan mencoba merayu mas honey, itu tidak akan mempan,” kata Antonio menoleh kesamping bicara dengan bibir mereka saling dekat.


“Kamu menyebalkan mas.” Khanza beranjak dari ranjang, melangkah ingin keluar dari kamar. Tangan wanita itu sudah memegang ganggang pintu, tapi suara suaminya menghentikan tangannya yang akan membuka pintu.


“Mau kemana honey?” Tanya Antonio.


“Ke dapur mau masakin anak-anak. Aku engga perduli sama larangan mu mas, intinya anak-anak senang karena aku masakin makanan kesukaan mereka.”


“Buka saja pintunya kalau kamu bisa honey.”


Khanza menekan tangan diganggang pintu untuk membuka. Tetapi tidak bisa, karena pintu dikunci. Kunci pun tak ada di pintunya.


“Mas dimana kunci pintu, aku ingin keluar.” Serunya menatap garang suaminya.


Antonio malah tertawa melihat ekspresi wajah istrinya yang marah malah terlihat lucu baginya.


“Jangan tertawa mas, wajah mu terlihat jelek,” ejek Khanza kesal suaminya malah menertawakannya.


“Ejek lah mas sepuasmu honey, tapi jangan harap mas mengijinkan mu kedapur.”


“Kalau sudah begini, mas nio pasti sangat susah untuk dibujuk. Lagian kenapa mulut bisa berkata seperti itu sih. Sudah tahu suami mu tanpa, masa dikatain jelek. Mau wajah datar kek, tetap saja kelihatan tampan. Apalagi ini tertawa ya tambah tampan.” Batinnya.


“Kamu tidak lelah berdiri depan pintu honey?” Tanya Antonio.


“Mas please bolehin aku masak buat anak-anak,” kekeh Khanza terus membujuk suaminya.


“Kesini dulu honey,” seru Antonio meminta istrinya mendekat padanya.


Kini Khanza mengambil duduk diranjang sebelah kiri suaminya. Antonio melingkarkan tangannya dipinggang istrinya dan menarik hingga merapat padanya.


“Temani mas sampai meyelesaikan pekerjaan kantor ini. Baru nanti kita kebawah bersama,” ucap Antonio.


Khanza mengangguk saja menurutinya. Antonio fokus pada laptopny melanjutkan pekerjaan, tetapi tangan masih berada dipinggang istrinya bahkan berubah mengelus.


“Mas jangan aneh-aneh, tangannya jahil banger engga bisa diam.”


“Pengen honey,” ucap Antonio bukan mengerjakan pekerjaan malah menatap sang istri dengan mengedipkan matanya.


“Enggak ya mas, bentar lagi anak-anak pulang. Mending kamu cepat selesaikan pekerjaan mu biar kita lekas turun kebawah,” tolak Khanza.


“Kita main cepat,” rayu Antonio, masih membuat Khanza menggeleng tak mau.


“Ini siang loh mas.”


“Siang mengairahkan honey.” Perkataan Antonio hampir saja dihadiahi tempelengan dari Khanza.


“Malam aja ya mas,” tawar Khanza.


“Maunya sekarang honey, kalau malam beda lagi,” ujar Antonio.


Khanza berpikir sejenak, jika mereka terus begini yang ada dia tidak akan ke dapur sampai anak-anaknya pulang sekolah.


Antonio tersenyum penuh kemenangan. Pria itu pun menurup laptop dan membereskan dokumen-dokumennya, lalu meletakkan di atas nakas saja agar cepat.


Mereka pun melakukannya, apa yang Antonio mau sedari tadi...


...***...


Setelah tadi hampir ketiduran karena lelah melakukan hubungan dengan suaminya. Saat ini Khanza tengah berkutat didapur memasak makanan kesukaan anak-anaknya.


“Tidak perlu terburu-buru honey, masaklah dengan santai. Jangan sampai tangan terluka akibat terburu-buru seperti itu.” Antonio tiba-tiba sudah berada di belakang Khanza dengan pakaian santai. Setelah membersihkan badannya.


“Ini semua gara-gara kamu mas. Katanya main cepat, eh lama jadi lamakan,” dumel Khanza.


“Kamu kan sangat tahu jika kita sudah melakukan itu tidak akan sebentar honey,” sahut Antonio yang malah usil memeluk Khanza dari belakang.


“Mas udah ya, aku mau masak dengan tenang. Lebih baik kamu duduk dimeja makan biar aku buatin kamu kopi,” ucap Khanza.


“Beri mas kecupan agar mas melepaskan mu.”


‘Cup’ Tanpa membuang waktu Khanza membalikan badannya dan mencium seluruh wajah suaminya, tak lupa dengan bibir yang tidak boleh ketinggalan setiap kecupan yang diberikannya.


“Sudahkan! Sekarang mas nio yang tampan silahkan meninggalkan dapur dan biarkan istrimu memasak dengan tenang.” Antonio yang telah mendapatkan keinginan segera pergi untuk membiarkan istrinya memasak dengan tenang.


30 menit kemudian masakan Khanza telah matang dan bertepatan dengan suara mobil yang baru sampai. Khanza tahu jika itu pasti anak-anaknya yang pulang bersamaan. Karena tadi suaminya memberitahu jika Queen akan pergi kesekolahan abangnya untuk menunggu abangnya dan pulang bersama-sama.


Khanza menghidangkan masakannya diatas meja makan.


“Sudah selesai masaknya,” ujar Antonio yang tengah membalas pesan dari asisstennya.


“Iya mas,” sahut Khanza.


“Cepat sekali, perasaan tadi baru saja.”


“Karena tidak ada gangguan dari mas, makanya cepat.”


“Mommy Queen datang!” Teriak Queen berlari sambil menyerukan nama sang mommy.


“Princess jangan berteriak, nanti tenggorokan mu sakit dan jangan berlari, berjalanlah dengan pelan,” ujar Arcell memberitahu adiknya dengan berkata lembut.


Queen terus berlari tanpa memperdulikan abangnya. Gadis kecil berlari menuju dapur mencari keberadaan mommynya, gadis itu sudah sangat hapal dimana keberadaan mommynya saat dirinya sudah pulang sekolah. Jika mommynya tak berada disana, mommynya sudah menitipkan pesan pada paman Alvaro dan Edward. Antonio memang tidak membolehkan anak-anaknya untuk membawa handphone kesekolah. Kecuali mereka sudah SMP.


“Mommy!” Girang Queen saat melihat sang mommy berada di dapur. Gadis itu menghampiri mommynya dan memeluknya.


“Huuh! Queen senang liat mommy udah sehat,” katanya tersenyum senang.


“Iya sayang, mommy juga. Sekarang princess ganti baju ya sayang, lalu turun kita makan siang bersama.” Queen mengangguk dan melepaskan pelukan dari sang mommy. Sebelum benar-benar pergi, gadi itu memcium mommynya.


“Sepertinya hanya mommy saja yang mendapatkan ciuman dari princess, daddy tidak,” ujar Antonio berpura-pura merajuk.


“Siapa bilang hanya mommy, daddy juga akan mendapatkannya.” Queen segera mendekati daddy dan melakukan hal yang sama dilakukannya ke mommynya tadi.


Setelah anak-anak berganti baju, saat mereka makan siang bersama. Tidak ada pembicaraan, hanya suara sendok dan garpu yang berdenting.


****


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓