My Best Friend'S Daddy Is My Husband

My Best Friend'S Daddy Is My Husband
Episode 113



Di tempat lainnya, Aditya sedang mengendarai mobilnya menuju tempat Kirana. Beruntunglah dirinya sampa tepat pada waktunya, karena Kirana sedang mengunci pintu rumahnya, sepertinya ingin pergi. Melihatnya Aditya segera keluar dari mobilnya dan mendekati Kirana...


"Rana," panggil Aditya mengejutkan Kirana, sehingga wanita itu berbalik badan.


"Adit, kau mengejutkan ku," ujar Kirana.


"Ada apa kamu datang ke rumah ku pagi buta seperti ini?"


"Ikut aku," Aditya langsung menarik tangan Kirana tanpa menjelaskannya. Ia membuka pintu mobilnya dan memasukan Kirana dan dia mengelilingi mobiknya untuk masuk ke sebelahnya.


"Adit ada apa sebenarnya ini, kamu mau membawaku kemana?" tanya Kirana yang terlihat kesal dengan kelakuan Aditya yang menariknya masuk ke dalam mobil begitu saja.


"Tenanglah, saat kamu mengetahuinya. Aku pastikan kamu akan bahagia setelahnya. Pasang sabuk pengaman mu," ujar Aditya tersenyum menatap Kirana yang berada di sebelahnya.


"Jangan membuatku penasaran," balas Kirana melipat kedua tangannya, tanpa mau memasang sabuk pengamannya.


"Ayolah, Rana... Sekali ini saja aku minta kamu menurut, percaya saja padaku ini sesuatu yang sangat membahagiakan."


"Iya, tapi apa sesuatu itu."


"Oke, baiklah.. Aku akan memberitahu, sekarang pakai sabuk pengamannya dulu."


Aditya akhirnya mengalah, karena jika terus begini. Kapan perginya, Aditya sudah mengenal Kirana lama, bagai watak wanita itu yang sangat keras kepala dan tidak akan mengalah.


"Ayo, sekarang beritahu aku."


"Kita akan ke rumah sakit," singkat Aditya.


"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Adit?" tanya Kirana.


"Khanza baru saja melahirkan bayi kembar," beitah Aditya.


"Melahirkan,, wahh, apakah benar? Aku senang sekali mendengarnya. Apa bayi kembarnya perempuan semu atau laki-laki atau bahkan dua-duanya," Kirana berkata antusiasnya saat mendengar kabar bahagia ini. Entahlah, hatinya tiba-tiba merasa senang saja, terasa seperti dirinya yang memiliki cucu.


Aditya tersenyum mendengar keantusiasan wanita di sebelahnya. Tetapi bukan itu saja kabar bahagianya ada hal lainnya yang lebih membuat bahagia sangat, sangat, sangat, bahagia mengetahuinya.


"Ada kabar yang lebih membahagiakan lagi, Ran. Maka dari itu kita harus secepatnya sampai di rumah sakit."


"Apa kau membuat kejutan, sehingga hari ini kau memberikan kabar bahagia," cecar Kirana


"Yahh, bisa di bilang begitu sayang," ucap Aditya tanpa sadar mengatakan sayang.


Kirana yang berada di sebelahnya menjadi salah tingkah mendengarnya. Lalu mengalihkan pandangannya menata keluar jendela mobil, sedangkan Aditya yang sudah menyadarinya malah ikut terdiam. Dan sekarang di dalam mobil terjadi keheningan.


.


.


Dari kejauhan Satya melihat seorang suster berjalan menuju kearahnya, lebih tepatnya ke ruangan yang berada di hadapannya.


"Tunggu sebentar sus," cegah Satya ketika suster itu ingin membuka pintu ruang rawat.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyan suster.


"Begini sus, tuan saya yang berada di dalam sana belum keluar juga. Apa boleh saya ikut masuk untuk membangunkan boss saya," ujar Satya.


"Boleh saja, asalkan tidak membuat keributan, yang mengganggu pasien di dalam," kata suster.


Satya mengangguk dan masuk bersama suster, di dalam terlihat Antonio yang tertidur dengan menggenggam tangan Khanza, tanpa melepaskannya sedikitpun.


Dengan memberanikan diri Satya membangunkan dengan mengoyangkan lengan tuannya. Tetapi sebelum itu, Satya sudah melepaskan genggaman tangan tuannya dari tangan Khanza. Karena jika belum pastinya saat menggoyangkan tangan tuannya, tubuh nonanya akan ikut bergerak juga.


"Tuan, bangunlah ini sudah pagi," dengan pelan Satya bersuara.


Mendengar suara orang di sebelahnya dan juga merasakan goyangan di lengannya. Antonio perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya, sebelum membuka matanya dengan sempurna.


"Tuan, cepatlah bangun, sedari semalam anda belum mengisi perut," ucap Satya.


Suster yang mendengar ucapan lelaki yang ikut masuk bersamanya, tersanjung dengan kata-kata lelaki itu, yang begitu memperhatikan bossnya.


"Saya belum lapar Satya, jika kau ingin sarapan. Sarapan saja, tak usah menunggu saya," ujar Antonio.


"Tidak tuan, anda harus sarapan. Saya sudah sarapan terlebih dulu tadi, dan sekarang giliran anda. Orang suruhan saya sudah membawakan anda pakaian, segeralah mandi tuan, sebentar lagi nona Rhea akan kesini. Karna tadi pagi tuan Bagas menelpon saya, karna sedari semalam Rhea tidak bisa tidur memikirkan nona Khanza, bahkan ia menelpon tuan tetapi handphone tuan tidak aktif. Saya juga sudah memberitahunya, jadi tuan silahkan cepat mandi dan setelah itu sarapan, agar anda mempunyai tenaga untuk menjelaskannya," Satya menarik nafas setelah selesai berbicara panjang lebar.


"Fine, saya akan mandi. Tolong sarapannya antar ke ruangan ini saja, saya tidak mungkin meninggalkan istriku, dan nanti saya akan pergi ke ruang bayi untuk menjenguk putra saya," beritahu Antonio.


Antonio segera beranjak menuju kamar mandi yang tersedia di ruangan ini, kamar rawat Khanza memanglah besar dan fasilitasnya sangat lengkap.


Tak perlu di sebutkan karena kalian pasti sudah mengetahuinya sendiri.


Lalu Satya memilih keluar untuk delivery makanan buat bossnya. Setelah itu baru dia akan berangkat ke kantor, untuk menghandle pekerjaan bossnya selama tidak ke kantor.


****


Follow ig aku yuk guys : @antiloversn


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓